29 : The Spy

3.6K 209 8
                                        

Yang tadi di IG pengin ketemu Mbak Uwi, sini maju!

HAHAHAHA

Selamat membaca :)













Terdengar bunyi derit yang dihasilkan pintu ketika ia berbaring dengan posisi menyamping—membelakangi arah pintu kamar. Tanpa menengok, Lintang sudah tahu siapa yang datang. Sebab suara barithon yang kemudian menyapa membuat Lintang yakin seribu persen. "Saya mandi dulu ya. Nanti kita bicara." Ia tidak menjawab, membiarkan Fajar melakukan aktivitas di sekitarnya, hingga tiba-tiba keningnya dikecup dengan lembut lalu perlahan kegaduhan di sekeliling tidak lagi terdengar.

Lintang menoleh ke arah pintu kamar mandi dalam. Tertutup rapat. Ia segera bangkit, berangsur turun, kakinya diayun keluar untuk menyiapkan makan malam untuk Fajar. Namun, suara Mbak Uwi—salah seorang ART di rumah ini—berhasil membuatnya terperenyak. Ia hentikan langkah di balik pintu dapur, indra pendengarnya dipertajam.

"Maaf, Bu, saya sudah tidak bisa membantu Ibu lagi."

Ibu?

Ibu ... siapa?

Apa mungkin Ibu Selvi?

"Saya akan mengembalikan sisa uang yang Ibu transfer ke saya, tapi—" Lintang menggeser pandangan agar bisa melihat Mbak Uwi dengan jelas, "—tolong jangan paksa saya untuk melakukan hal bodoh lagi."

Hal bodoh?

Lintang semakin bingung.

Apa maksudnya?

"Nggak bisa, Bu. Lagi pula, Mbak Lintang nggak seburuk apa yang sempat Ibu tuduhkan. Dan nggak mungkin saya bertindak gila seperti rencana Ibu," lanjut Mbak Uwi tegas. "Oh satu lagi, saya sudah mengirim hadiah ke Mas Fajar—atas nama Mbak Maura, tapi maaf, hadiahnya nggak sesuai dengan permintaan Ibu."

Hadiah?

Astaga! Ia betul-betul dibuat gila sekarang!

Apa yang sebenarnya terjadi?

Siapa Mbak Uwi—yang satu bulan lalu datang dan mengaku butuh pekerjaan?

Kepala Lintang menggeleng tak percaya. Apa yang barusan ia dengar berhasil mengguncang batinnya. Padahal babak baru sedang dimulai—dimana di dalam tubuhnya telah tumbuh detak lain yang akan menyempurnakan keluarga kecilnya, tapi dengan tega, orang-orang yang ia percaya justru berencana meruntuhkan serpihan harap yang ia rangkai.

"Terserah Ibu. Saya nggak peduli. Saya—" Kalimat Mbak Uwi terinterupsi oleh raut kaget begitu menyadari Lintang berdiri di ambang pintu. Lintang menempelkan jari telunjuk di depan bibir—memberi isyarat pada Mbak Uwi agar tidak menyebut namanya. Mbak Uwi mengangguk paham. Sedetik kemudian Lintang mendekat, ia ulurkan tangan—meminta ponsel Mbak Uwi lantas ia tempelkan ke telinga.

"Saya apa, Uwi?! Kamu jangan seenaknya! Kamu bisa kerja di rumah anak saya itu karena saya! Kalau waktu itu kamu nggak ketemu saya, saya yakin kamu sudah jadi gelandangan! Karrna itu, apa pun alasannya, kamu harus ada di pihak saya!"

Sudut mata Lintang melirik Mbak Uwi yang seketika menunduk.

Tidak ia sangka, ternyata Mbak Uwi komplotan ibu kandung Mas Fajar. Menyadari itu, dada Lintang terasa sesak. Ia sentuh perutnya yang mendadak tidak enak. Astaga.

Slow Burn [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang