Epilog

5.4K 195 17
                                        

Katanya, pelangi itu indah. Tapi buat Neil, tidak ada yang lebih indah di dunia ini dari kasih sayang Ayah dan Mama. Di saat Mami pergi, Ayah selalu di sisi—menemani dan memeluk Neil dengan kasih. Di saat Mami lebih memilih mencari bahagia diluar sana dan melupakan perannya sebagai seorang ibu, ada Mama yang dengan ikhlas melupakan dirinya yang masih gadis, untuk menjadi seorang ibu dari anak kecil yang tidak ia lahirkan.

Hidup Neil di masa lalu penuh dengan luka dan air mata, tetapi Nevi, Kakek, dan Om Bhumi selalu membantu Ayah menciptakan bahagia, agar Neil pikir hidupnya baik-baik saja. Apalagi waktu Mama datang—bersama Oma, Opa, Om Aksa, dan yang lainnya, membuat Neil kian berpikir, ia salah satu manusia yang dilimpahi banyak kebahagiaan, padahal ...

"Mami Maura itu mamanya Abang juga."

"No! Mamanya Abang cuma Mama Lintang!"

"Abang liat Ayah! Ayah juga punya dua mama; Nevi dan Genda."

"Ya sudah, mamanya Abang ada dua; Mama Lintang dan Mami Maura."

Menemui Neil di umur lima tahun yang dihadapkan oleh dua perempuan—yang sama-sama ia sebut ibu. Aneh, pikir akal lugunya saat itu. Kenapa ibunya ada dua? Sementara Michelle—sepupunya—cuma punya satu ibu. Tapi Budhe Sesha pernah bilang, "Itu karena Neil istimewa, makanya sama Tuhan dikasih dua mama."

Lalu Michelle ngambek seharian karena merasa tidak spesial.

Menemui Neil di umur enam tahun yang merayakan ulang tahun bersama lebih banyak orang—biasanya cuma ada Ayah, Nevi, Kakek, dan Om Bhumi, itupun hanya dirayakan di meja makan. Dan di hari yang sama, Genda—alias ibu kandung Ayah datang, lalu suasana mendadak kacau. Neil masih ingat seruan tajam Genda serta ekspresi marah yang ditampilkan wanita itu, sementara di hadapan Genda, Mama menangis di pelukan Ayah—entah apa yang terjadi. Neil masih terlalu kecil untuk memahami situasi kala itu. Kemudian Mama mengeluh sakit perut. Mama dilarikan ke rumah sakit. Neil menangis—ingin ikut. Tapi Om Aksa menahannya, menggendongnya untuk ditenangkan.

Masih di hari yang sama, ketika Neil bertambah umur, janin yang tumbuh di rahim Mama gugur. Semua orang berduka di hari ulang tahun Neil.

Menemui Neil di umur tujuh tahun, setiap pulang sekolah, bersama Michelle dan Mbak Pipit—sang baby sitter, Neil datang ke gereja untuk berdoa—meminta Tuhan agar memberinya adik perempuan, yang rambutnya tebal dan bagus supaya bisa dikuncir, karena goals Neil kalau punya adik perempuan bakal dia belikan karet kuncir yang banyak.

Lalu, Tuhan mengabulkan.

Di hari ulang tahun Neil yang ke-8, Mama hamil lagi.

Menemui Neil di umur sembilan tahun, setelah Sinar Rembulan Rahardja—adiknya—lahir, tiba-tiba Mami meminta hak asuh Neil. Mami ingin Neil ikut bersamanya—tinggal di luar negeri. Tapi tentu Ayah tidak setuju. Akhirnya dengan provokasi dari Genda, Mami dan Ayah sempat berselisih.

Menemui Neil di umur sepuluh tahun, hidupnya makin tidak baik-baik saja. Ia harus dihadapkan oleh pilihan-pilihan yang tidak ingin ia pilih. Padahal ia mulai menerima Mami sebagai ibu yang patut ia cintai, tapi melihat bagaimana sikap Mami saat itu, membuat rasa cinta Neil perlahan berkurang. Ia menolak keras saat Mami memaksanya untuk ikut. Ia lebih memilih Mama dan adik perempuannya.

Meski rasa sayang Neil terhadap Aik—juga sama besarnya dengan rasa sayang Neil pada Ulan, tapi Neil tidak bisa memilih Mami dan Aik. Ia ... tidak menemukan kenyamanan setiap kali bersama mereka. Sebab tatapan daddy Aik selalu mengusik hati Neil.

Waktu terus bergulir. Dan hari ini—di hari ulang tahunnya yang ke-17, yang dirayakan di meja makan seperti biasa, dengan kue tar yang diatasnya dilengkapi lilin berbentuk angka 17, tiba-tiba ponsel Ayah berdering ribut. Ayah bilang dari Aik.

Slow Burn [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang