Fajar turun lebih dulu, mengundang kekhawatiran Lintang. Wanita itu segera menyusul, tapi kemudian ia bukakan pintu belakang untuk Neil, dibantunya anak itu turun. Mata Lintang tersulih pada Fajar yang melenggang menuju rumah sebelah—rumah Ibu dan Bapak.
"Abang," panggil Lintang, meraih kedua bahu Neil seraya membungkuk—menatap si bocah. "Abang masuk dulu ya? Mama dan Ayah ada perlu sama Nevi." Neil mengangguk patuh. "Good boy," pujinya, kembali menegakkan tubuh. Dan setelah putra sambungnya menghilang dari pandangan, Lintang bergegas menyusul suaminya.
Suara lembut Ibu menyambut kehadirannya.
"Itu masmu kenapa, Mbak Lin?" tanya Selvi.
"Mas Fajar mana, Bu?" Alih-alih menjawab, Lintang balik bertanya.
Selvi menoleh ke satu ruangan lalu kembali menatap Lintang. "Ke ruang kerja Bapak," katanya. "Ada apa?"
"Bu ...," gumam Lintang, ragu. Meski statusnya sebagai istri Fajar, tetapi Lintang tidak bisa seenaknya menembus segala sisi rahasia Fajar tanpa permisi. Maka membiarkan satu per satu fakta muncul adalah pilihan paling bijak. "Barusan kami—aku, Mas Fajar, dan Neil—ketemu Mbak Maura," ungkapnya jujur.
Memancing keterkejutan di wajah Selvi.
"Dia pengin ketemu Neil," lanjut Lintang, meraih telapak tangan ibu mertuanya untuk digenggam. "Di sini, walaupun aku berusaha menyamarkan peran ibu di hidup Neil, tapi aku tetap harus memberi kesempatan untuk ibu kandung Neil." Bibir Selvi tertarik masam—nampaknya tidak suka. "Bu ..."
"Mbak Lin," potong Selvi. Salah satu tangannya terulur—mengusap lembut pipi Lintang. "Apa yang Mbak Lin lakukan memang sudah benar, tapi dari lubuk hati Ibu yang paling dalam, Ibu nggak rela."
"Bu—"
"Maura yang ninggalin Mas Fajar, Mbak Lin." Kepala Selvi menggeleng penuh emosi. "Dia nyia-nyiain anak Ibu demi laki-laki lain. Dan sekarang ... setelah Mas Fajar buka hatinya untuk Mbak Lin, bahkan Neil juga udah sayang sama Mbak Lin, dia datang dan minta diperkenalkan sebagai ibunya?" Mendecih muak. "Tolong ini yang terakhir ya, Mbak Lin. Ibu mohon."
Lintang tidak bisa memutuskan.
Neil bukan miliknya, meski ia sangat menyayangi anak itu.
"Oh iya ... terus, apa hubungan Maura sama bapaknya Mas Fajar, Mbak Lin?" Selvi teringat sesuatu.
Deg.
Harus dengan kalimat apa Lintang menjelaskan perihal ibu kandung Fajar—yang ternyata lebih dulu mengenal Maura? Malah wanita paruh baya itu sendiri yang meminta mantan istri Fajar untuk menjadi istri pria itu. Lintang menggersah. Ia terbiasa hidup di lingkungan yang hangat dan terbuka. Oleh sebab itu, ia mendadak serba salah saat ditempatkan di situasi ini.
"Mbak Lin?" tegur Selvi, menyadarkan Lintang dari kebingungan.
"AKU NGGAK PERNAH SEMARAH INI SAMA BAPAK!" Teriakkan itu menyita perhatian Lintang dan Selvi. Bergegas keduanya mendekat ke sumber suara—tepatnya di depan pintu ruang kerja Bagas yang terbuka lebar.
Di dalam sana, ada Fajar dan si Bapak yang berdiri berhadapan.
"Aku pikir aku diadopsi karena Ibu dan Bapak pengin punya anak, tapi—" Jeda, bisa Lintang liat delikan shock di sepasang mata Selvi, "—aku anak kandung Bapak, 'kan? Dan Ibu Khatryn yang waktu itu jenguk Bunda dan Ayah ... selingkuhan Bapak!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Slow Burn [Completed]
Storie d'amoreMUNTAZ SERIES [2] - SLOW BURN WARNING ⚠️ MENGANDUNG ADEGAN 21+ Renjana Lintang Muntaz akhirnya menerima lamaran Fajar Antariksa Rahardja. Bukan karena jatuh cinta, tapi karena ingin memberi hatinya kesempatan untuk pulih. Sebelumnya, ada Langit Bumi...
![Slow Burn [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/377825013-64-k882403.jpg)