Setiap cerita punya jalannya masing-masing. Pun dongeng yang dituliskan Tuhan untuk Fajar. Ia tidak bisa menyalahkan orang-orang hanya karena merasa dibohongi. Mungkin, mereka punya alasan—mengapa harus sembunyi dan menutupi ini. Tapi ... apa yang ia dengar akhir-akhir ini, jelas tidak bisa ia terima begitu saja. Fajar menghela napas. Atensinya disulihkan ke Bhumi yang malam ini ia minta untuk datang ke rumah. Dan mereka memilih teras belakang sebagai tempat singgah.
"Terus, lo marah sama Ibu juga, Mas?" sembur Bhumi, tersirat nada tidak suka dalam suaranya.
Fajar melirik Bhumi sekilas. Adiknya itu tampak mengembuskan asap rokok ke udara, sementara Fajar hanya bisa tahan napas. Ia bukan perokok, bahkan sama sekali tidak pernah mencicipi lintingan tembakau yang menjadi candu banyak orang. "Mas nggak marah sama Ibu. Mas cuma kecewa aja. Kenapa harus bohong?"
"Gue yakin, mereka punya alasan," timpal Bhumi.
Kepala Fajar mengangguk setuju.
"Yang jadi pertanyaan gue sekarang justru Maura dan ibu kandung lo, Mas," lanjut Bhumi, menatap manik mata sang kakak. "Untuk apa mereka ngebongkar masa lalu Bapak? Ya mungkin ada alasan yang nggak kita tahu. Tapi feeling gue, mereka atau salah satunya punya rencana," simpulnya mantap.
Ada jeda beberapa detik. Fajar diam—mencerna kesimpulan sang adik. Cukup masuk akal, pikirnya. "Menurut kamu, apa rencana mereka?"
Bhumi mengedikkan bahu. "I don't know, Mas. Gue nggak mau menerka-nerka."
"Apa ada yang belum selesai di antara Ibu Khatryn dan Bapak?" gumam Fajar, menerka-nerka. "Because it seems like Maura just wants to be known as Neil's mother."
Dahi Bhumi berkerut sejenak. "Why are you so sure?"
"Dia udah bahagia sama hidupnya," ungkap Fajar, menyungging senyum tipis. Mengingat Maura yang jauh berbeda, membuatnya yakin seratus persen bahwa di hati wanita itu memang tidak pernah ada dia. Mengingat betapa keibuannya Maura saat mengurus Aik—bayi cantik yang begitu aktif dan menggemaskan, membuatnya yakin seribu persen bahwa Maura tidak pernah menginginkan kehamilan terdahulu. "She even has a beautiful baby in her current marriage."
Kerutan di dahi Bhumi terlihat lagi. Ia ketukkan batang rokok di tangannya ke tepi asbak, butiran abu jatuh tanpa suara. "Dia ... udah nikah lagi?"
Fajar mengangguk. "Setelah pisah sama Mas, dia pergi ke luar negeri, dan nikah sama suaminya yang sekarang," bebernya, seperti apa yang diutarakan Maura tadi. Jujur, ada sedikit kecewa dan marah di hati Fajar. Tapi bukan karena ia cemburu, melainkan ...
Setega itu Maura pada Neil?
Di saat Neil membutuhkan Maura, Maura memilih pergi. Tapi sekarang, di saat Neil telah menemukan peran ibu di sosok lain, Maura justru menampakkan diri, dan menginginkan pengakuan sebagai ibu dari Neil.
Apa hidup putranya hanya untuk dipermainkan seperti ini?
Fajar tidak mungkin menyalahkan takdir atau malah menciptakan tembok antara Maura dan Neil—yang nyatanya mereka memang sepasang ibu dan anak kandung. Tapi masalahnya, menerima kenyataan juga bukan hal yang mudah. "Maura juga bilang ke Mas, kalau dia deketin Mas karena diminta Ibu Khatryn yang pernah nyelametin dia." Bhumi terkesiap kaget. "Dan sekarang Mas setuju sama kamu—barangkali ada permintaan lagi dari Ibu Khatryn ke Maura yang harus maminya Neil turuti."
"Mas, sorry," potong Bhumi. "Sebaik-baiknya orang ke kita dan kita berniat balas budi ke dia, emang harus ya, kita jadi bonekanya—kayak Maura ke ibu kandung lo?" Satu alis lelaki berusia 28 tahun itu terangkat heran. "This just doesn't make sense to me."
KAMU SEDANG MEMBACA
Slow Burn [Completed]
Roman d'amourMUNTAZ SERIES [2] - SLOW BURN WARNING ⚠️ MENGANDUNG ADEGAN 21+ Renjana Lintang Muntaz akhirnya menerima lamaran Fajar Antariksa Rahardja. Bukan karena jatuh cinta, tapi karena ingin memberi hatinya kesempatan untuk pulih. Sebelumnya, ada Langit Bumi...
![Slow Burn [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/377825013-64-k882403.jpg)