"Mas ikut aja," pinta Lintang, yang membuat Fajar kontan terenyak. Tatapan matanya terarah pada iris bening Lintang yang berdiri di sebelahnya—yang sore ini tampak anggun dengan balutan blouse dan dipadu celana kain panjang. "Please," mohon wanita itu. "Kalau cuma aku, Neil, dan Mbak Maura, pasti kerasa banget canggungnya."
Napas Fajar terhela berat.
"Iya, Ayah ikut saja!" ujar Neil, ikut-ikutan.
Fajar mengalihkan fokus sejenak. Di gandengannya, Neil mendongak sambil memperlihatkan cengiran. Anak ini ... buah cintanya dengan Maura—yang tumbuh dalam dekapannya. Yang hanya mengenal dirinya. Yang mengira Ibu adalah peran dalam sebuah cerita. Sebab di dongengnya cuma ada Ayah.
"Mas?" Suara Lintang menyadarkan Fajar dari lamunan.
Pria itu mengembalikan tatapan. "Kamu ... nggak cemburu?"
"Ya enggak lah!" dengkus Lintang, dongkol.
Memancing tawa renyah Fajar. Ia sentil pucuk hidung istrinya itu. "Ya udah, kalau dibolehin, ayo!" Melihat kedua orang tuanya, Neil pun tersenyum lebar. Tepat ketika Fajar merangkul pinggang Lintang dan ketiganya melenggang menuju Rain Coffee. Disambut puluhan pasang mata yang dengan kompak mengarah pada mereka.
Fajar yang jarang tersenyum, akhir-akhir ini lebih banyak menyunggingkan senyum. Apalagi setiap melihat kedekatan Neil dan Lintang. Dongeng yang ia pikir akan berjalan hambar—yang hanya diisi sepasang ayah dan anak yang terluka, nyatanya disempurnakan Tuhan dengan kehadiran Lintang.
Perempuan yang usianya delapan tahun lebih muda darinya.
Yang kadang suka ngambekan dan overthinking. Tapi terlepas itu, Lintang adalah sosok yang hangat, lembut, dan penuh perhatian. Hanya saja, kadang tertutup oleh gengsi. Atau barangkali ... luka yang masih terendap di sudut hati.
"Aik!" Suara itu sangat familier di telinga Fajar.
Deg.
Praktis menghentikan langkah, perhatian mereka tersulih ke dua perempuan beda usia yang terlihat ribut di salah satu meja. Mata Fajar menatap lurus pada figur Maura yang tampak keibuan, berbeda saat masih dengannya. Apa itu artinya memang tidak ada dia di hati Maura—sejak dulu?
"Mami, Aik mana?" Anak perempuan yang Fajar perkirakan berusia sekitar dua tahunan, berjongkok di bawah meja sambil menutup mulutnya dengan bahu sedikit terangkat dan mata menyipit—geli. "Mami, Aik hiyang!"
Bola mata Maura berputar keki, diikuti helaan napas panjang. "Mami tahu Aik di bawah meja. Ayo, keluar!" titahnya, "Katanya Aik mau ketemu Abang?"
Abang?
Alis Fajar bertaut penuh tanya.
Selagi gadis cilik bernama Aik Aik itu menyembulkan kepala dan menjulurkan lidah. Maura mendengkus. Tangannya terulur. "Sini!" Aik meraih uluran tangan si Mami, lalu perlahan keluar dari kolong meja. "Kamu bisa nggak sih anteng kayak Mami?"
Aik beranjak duduk di samping Maura.
Segera Fajar mengajak istri dan anaknya menghampiri mereka.
"Mas?" Maura bangkit, menyambut kedatangan Fajar, Lintang, dan Neil.
Aik tidak mau kalah. Anak itu berangsur turun dari kursi sambil menceletuk, "Massss," tirunya lalu mendekati Neil dan berhenti di hadapan abang tirinya. Kepala si bayi mendongak, memperlihatkan cengiran lucunya.
Dan tanpa Fajar duga, Neil justru mengusap lembut rambut hitam Aik seraya menyapa, "Hai, Adek."
"Ya." Aik manggut-manggut, kemudian menuding Maura. "Tu. Mami."
KAMU SEDANG MEMBACA
Slow Burn [Completed]
RomanceMUNTAZ SERIES [2] - SLOW BURN WARNING ⚠️ MENGANDUNG ADEGAN 21+ Renjana Lintang Muntaz akhirnya menerima lamaran Fajar Antariksa Rahardja. Bukan karena jatuh cinta, tapi karena ingin memberi hatinya kesempatan untuk pulih. Sebelumnya, ada Langit Bumi...
![Slow Burn [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/377825013-64-k882403.jpg)