25 : The Unspoken

2.9K 222 3
                                        

Tepat satu minggu sejak pertemuannya dengan Maura sore itu, hati Lintang terus diliputi dilema. Antara takut suaminya berpaling—dengan alibi anak, dan takut Neil mulai menjauh darinya. Meski ia sadar, Neil bukan miliknya. Tapi ...

"Lin," suara Papi, menyadarkan Lintang dari lamunan. Sepulang dari rumah sakit tadi, ia memang mampir ke rumah pondok indah karena Neil ada di sini. Dan sekarang bocahnya lagi sibuk main sama Om Aksa. "Papi perhatiin dari tadi, kamu kayak lagi mikirin sesuatu. Kenapa?" tanya Harry, duduk di samping yang dengan manja menghambur memeluk papinya dari sisi. Harry tersenyum geli. "Ini kalau Fajar liat, cemburu nggak?"

"Nggak lah." Lintang mendongak menatap si Papi.

"Kamu lagi mikirin apa, hm? Mau cerita ke Papi?" pancing Harry.

"Papi tahu nggak, kalau Mas Fajar pernah tinggal di panti asuhan?" balik Lintang, kepalanya disandarkan ke dada si Papi.

"Nggak tuh. Papi malah baru tahu dari kamu," timpal Harry.

"Mami nggak pernah cerita soal Mas Fajar ya?" gumam Lintang.

"Lin ..." Tangan Harry mengusap lembut surai hitam anak keduanya. "Nggak semua hal tentang Fajar harus kami tahu," tutur Harry. "Dan kalaupun dia pernah tinggal di panti asuhan, apa itu bakal mengubah pandangan Papi tentang suamimu?" Lintang mengangkat pandangan. "Seperti yang Papi katakan waktu Fajar meminang kamu untuk menjadi istrinya; yang berhak memutuskan adalah kamu. Tugas Mami dan Papi cukup memberi restu dan selalu mendoakan yang terbaik untuk rumah tangga kalian. Urusan nanti akan ada konflik A atau B di dongeng kalian, itu bagian dari perjalanan yang harus kalian lewati dan hadapi bersama. Jadi, apa yang bikin kamu semurung sekarang?"

Lintang menegakkan tubuh.

Berbanding terbalik dengan kisah hidup Fajar yang rumit, Lintang justru ditempatkan Tuhan ditengah-tengah keluarga yang hangat, harmonis, dan selalu terbuka satu sama lain. Maka tak heran jika ia tidak bisa semudah itu beradaptasi dengan keluarga Fajar yang ... membingungkan.

"Aku sebenernya nggak masalah kalau Mas Fajar pernah tinggal di panti. Kan setiap orang punya cerita masing-masing. Tapi yang bikin aku galau—" Iris beningnya menatap wajah penasaran papinya, "—ibu kandung Mas Fajar kayaknya nggak suka sama aku deh, Pi. Terus baru-baru ini mantan istri Mas Fajar muncul lagi."

"Memangnya kamu tahu ibu kandung suamimu?" tanya Harry, mengerutkan alis.

Kepala Lintang mengangguk pelan. "Gimana ya, Pi, ngejelasinnya?" Lolos desauan dari bibir Lintang. "Intinya gini ... Ibu Selvi dan Bapak Bagas itu katanya orang tua angkat Mas Fajar, sementara Bunda Yessi dan Ayah Amar yang waktu itu kecelakaan, katanya orang tua Mas Fajar di panti."

"Loh, bukannya Yessi itu adiknya Bagas?" potong Harry.

"Hm?" Lintang menautkan sepasang alis tebalnya.

"Papi nggak terlalu paham sisilah keluarga mertuamu, tapi kata Mami, Yessi yang waktu itu masuk rumah sakit itu adik kandungnya Bagas—ayah mertuamu," ungkap Harry. "Dan seinget Papi, Mami pernah cerita kalau adiknya Bagas punya panti asuhan." Lintang tidak merespons, ia simak setiap kalimat yang keluar dari mulut Papi. "Terus, kamu tahu ibu kandungnya Fajar dari siapa?" ulang Papi kemudian.

"Papi inget Ibu Khatryn yang waktu itu jenguk Bunda dan Ayah, 'kan?" Harry mengangguk ragu. "Ternyata beliau ibu kandungnya Mas Fajar," bebernya, diikuti helaan napas berat. "But I can't explain it in detail, because the story is very long."

"It's okay, Sweetheart," balas Harry, mengecup puncak kepala sang putri.

"Apa karena aku nggak mengenal Mas Fajar lebih lama ya, Pi, makanya aku jadi lebih sering overthinking sekarang-sekarang ini," gumam Lintang, putus asa.

Slow Burn [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang