Lintang sudah selesai bertugas. Seperti biasa, ia kirim sebuah pesan ke nomor suaminya untuk memastikan. Mas, aku udah kelar. Mas pulang jam berapa? Tapi hampir lima belas menit berlalu, pesan balasan tidak juga diterima. Apa mungkin suaminya sibuk? Lintang mengesah, kedua bahunya terangkat. Sebaiknya dia pulang dulu. Padahal kalau mereka pulang bareng, rencananya Lintang ingin membahas soal wanita paruh baya yang katanya bernama Khatryn Khartyn itu, sekalian minta maaf karena tadi dia kabur gitu aja. Tapi ....
"Nungguin Mas Fajar ya, Cik?" Suara Mahira menyita perhatian Lintang.
Wanita itu tidak menjawab, ia simpan ponselnya ke dalam tas.
Selagi Mahira melanjutkan, "Mas Fajar lagi nanganin mantan istrinya."
Kembali menatap Mahira dengan ekspresi shock. Maura ... maksudnya? Ada apa ini, Tuhan? Kenapa tiba-tiba suaminya dikelilingi perempuan? Dan ... oh, apakah ibu-ibu tadi ada kaitannya dengan Maura? Tapi, kenapa suaminya tidak mengenali?
"Sorry ya, Cik, bukannya gue ikut campur atau cemburu sama lo. Well, gue akui, gue emang tertarik sama Mas Fajar dari lama, makanya gue kecewa waktu tahu dia married sama lo, padahal lo tahu gimana perasaan gue ke dia. But I dont care our relationship anymore. What you needed remember is that it's impossible for someone just had their heart broken to heal right away."
Entah kenapa, tapi setiap kalimat yang keluar dari bibir Mahira, selalu bisa menyentil logikanya.
"Hubungan Mas Fajar dan Maura, lebih lama dari waktu Mas Fajar jatuh cinta sama lo, Cik. Karena gue yakin, hubungan kalian kurang dari setahun," ujar Mahira, penuh keyakinan. "Dan sekarang Maura dateng. Nggak mungkin dia dateng untuk nyembuhin fisik aja. Pasti Neil akan tahu siapa mamanya dan—"
"Mahira," sebut Lintang, memotong ucapan Mahira, "lo cuma orang lain, sorry. Jadi, ada baiknya tahu diri." Setelahnya, pergi.
Lintang pulang dengan jasa taksi online.
Selama perjalanan, ia tidak berhenti menitikkan air mata. Lintang menunduk. Ia tidak mengerti akan situasi ini. Seperti ada yang salah, tapi hatinya membenarkan apa yang ia rasakan. Semacam perasaan cemburu, tapi ... ego seolah mengelak. Entahlah. Ini belum ada duapuluh empat jam—pasca kehadiran wanita bernama Khatryn, lalu tadi Mahira bilang; Mas Fajar-nya sedang menangani ibu kandung Neil.
C'mon, Lintang!
Kalau memang Maura sedang sakit dan dirawat di rumah sakit ini, bukankah itu wajar?
Dan seandainya benar Fajar yang menangani, bukankah itu juga wajar?
Lantas, apa yang ia debatkan di dalam hati?
Membuang napas, dihapusnya air mata yang membasahi wajah lalu ia pusatkan atensinya ke depan. Jalanan ibukota di malam hari, terasa lebih damai dibanding tadi pagi saat ia mengantar sang jagoan ke sekolah. Oh, bicara soal Neil, Lintang hampir lupa kalau tadi anaknya pesan martabak.
"Pak," panggil Lintang.
Si sopir menengok begitu mobil yang dikemudikan berhenti di lampu merah. "Ya, Mbak?"
"Tolong mampir ke indomaret depan ya? Ada yang mau saya beli soalnya," pintang Lintang.
"Baik, Mbak," angguk si sopir.
Kemudian mobil berhenti di pelataran indomaret. Lintang segera turun untuk membeli martabak. Ia pesan dua bungkus martabak dan sembari menunggu, ia sempatkan diri untuk membuka WhatsApp. Tidak ada balasan dari Fajar. Yang ada justru pesan dari Ibu Selvi—mertuanya.
Ibu Selvi:
Mbak Lin, sudah pulang?
Ibu sama Bapak nginep di rumah Mbak Lin ya
Nemenin Ayah dan Bunda yg nginep sini juga
KAMU SEDANG MEMBACA
Slow Burn [Completed]
RomanceMUNTAZ SERIES [2] - SLOW BURN WARNING ⚠️ MENGANDUNG ADEGAN 21+ Renjana Lintang Muntaz akhirnya menerima lamaran Fajar Antariksa Rahardja. Bukan karena jatuh cinta, tapi karena ingin memberi hatinya kesempatan untuk pulih. Sebelumnya, ada Langit Bumi...
![Slow Burn [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/377825013-64-k882403.jpg)