"Maksud Ibu apa?!" sembur Fajar ketika mendatangi kediaman Khatryn.
Yang didatangi terkesiap kaget. "Fajar?"
"Maksud Ibu apa—nyuruh Mahira jebak saya, terus Ibu kirim foto itu ke istri saya?!" sambung Fajar, mempertegas. Ia tidak peduli siapa sosok di depannya ini, sebab apa yang wanita itu lakukan benar-benar keterlaluan.
"Mama cuma ingin yang terbaik buat kamu. Itu saja," kata Khatryn.
"Terbaik?" ulang Fajar, mengulas senyum masam. Ia tidak pernah semarah ini—apalagi dengan orang tua kandung. Tapi belakangan ia jadi lebih emosional karena apa yang ia pikir baik-baik saja, nyatanya tidak demikian. "Ibu tidak pernah tahu apa yang terbaik buat saya, karena Ibu ..." Jeda, napasnya terhela gusar, "... tidak mengenal baik siapa saya!" tegasnya, penuh penekanan. "Ibu itu cuma orang egois yang maunya dipahami, tapi nggak pernah mencoba mengerti perasaan orang-orang."
Bibir Khatryn tertarik ke atas—memperlihatkan senyum getir. "Mama memang tidak merawat kamu, tapi cinta Mama ... selalu buat kamu!" tandas Khatryn, tersirat ketulusan di dalam suaranya. Fajar terperenyak. Suara dan tatapan itu ... "Fajar," sebut Khatryn kemudian, tatapannya lurus—menatap iris biji kopi milik sang matahari. "Kalau waktu bisa dihapus, Mama akan menghapus kesalahan Mama di masa lalu, tapi tidak dengan menjadi ibu kamu."
Fajar tidak membalas.
"Mama tahu Mama salah—sudah merusak rumah tangga orang, tapi ..." Air matanya menetes, "... Mama nggak tahu kalau bapakmu sudah menikah. Saat itu, bapakmu sedang dinas ke luar kota—tempat dimana Mama tinggal." Rehat, napasnya dihela lagi. Tatapannya kian lekat. Terselip luka dibalik netra wanita itu. "Dulu, kondisi ekonomi keluarga Mama benar-benar kacau setelah Kakek meninggal. Dan karena Mama nggak tega liat Nenek harus menghidupi Mama dan tiga adik Mama, akhirnya Mama pilih untuk berhenti sekolah." Jeda lagi. "Mama cuma tamatan SMP. Makanya Mama bingung harus kerja apa."
Entah ini benar atau tidak, tapi ... Fajar mulai tersentuh. Meski sorot yang ia pancarkan masih mengaburkan benci dan dendam. Wajar saja. Semalam, ia nyaris kehilangan calon anaknya.
"Awalnya, Mama kerja dari toko ke toko, tapi uangnya nggak pernah cukup untuk biaya hidup, karena Kakek meninggalkan sejumlah hutang yang harus dibayar. Sampai kemudian Mama diajak teman Mama yang juga putus sekolah—untuk menjadi penyanyi keliling. Dari situlah semua berawal. Waktu Mama menginjak umur duapuluh tahun—yang Mama pikir Mama sudah dewasa, karena sudah bisa cari uang sendiri. Jadi, tiap manggung, Mama mulai berani memakai pakaian yang lumayan terbuka."
Fajar menahan napas.
"Dari aksi nekat Mama itu lah, Mama mendapat banyak saweran, dan bisa melunasi hutang-hutang Kakek," imbuhnya dengan suara bergetar. "Terus nggak lama dari situ, Mama dikenalin sama bapakmu. Tapi Mama nggak tahu kalau Bapak sudah menikah. Mama cuma tahu, Bapak ke kota—tempat tinggal Mama—untuk ngerjain proyek. Dan pelan-pelan Mama mulai nyaman sama Bapak. Kami juga hampir menikah, tapi ...."
"Saya nggak perlu tahu masa lalu kalian," potong Fajar. Sejujurnya ia tidak sanggup mendengarnya. Jika memang faktanya begitu, bisa dibilang Ibu Khatryn juga korban. Tetapi masalahnya, apa yang dilakukan Ibu Khatryn belakangan ini juga tidak bisa dibenarkan. "Saya cuma minta sama Ibu untuk tidak mengusik rumah tangga saya lagi."
"Mama pengin kamu kembali sama Maura, supaya Neil bisa merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya," ujar Khatryn, mengusap sisa air mata di wajah.
Disambut Fajar dengan decihan muak. "Lintang—istri saya—jauh lebih baik dari ibu kandungnya Neil! Dan apa pun alasannya, saya nggak akan melepaskan Lintang—apalagi dia sedang mengandung anak saya. Permisi."
Setelahnya, pergi.
Tapi Fajar tidak langsung pulang, pria itu memilih mampir ke apartemen Bhumi—adiknya. Shit! Pemandangan tak senonoh Fajar dapatkan dari sang adik—yang kini tengah bertukar saliva dengan seorang perempuan. Keduanya duduk di sofa. Tangan Bhumi nyaris menyentuh bagian dada si perempuan—disela aktivitas panas mereka, kalau saja suara Fajar tidak menginterupsi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Slow Burn [Completed]
RomantikMUNTAZ SERIES [2] - SLOW BURN WARNING ⚠️ MENGANDUNG ADEGAN 21+ Renjana Lintang Muntaz akhirnya menerima lamaran Fajar Antariksa Rahardja. Bukan karena jatuh cinta, tapi karena ingin memberi hatinya kesempatan untuk pulih. Sebelumnya, ada Langit Bumi...
![Slow Burn [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/377825013-64-k882403.jpg)