Istrinya mendadak aneh belakangan ini. Yang tiba-tiba nggak suka aroma parfumnya lah, tiba-tiba nggak mau dia dekati lah, tiba-tiba pengin tidur di kamar tamu lah, tapi malam ini—di hari Sabtu yang biasanya dimanfaatkan para pasangan untuk quality time, tahu-tahu Lintang memeluknya dari belakang. Menghirup aroma mint yang menguar dari tubuhnya. Otomatis ia menoleh. "Saya belum mandi, Lin," ingatkannya. "Jangan peluk-peluk dulu, nanti kalau kamu ngerasa bau, saya yang disalahin."
"Nggak kok. Baunya enak banget ini," tepis Lintang, mengeratkan pelukan. "Mas," panggilnya kemudian.
"Kenapa?" sahut Fajar kalem.
"Aku mau udang keju," rengek Lintang dengan nada manja.
Memancing kerutan di dahi Fajar. Nggak biasanya Lintang semanja ini. Fajar membalik tubuh, membuat dekapan Lintang kontan terurai. Wanita itu kembali memeluknya sambil mendongak. "Saya mandi dulu, boleh?" izin Fajar.
"Cepet tapi ya?" pesan Lintang.
"Iya," angguk Fajar lalu mencuri kecupan singkat di bibir Lintang. Setelah itu kakinya diayun menuju kamar. Membersihkan diri dan mengganti seragam dokternya dengan pakaian santai. Namun, ia tidak lekas keluar—menemui istrinya, tetapi menyempatkan diri untuk menilik aplikasi WhatsApp. Tadi Maura meminta izin ingin bertemu Neil lagi dan Fajar memilih memberikan nomor Lintang agar mantan istrinya itu bicara langsung pada Lintang.
Memang Lintang tidak sepenuhnya memiliki hak atas Neil, tapi posisinya sekarang, Lintang adalah istri dari Fajar. Dan Fajar tidak mungkin membawa Neil tanpa Lintang—atau malah tanpa persetujuan wanita itu. Lagi pula, Fajar tidak siap berinteraksi empat mata dengan Maura—wanita yang telah meninggalkan luka paling dalam di palung hatinya.
Maura: oke mas, aku udah bilang lintang, dan besok kami mau ketemuan.
Tidak membalas, ia kantongi ponselnya ke dalam saku celana, kemudian melenggang keluar. Lintang menunggunya di sofa ruang tengah sementara Neil rebahan di paha wanita itu. Fajar menyunggingkan senyum tipis, ia dekati anak dan istrinya, lalu ikut duduk di sofa.
"Mama sama Ayah mau beli gacoan?" tanya Neil memastikan.
Fajar mengangguk. "Abang di rumah aja ya, udah malem."
"Oke, Ayah. Abang juga udah ngantuk."
Kepala Fajar terangguk lagi lalu atensinya dilempar ke Lintang. "Sekarang?"
"He-em." Giliran Lintang yang mengangguk.
Neil segera menyingkir dari paha si Mama. Anak itu ganti rebahan di kamar—ditemani si Mbak.
Rolls-Royce Phantom milik Fajar bergerak meninggalkan pelataran rumah dan meluncur menuju gerai gacoan terdekat. Sembari menyetir, pria berkacamata itu buka suara. "Kamu sudah ajukan cuti?"
"Belum," jawab Lintang.
"Kenapa belum?" tanya Fajar lagi.
"Aku rasa kayaknya nggak perlu, Mas. Atau kalau mau staycation, jangan dalam waktu dekat ini," ujar Lintang, yang membuat Fajar langsung diliputi kecewa. Ada apa dengan istrinya?
"Kamu nggak suka ya?" Lagi-lagi Fajar bertanya.
"Nggak gitu, Mas Fajar," sanggah Lintang lalu memeluk lengannya dengan mata menatap lurus ke depan. "Udah ya, jangan dibahas dulu?" pintanya, mendongak menatap Fajar yang sempat meliriknya sekilas. "Aku lagi pengin kayak gini sama kamu."
Sejujurnya, Fajar senang melihat Lintang yang akhir-akhir ini lumayan manja. Tidak ada lagi jarak dan canggung yang membuat hubungan serta komunikasi mereka terkesan kaku. Tapi masalahnya, Fajar justru bertanya-tanya tentang perubahan Lintang ini. Sebenarnya ada apa? Apa ada yang disembunyikan Lintang?
KAMU SEDANG MEMBACA
Slow Burn [Completed]
RomansMUNTAZ SERIES [2] - SLOW BURN WARNING ⚠️ MENGANDUNG ADEGAN 21+ Renjana Lintang Muntaz akhirnya menerima lamaran Fajar Antariksa Rahardja. Bukan karena jatuh cinta, tapi karena ingin memberi hatinya kesempatan untuk pulih. Sebelumnya, ada Langit Bumi...
![Slow Burn [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/377825013-64-k882403.jpg)