"Mas Fajar?"
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Addara Asabelia Muntaz yang baru dibicarakan, tahu-tahu menampakkan diri—bersama Aksa di belakangnya. Aksa menenteng plastik berisi paket mie gacoan. Memancing kerutan di dahi Lintang. Biasanya kalau manut begitu, pasti ada udang dibalik bakwan. "Tumben akur?" sindir Lintang.
"Harus dong, Mbak," sahut Aksa santai, kemudian duduk di hadapan kakak dan kakak iparnya sambil meletakkan plastik bawaannya. "Ya nggak, Dar?" Mengedikkan dagu, dibalas Dara dengan ekspresi muak. "Yang happy gitu loh!"
"Gue tadi happy ya!" sewot Dara, duduk di samping Aksa. "Tapi gara-gara lo, mood gue langsung anjlok."
"Kok gue?" Aksa menaikkan sebelah alis.
"Memang elo!" tandas Dara sebal.
"Kenapa sih?" sela Lintang, menatap kedua adiknya yang nggak pernah akur. Well, dibanding ia dan Ares—abangnya, Aksa dan Dara ibarat Tom and Jerry versi family. Ada saja yang mereka ributkan, padahal Ares dan Lintang nggak pernah kayak gitu. Makanya Mami suka ngeluh pusing, karena anak ketiga dan anak bontotnya sering bikin huru-hara.
"Itu tuh adek Mbak Lin," adu Dara. "Udah dibilang si Elsa udah punya cowok, masih aja dipepet. Untung cowoknya Elsa kalem, coba kalau emosian, bisa abis tadi si Aksa."
Lintang cuma bisa geleng-geleng kepala mendengarnya. Karena selain banyak gebrakkan, adik bungsunya itu juga banyak gebetan. Nggak jelas siapa yang dimau. Kadang Arina, kadang Pipit, kadang Novi—teman Dara, kadang Patin—teman Lintang, dan sekarang Elsa. Astaga!
"Prinsip gue; sebelum janur kuning melengkung, akan kuterabas semua dengan ugal-ugalan. Tapi kalau janur kuningnya udah melengkung, bakal gue lurusin lagi!" ujar Aksa, dihadiahi Dara lewat toyoran gemas di kepala.
"Yeuuu! Nggak gitu dong konsepnya!"
"Apa sih, Darto! Demen banget ngurusin konsep hidup gue!" cebik Aksa.
Dara memutar bola mata malas, atensinya disulihkan ke Lintang sebelum iris beningnya menyadari kotak di atas meja. Buru-buru Fajar mengambilnya dan memasukkan kotak tersebut ke tas Lintang. Dara menahan senyum. "Mas Fajar udah tahu?"
"Sudah," jawab Fajar sekenanya.
"Tahu apa nih?" sambar Aksa, penasaran.
"Kepo!" balas Dara, menyenggol lengan Aksa.
Aksa balik menyenggol lengan Dara. "Apaan sih, Dar? Pelit amat, gue nggak dikasih tahu," sungutnya, lalu beralih menatap Lintang. "Mbak," rengek Aksa.
"Rahasiain dulu ya, Dar," pesan Fajar.
Ibu jari Dara terangkat, diselingi senyum manis. "Beres, Mas."
"Dar," panggil Aksa, makin kepo. "Tahu apa sih? Kasih tahu napa!"
"Sorry ya, lo bukan circle kita!" ujar Dara.
"Jahat banget." Aksa cemberut.
"Makanya ambil jurusan kesehatan, biar otak lo yang nggak pinter itu isinya nggak cuma cewek doang!" sarkas Dara, *Lagian, gue heran deh sama lo. Niru siapa coba? Padahal Papi tipe pasangan yang setia, terus Mas Ares juga bucin banget sama istrinya." Lintang mengangguk setuju. "Dulu kalau nggak dikhianati Cik Renata, mungkin Mas Ares udah punya anak lima kali."
"Nggak usah bahas yang nyakitin, Dar," peringat Lintang.
"Sorry," ringis Dara.
Beberapa detik kemudian pesanan Lintang datang dan dihidangkan di atas meja, sementara Aksa dan Dara menikmati makanan—yang sebelumnya sudah mereka beli, yang rencananya mau dibawa pulang, tapi karena melihat sosok Lintang dan Fajar, alhasil mereka ikut bergabung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Slow Burn [Completed]
RomanceMUNTAZ SERIES [2] - SLOW BURN WARNING ⚠️ MENGANDUNG ADEGAN 21+ Renjana Lintang Muntaz akhirnya menerima lamaran Fajar Antariksa Rahardja. Bukan karena jatuh cinta, tapi karena ingin memberi hatinya kesempatan untuk pulih. Sebelumnya, ada Langit Bumi...
![Slow Burn [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/377825013-64-k882403.jpg)