28 : Mahira

3K 210 10
                                        

Tidak mengenal hari, sebagai dokter yang dibutuhkan banyak orang, Fajar harus siaga dalam situasi apa pun. Seperti pagi ini, selesai kebaktian, ia langsung meluncur ke Widjaja Hospital. Didampingi tim medis-Sherin si perawat dan Carla si dokter jaga umum, ketiganya melangkah menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai tiga.

"Semalem saya liat story Bu Lintang loh, Dok," celetuk Sherin, diiringi senyum usil. "Selamat ya, Dok, udah jadian sama Bu Lintang."

"Saya juga liat loh, Dok," timpal Carla, menimbrung.

Fajar cuma geleng-geleng kepala. Tidak ada yang tahu soal statusnya dan Lintang, kecuali Patin, Nizam, dan Mahira. Lagi pula, Fajar juga tidak ingin jadi pusat perhatian-mengingat dahsyatnya setiap berita yang mudah tersebar hanya dalam hitungan menit. "Terima kasih."

"Sama-sama, Dok," angguk Carla dan Sherin serempak.

"Buruan dinikahi, Dok. Pacarnya cantik cantik begitu, pasti banyak yang naksir deh," ujar Carla, yang disetujui Sherin lewat anggukkan. Tepat ketika tubuh mereka masuk ke dalam lift. Berpapasan dengan Nizam yang langsung menyambutnya dengan senyum konyol. Fajar tahu betul-apa yang ada di otak sahabatnya.

"Seger banget, Dok," sindir Nizam, jail.

"Ya 'kan, Dok?" sela Sherin, "Lagi kasmaran tuh."

"Selamat ya, Dokter Fajar," ucap Patin, yang kebetulan bertugas mendampingi Nizam.

Fajar mengangguk. "Terima kasih, Sus. Cepet nyusul."

Wajah tengil Nizam langsung berubah masam.

Fajar meliriknya lewat ekor mata. Memangnya dia nggak bisa bikin orang lain mati kutu? Bibir Fajar menyungging senyum geli. Hatinya kembali menghangat-mengingat momen tadi malam. Ia benar-benar tidak menyangka akan memiliki anak lagi. Padahal baru kemarin ia menikah lagi dan keluarga kecilnya terasa lengkap. Tapi sekarang ...

Tuhan seakan ingin menyempurnakan dongengnya menjadi lebih indah.

Thanks, God!

"Suster Patin bukannya deket sama Dokter Nizam ya?" beo Carla.

"Iya, ini deket." Nizam merapatkan posisi-lebih dekat dengan Patin.

Otomatis yang didekati melotot. "Sorry ya, tapi kita nggak sefrekuensi. Soalnya saya ngerasa lebih cocok sama Haechan," sanggah Patin, melirik Nizam dengan tatapan membunuh. Yang dilirik tampak bergidik.

"Alasan gue nggak mau cepet-cepet nikah," bisik Nizam, di telinga Fajar-begitu menggeser tubuh, menjauh dari Patin.

"Nikah aja. Seru kok," balas Fajar santai.

"Ya lo ngomong seru, soalnya bini lo kalem banget," gerutu Nizam. "Kalau gue nikah ama ikan satu ini, yang ada gue dijajah tiap hari. Nggak merdeka lagi dong hidup gue?" Fajar hanya geleng-geleng. Nizam memang seabsurd itu. Biarpun dokter dan penampilannya terlihat cool, tapi kalau sudah akrab dengan dokter satu ini, siapapun nggak bisa sedih-barang sedetik pun.

Tak lama pintu lift terbuka lebar. Fajar dan timnya keluar lebih dulu karena Nizam bertugas di lantai empat. Mereka memasuki bangsal ranap lalu memeriksa kondisi pasien sambil mengecek rekam medis. Dan seperti biasa, setiap kali melakukan visit, Fajar sering mendengar-tidak hanya keluhan pasien, tetapi juga cerita random.

Dari momen mereka menginap semalam-yang katanya lihat putih-putih lah, nanyain Fajar sudah punya pacar atau belum lah, nawarin Fajar mau dikenalin ke anak atau kerabat mereka yang masih jomlo lah, dan masih banyak lagi. Terus keluarga pasien yang jaga juga nggak kalah random, seperti menggelar tikar di bawah tempat tidur pasien sambil scroll media sosial, kadang ngajak pasien bikin TikTok, nggak jarang pesta gacoan, dan sederet kerandoman yang kerap menghiasi pandangan Fajar.

Slow Burn [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang