Apa yang ia dengar tadi pagi masih enggan ia percayai. Meski sekeras apa pun logikanya menolak, kebenaran tidak bisa dielak. Lintang menghela napas, atensinya disulihkan ke arah pintu kamar mandi yang baru saja terbuka lebar—menampilkan sosok Fajar. Lelah yang sempat hinggap di wajah itu telah memudar. Auranya terlihat lebih segar. Menerbitkan senyum di bibir Lintang yang berdiri di dekat lemari sambil menggendong Neil yang sesenggukkan.
Gara-gara nggak diajak Om Ari alias asisten ayah Lintang, bocah berpipi chubby itu ngamuk. Sebenarnya yang bikin Neil kesal bukan karena nggak diajak, tapi ocehan Aksa—alias adik Lintang yang bikin bocah TK itu emosi. Dan ujung-ujungnya dia cuma bisa nangis, sementara Aksa pergi gitu aja.
"Mas Fajar capek nggak?" tanya Lintang, begitu Fajar mendekat.
Bibir Fajar mendarat di pipi chubby Neil—mencium sang jagoan lalu beralih mengecup kening Lintang sebelum iris biji kopinya tertuju pada wanita itu. "Mau pijitin saya, hm?" Lintang mendengkus. "Boleh," lanjut Fajar, merendahkan tubuh—mensejajari telinga Lintang untuk berbisik. "Tapi plus-plus ya?"
"Ish!" Lintang gebuk lengan suaminya itu dengan gemas.
"Kok marah sih?" sungut Fajar, mengusap bekas gebukan Lintang.
"Ya abisnya ..." Memutar bola mata, sudut mata Lintang melirik si anak sambung yang bersandar di sebelah pundaknya kemudian kembali menatap Fajar—yang ajek menatapnya. "Aku nanya Mas capek atau enggak, karena aku mau ajak Mas dan Neil pergi. Tapi motoran aja. Gimana?"
Fokus Fajar dilempar ke Neil. "Abang mau?"
"Mau," angguk Neil disela isakan.
Setelahnya mereka turun ke lantai bawah. Ada Yessi dan Amar di sofa ruang tengah. Wanita yang Fajar panggil dengan sebutan Bunda itu tampak khusyuk dengan sinetron yang dibintangi oleh Natasha Willona sementara Amar sibuk dengan koran di tangan. Lintang membiarkan Fajar mendahuluinya menyalimi Yessi dan Amar bergantian. Ia amati gerak-gerik suaminya, juga reaksi kedua mertuanya.
Terkenang lagi momen tadi pagi—dimana rungunya mendengar obrolan antara Selvi dan Bagas. Ah, bukan obrolan sebenarnya. Percakapan orang tua dari suaminya itu cenderung seperti perdebatan. Ditambah topik yang mereka bahas menyangkut luka di masa lalu.
Sebetulnya ada apa dengan keluarga Fajar?
Jika dilihat dengan saksama, mereka terlihat akur-akur saja. Malah sangat harmonis, seperti keluarga Lintang. Tapi ternyata ....
"Take care ya," ujar Yessi.
"Iya, Bun, Yah," angguk Lintang, usai menyalimi keduanya.
Lantas, ia beserta anak dan suaminya melenggang menuju garasi. Mengambil motor matic-nya di sana. Motor yang ia beli sewaktu kuliah di Yogyakarta. Yang sampai hari ini masih nyaman dibawa berpergian. Mungkin karena dulu Langit cukup telaten membantunya merawat motor ini, bahkan sewaktu masih pacaran dulu, ia dan Langit lebih sering kencan naik motor. Kadang motornya, kadang motor pria itu.
Lintang segera mengenyahkan sosok Langit dari pikirannya.
"Abang naik depan atau tengah?" tanya Lintang.
"Dipangku Mama," jawab Neil, pelan.
"Berarti di tengah." Lintang menempatkan Neil di belakang Fajar sedang ia berada dibalik punggung si bocah, lalu perlahan motor melaju menuju pasar malam. Lintang segaja mengajak anak dan suaminya ke tempat ramai seperti ini—mengingat Neil yang senang berbaur, kontradiktif dengan Fajar yang setiap harinya berjibaku dengan pasien, alat medis, dan hal-hal yang berbau kesehatan.
Menurut cerita Ibu Selvi, Fajar memang tipe introvert. Dari dulu, kehidupannya cuma sebatas belajar supaya bisa jadi dokter dan tidak mengecewakan kedua orang tua angkatnya. Fajar juga nggak pernah nongkrong, nonton konser, atau nonton sepak bola kayak anak-anak muda pada umumnya. Pria itu lebih memilih membaca buku dan mengulang materi yang diajarkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Slow Burn [Completed]
RomanceMUNTAZ SERIES [2] - SLOW BURN WARNING ⚠️ MENGANDUNG ADEGAN 21+ Renjana Lintang Muntaz akhirnya menerima lamaran Fajar Antariksa Rahardja. Bukan karena jatuh cinta, tapi karena ingin memberi hatinya kesempatan untuk pulih. Sebelumnya, ada Langit Bumi...
![Slow Burn [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/377825013-64-k882403.jpg)