Ayo bantu rekomendasiin cerita ini ke yang lain!
HEHEHE
Happy reading and don't forget leave to your comments <3
Di depan ruang IGD, Lintang menemani Fajar yang tampak cemas sekaligus terluka. Ia tidak tahu, bagaimana kehidupan Fajar sewaktu kecil sampai-sampai lelaki itu dititipkan ke Panti Asuhan. Yang ia dengar dari cerita Mami, Fajar adalah cucu tertua keluarga Rahardja yang memiliki gelar dokter dan selalu jadi incaran teman-teman ibunya untuk dikenalkan ke anak perempuan mereka. Bahkan ketika Lintang dijodohkan dengan lelaki ini, ia sempat bertanya kepada Mami; kenapa harus dikenalin ke aku juga? Memangnya anak temen-temennya Tante Selvi nggak ada yang menarik? Lintang juga sempat berpikir; apa selera Fajar terlalu tinggi? Jika iya, seharusnya bukan Lintang jawabannya, tapi ...
"Mas," panggil Bumi, menarik perhatian Fajar dan Lintang. Omong-omong, tadi setelah mendapat kabar, Lintang langsung meminta Aksa untuk menjemput Neil dan membawa anak itu pulang ke rumah Mami. Dan kembali pada Bumi—lelaki seumuran Lintang yang berprofesi sebagai apoteker itu—memberi satu pelukan singkat untuk abangnya. Lintang otomatis menyingkir, membiarkan kakak beradik itu berbagi dekapan.
"Kamu dikabarin siapa kalau Ibu Yessi dan Bapak Amar kecelakaan?"
"I am at the scene," ungkap Bumi, membuat Fajar terkesiap. "Kebetulan, gue mau berangkat kerja, Mas. Terus ada kecelakaan. Dan setelah gue liat, ternyata—" Kalimat Bumi tidak selesai, lelaki itu menepuk-nepuk bahu abangnya seolah mencoba menguatkan, "I know they are your parents too. If I were in your current position, it will be tough to act like everything is okay. But, Mas, the best to do right now is to pray for them. Let's God will take its course."
"I know, you're right, but it's just so hard to accept," gumam Fajar.
Bumi menoleh pada Lintang yang balik menatapnya, lalu adik dari Fajar itu mengangguk dan setelahnya menyingkir—mempersilakan Lintang untuk kembali ke posisi semula.
"Bantuin saya doain Ibu dan Bapak ya?" pinta Fajar, lirih.
"Pasti, Mas." Lintang mengangguk, lantas ia giring suaminya duduk di kursi tunggu. Dibiarkannya lelaki itu bersandar di bahunya. Terdengar helaan napas berat dari Fajar. Buat Lintang kontan meringis samar. Ia tidak pernah menyangka akan menemui kejutan sebesar ini.
"Keluarga Ibu Yessi dan Bapak Amar," panggil seorang dokter.
Bergegas Fajar menegakkan tubuh lalu bangkit, menghampiri sang dokter. Lintang mengekor di belakang suaminya. "Bagaimana kondisi orang tua saya, Dok?" tanya Fajar, khawatir.
"Tenang saja, Pak. Orang tua Bapak baik-baik saja," ujar si dokter.
Memancing embusan napas lega Fajar.
Lintang menoleh menatap suaminya dengan senyum tipis, ia usap lengan kokoh lelaki itu.
"Apa mereka sudah bisa dijenguk?" tanya Fajar lagi.
Dokter itu mengangguk. "Silakan."
Kemudian telapak tangan Lintang digenggam oleh Fajar dan dibawa masuk ke ruang IGD untuk melihat kondisi Yessi dan Amar. Lelaki yang menghiasi netranya dengan kacamata itu menyunggingkan senyum tipis, setibanya di tengah-tengah brankar orang tua pertamanya—begitu ia buka tirai yang menjadi pembatas.
Lintang mengangguk kecil, bibirnya melengkungkan senyum tipis, menyapa Yessi dan Amar.
"Ini istrimu, Jar?" tanya Yessi, yang duduk bersandar pada tumpukan bantal.
Fajar melirik Lintang, senyum di bibirnya kian mengembang sebelum ia anggukkan kepala membenarkan. "Iya, Bun."
"Cantik," puji Yessi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Slow Burn [Completed]
RomanceMUNTAZ SERIES [2] - SLOW BURN WARNING ⚠️ MENGANDUNG ADEGAN 21+ Renjana Lintang Muntaz akhirnya menerima lamaran Fajar Antariksa Rahardja. Bukan karena jatuh cinta, tapi karena ingin memberi hatinya kesempatan untuk pulih. Sebelumnya, ada Langit Bumi...
![Slow Burn [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/377825013-64-k882403.jpg)