"Fajar? Neil? Di sini juga?"
Fajar kira siapa, ternyata Nizam—teman sejawatnya. Tunggu. Ada yang beda dengan pria itu. Mata Fajar tersulih pada sosok berhijab di sebelahnya. Patin nyengir jenaka.
"Halo, Dok," sapa Patin.
"Atin!" Ganti Neil yang menyapa. Atin alias Aunty Patin itu panggilan kesayangan Ganendra dan Tian—yang kemudian diikuti Neil. Patin melambaikan tangan—menyambut sapaan si bocah. "Atin sama siapa?" tanya Neil.
"Mmm ..." Patin melirik Nizam.
"Itu Om Nizam," jelas Fajar, mewakili. "Teman Ayah, Mama, dan Atin."
"Ooh ..." Neil manggut-manggut, mulutnya penuh dengan kunyahan telur gulung, buat pipinya makin terlihat chubby. "Om Nizam teman sekolah Ayah, Mama, sama Atin? Om Nizam dapat bintang berapa?"
Fajar menggersah, anaknya emang agak laen semenjak jadi muridnya Aksa alias adik iparnya. "Bukan teman sekolah, Bang. Tapi teman kerja. Om Nizam ini dokter, kalau Atin suster."
"Kalau Abang nanti mau jadi astronot," kata Neil.
Memancing tawa orang-orang di sekitarnya.
Sebelum Patin menyambar. "Kenapa mau jadi astronot? Memangnya Neil nggak pengin kayak Ayah aja?"
"Nggak, ah. Ayah kerjanya lama. Neil mau jadi astronot aja, biar bisa ajak Mama sama Adek terbang ke angkasa," balas Neil.
"Ayah nggak diajak?" sela Lintang.
"Kan Ayah kerja, nggak bisa ikut terbang," timpal Neil.
"Ada-ada aja," geleng Lintang, geli. Fokusnya dikembalikan ke Patin dan Nizam. Tapi duo sejoli itu buru-buru pamit. Lintang dan Fajar mempersilakan. "Mereka ada something ya, Mas?" Fajar mengedikkan bahu. "Memangnya Dokter Nizam nggak pernah cerita?"
Fajar menggeleng. "Semenjak mantan tunangannya meninggal, Nizam nggak pernah deket perempuan manapun. Tapi kayaknya dia tertarik sama Patin."
"Keliatan nggak sih, Mas?" balik Lintang, menatap Patin yang berdiri tidak jauh dari bianglala. Berpose—dengan Nizam yang memotretnya.
Kepala Fajar mengangguk setuju, arah pandangnya tertuju pada duo sejoli di ujung sana. "Patin bukannya lagi deket sama apoteker itu ya?"
"Yang mana?" Lintang menoleh.
Pun Fajar. Tatapan keduanya saling beradu. "Yang waktu itu dateng ke nikahan kita."
"Ooh, Sakti?" tebak Lintang.
Fajar mengedikkan bahu. "Saya nggak tahu namanya."
"Iya sih, sempet deket. Tapi 'kan mereka beda agama," ujar Lintang.
"Mama!" panggil Neil, menginterupsi obrolan. Disambut Lintang dengan tatapan ada apa. Neil berangsur turun dari kursi. "Mau naik bianglala," kata Neil.
"Tadi bilangnya mau coba komedi putar?" ingatkan Lintang.
"Naik bianglala saja, sama Mama, sama Ayah."
Kemudian setelah membayar telur gulung dan siomay, mereka menjajal wahana bianglala. Ketiganya memasuki salah satu kabin. Neil duduk di pangkuan Lintang. Dan tak lama waktu berselang, wahana yang juga dikenal sebagai kincir ria atau ferris wheel itu perlahan berputar.
Neil tampak riang. "Yeay!"
"Abang tahu, kata bianglala itu sebenarnya diartikan dengan pelangi," ujar Lintang, memancing perhatian Neil yang seketika menoleh—menatap sang ibu sambung.
"Hm?" Kening Neil berkerut bingung. "Tapi nggak ada pelanginya, Ma."
"Maksud Mama, kincir raksasa berwarna-warni ini terinspirasi dari kata pelangi," terang Lintang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Slow Burn [Completed]
RomantizmMUNTAZ SERIES [2] - SLOW BURN WARNING ⚠️ MENGANDUNG ADEGAN 21+ Renjana Lintang Muntaz akhirnya menerima lamaran Fajar Antariksa Rahardja. Bukan karena jatuh cinta, tapi karena ingin memberi hatinya kesempatan untuk pulih. Sebelumnya, ada Langit Bumi...
![Slow Burn [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/377825013-64-k882403.jpg)