17 : Behind The Wall

3.4K 261 17
                                        

Drama pagi ini, Neil susah dibangunkan. Ralat, mati sudah melek, tapi tubuh gendutnya masih berbaring di atas ranjang-menolak bangkit. Buat Lintang yang duduk di tepi ranjang kontan menghela napas panjang. Sejurus dengan itu pintu kamar mandi terbuka lebar-menampilkan figur Fajar yang baru selesai mandi.

Pria itu masih mengenakan pakaian santai-celana pendek berwarna cokelat dipadu kaos polos dengan warna senada. Di lehernya terkalung handuk. "Kenapa?"

"Abang nggak mau sekolah, Yah," lapor Lintang.

Fajar mendekat, duduk di dekat Lintang. Atensinya dilempar ke arah Neil yang masih berbaring dengan bibir manyun. "Abang nggak mau sekolah?" Meski sambil tiduran, kepala Neil terlihat mengangguk. "Kalau nggak sekolah, Abang mau ngapain di rumah, hm?" tanya Fajar, sorot matanya menyiratkan pendar tegas.

"Di rumah sama Nenda sama Akung," jawab Neil, pelan.

"Nenda sama Akung mau pergi. Ada acara, tapi khusus orang dewasa. Anak kecil seumuran Abang belum boleh," balas Fajar.

Bibir Neil makin manyun. "Ya sudah, Abang sama Nevi sama Kakek aja," putusnya.

"Nevi sama Kakek juga mau pergi. Ada acara," timpal Fajar.

"Terus, Abang di rumah sama siapa, Ayah?" sungut Neil.

"Abang sekolah. Nanti pulangnya boleh main sama Michi dan Noah-kayak biasanya," bujuk Fajar, mengulurkan tangan. "Ayo!" Tapi yang dibujuk tetap menolak lewat gelengan. Tangan gembul Neil memeluk pinggang Lintang, menyembunyikan wajah betenya di balik paha si Mama.

Mata Fajar tersulih pada Lintang.

Wanita itu menggersah lelah. Nggak biasanya Neil sesusah ini. Biasanya dia paling semangat kalau disuruh sekolah. Tapi pagi ini ...

Lintang menurunkan pandangan, mengusap perut datarnya seraya bergumam dengan nada yang dibuat sesedih mungkin. "Adek ..." Mendengar kata Adek, Neil langsung mengangkat pandangan, menatap Lintang, "Mama sama Ayah sedih banget, soalnya abangnya Adek nggak mau sekolah," adunya, mengerucutkan bibir-memperlihatkan tampang nelangsa. "Padahal kata Abang, Abang mau jadi astronot, biar bisa ajak Mama, Ayah, dan Adek terbang ke angkasa. Tapi Abang malah mogok sekolah."

"Mama," panggil Neil, tangan kecilnya ditumpukan ke telapak tangan Lintang yang masih bertengger di perut. "Ini di perutnya Mama ada adeknya ya?"

Deg.

Pertanyaan itu ...

Perhatian Lintang terlempar pada Fajar yang dengan santai menganggukkan kepala-seolah memberi intruksi. Namun, seakan tidak ingin berharap lebih, Lintang memilih opsi lain untuk menanggapi tanya di kepala Neil. "Neil mau punya Adek?" Ganti Neil yang mengangguk. "Kalau begitu, selain rajin ke sekolah, Neil juga harus rajin berdoa. Semoga Tuhan lekas titipkan adik di perut Mama."

"Di perut Ayah ada adeknya juga nggak, Ma?" tanya Neil lagi.

Memancing tawa geli Lintang. "Ya enggak dong. Ayah 'kan laki-laki."

"Adeknya tidak suka sama laki-laki, Ma?" Raut semringah Neil berubah kecewa.

"Nggak gitu, Abang," geleng Lintang. "Maksud Mama, yang bertugas melahirkan itu Mama. Ayah dan Abang bantu doa, okay?" Seketika kecewa di wajah si bocah langsung lenyap, diganti cengir lucu. Kepalanya mengangguk mantap.

"Okay, Mama."

"Ya sudah, sekarang Abang mandi ya?" Lintang membantu anaknya bangun. "Mau dimandiin Mama atau Ayah?" tawarnya kemudian.

Tapi gelengan Neil mematahkan kedua opsi tersebut. "Abang mandi sendiri, Ma. Kan Abang sudah besar. Mau masuk SMA."

"Okay," angguk Lintang, terkekeh geli selagi Neil berangsur turun, lalu dengan jurus seribu kaki, si bocah berlari menuju kamar mandi. Diperingati Lintang. "Hati-hati, Abang!"

Slow Burn [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang