"Fajar?"
Merasa terpanggil, Fajar menoleh lalu mengerutkan kening kala mendapati wanita paruh baya berdiri tepat di hadapannya. "Ya, saya sendiri," sahut Fajar setelahnya seraya bangkit, diikuti Lintang yang tersenyum sopan kepada wanita paruh baya tersebut. "Maaf, Ibu siapa ya?"
"Oh, saya Khatryn, teman dari bundamu," ujar si wanita.
Teman Bunda?
Kok, sampai sini?
"Teman Bunda?" ulang Fajar, mencoba tenang.
"Betul," angguk si wanita. "Kebetulan sekarang saya tinggal di sini dan rencanaya bundamu mau singgah ke rumah saya dulu. Tapi yang namanya musibah nggak ada yang tahu," lanjutnya dengan wajah sendu. "Oh ya, pasti kamu bingung ya, kenapa saya bisa ada di sini?" Fajar mengangguk saja. "Tadi saya ditelepon pihak rumah sakit."
"Tapi maaf, Bu," potong Fajar. "Ibu tahu dari mana kalau saya anak Bunda? I mean, bagaimana Ibu bisa mengenali wajah saya? Apa Bunda pernah cerita?"
"Bundamu sering cerita ke saya kalau anaknya ada yang jadi dokter, terus nikah sama pramugari," kata si wanita, antusias. Buat Fajar kontan diserang panik. Ia tolehkan kepala, istrinya tampak menunduk. Yang ibu itu maksud adalah Maura. Fajar menghela napas, digapainya telapak tangan Lintang untuk digenggam, kemudian ia kembalikan tatapan ke arah Khatryn. "Kapanan itu bundamu juga pernah kirim foto Neil ke Tante."
Panggilan berubah.
Wanita itu bersikap seolah-olah mereka sudah akrab.
"Ganteng ya anakmu? Pasti Mama cantik," puji Khatryn.
"Mas, aku ke toilet bentar ya?" pamit Lintang lalu enyah, melepas genggaman Fajar yang kini terbuka lebar. Kosong itu kembali terasa. Fajar mengalihkan tatapan ke depan. Khatryn masih memperlihatkan senyum.
"Oh ya, saya boleh jenguk bundamu?" izin Khatryn.
"Silakan," ujar Fajar.
Entah siapa yang mengirim ibu-ibu satu itu, tapi yang jelas, Fajar tidak suka dengan caranya sok akrab—apalagi mengabaikan Lintang seperti tadi. Ah, yang paling menjengkelkan ketika si ibu-ibu itu menyinggung soal Maura. Tapi, tunggu ... apa mungkin Bunda menceritakan soal rumah tangganya dulu pada orang lain? Ck, yang benar saja!
Ia rasa Bunda bukan tipe ibu-ibu julid.
"Fajar!" Suara yang sangat familier di telinga, menyita perhatian Fajar.
Kedua orang tua angkatnya—Ibu dan Bapak, serta mertuanya—Mami dan Papi—muncul bersamaan. Ia sambut mereka dengan senyum tipis, lalu ia salimi mereka satu per satu.
"Gimana kondisi ayah dan bundamu, Mas?" tanya Selvi, khawatir.
"Bunda lagi dijenguk temennya," ujar Fajar.
Menciptakan kerutan di dahi Selvi. "Temen?"
"Hu-um," angguk Fajar. "Katanya tadi beliau ditelepon rumah sakit, makanya beliau ke sini."
"Kok, kamu gampang percaya, Mas, kalau itu temennya bundamu?" cecar Bagas.
"Iya, Mas." Selvi mengangguk sependapat. "Mbok diselidiki dulu. Kebiasaan deh."
"Beliau cerita banyak soal—"
"Udah, udah," potong Selvi, menoleh pada Risa. "Ris, mau jenguk duluan nggak?"
"Kamu sama Mas Bagas dulu, Vi. Nanti aku sama papinya Lintang nyusul," balas Risa.
"Ya sudah. Aku izin masuk dulu ya?"
Setelah dipersilakan, Selvi dan Bagas masuk ke ruang IGD sementara Fajar pamit ke toilet untuk menyusul Lintang. Tentu saja tidak seenaknya masuk begitu saja. Fajar berhenti di dekat tangga lalu mendial nomor Lintang, tapi yang menjawab suara operator. Fajar berdecak. Percuma diulangi, nomornya tidak aktif.
KAMU SEDANG MEMBACA
Slow Burn [Completed]
RomanceMUNTAZ SERIES [2] - SLOW BURN WARNING ⚠️ MENGANDUNG ADEGAN 21+ Renjana Lintang Muntaz akhirnya menerima lamaran Fajar Antariksa Rahardja. Bukan karena jatuh cinta, tapi karena ingin memberi hatinya kesempatan untuk pulih. Sebelumnya, ada Langit Bumi...
![Slow Burn [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/377825013-64-k882403.jpg)