21 : Cemburu

3.6K 262 8
                                        

Yeayy, update lagiii!

Bisa yuk 100 votes :)))




Lintang tidak marah.

Ia hanya ... kesal. Tapi, apa dia berhak menyalahkan Fajar? Tentu saja tidak. Fajar tidak mungkin meminta hadiah pada mantan istrinya. Lalu, apa tujuan Maura mengirim hadiah untuk Fajar?

"Saya yakin, Maura nggak mungkin ngirim hadiah itu," ujar Fajar, ketika tiba di dalam kamar.

Lintang yang hendak meletakkan tas, mendadak berpaling membalas tatapan Fajar. "Nggak mungkin?" ulangnya, mengerutkan alis. Ditegaskan Fajar lewat anggukkan. "Atas alasan apa Mas menyimpulkan asumsi itu?"

"Lin, Maura lagi dirawat di rumah sakit," ungkap Fajar. "Jadi, nggak mungkin dia kirim hadiah itu ke rumah. Apalagi dia tahu, orang tua saya udah nggak mau berurusan lagi sama dia. Dan—"

"Mas," gumam Lintang, menghela jarak mendekati Fajar. Ia hentikan langkah di hadapan pria itu, kepalanya sedikit mendongak—menatap tepat di manik mata Fajar. "Mbak Maura punya keluarga yang bisa dimintai tolong, 'kan? Dilogika aja, Mas. Nggak mungkin kurir yang nganterin itu inisiatif ngasih Mas Fajar dan Neil kado atas nama Mbak Maura."

Lolos embusan napas berat dari bibir Fajar. "Saya nggak bermaksud ngebelain Maura, tapi—"

"Tapi aku capek, Mas!" potong Lintang, ketus. "Udah ya, aku mau istirahat."

"Lin!" tahan Fajar, mencekal pergelangan tangan Lintang. "Kita harus bicara. Saya nggak mau gara-gara kado itu, hubungan kita jadi renggang! Kita baru aja bangun istana," ingatkannya, tatapan bapak satu anak itu berubah sendu. "Mau 'kan kamu luangin waktu sebentar untuk bicara sama saya?"

Lintang tidak menjawab, ia tepis cekalan Fajar.

"Tadi waktu saya periksa kondisi Maura, Maura bilang ke saya, kalau dia pengin ketemu kamu dan Neil," kata Fajar, didengar oleh Lintang. Tapi hatinya kadung kesal. Karena itu, ia diam—enggan bereaksi. "Mungkin, di pertemuan kalian nanti, kamu bisa konfirmasi langsung ke Maura—apa benar dia yang mengirim kado itu."

"Ketika seorang teroris melakukan aksinya lalu kepergok, nggak mungkin 'kan dia mengakui kesalahannya," sarkas Lintang, menatap berang suaminya. Ia tidak ingin bersikap kurang ajar pada pria yang menggantikan posisi ayahnya, tapi kejadian beberapa saat lalu berhasil menyulut emosinya.

Ia sudah belajar menerima Fajar.

Mempersilakan pria itu menghuni hatinya.

Tapi, siapa sangka, masa lalu dari Fajar datang lagi.

"Renjana," sebut Fajar lembut, menggapai kedua bahu Lintang, dan ia perdalam lagi tatapannya. "Waktu saya minta kamu ke Papi, Papi bilang; masalah besar datang dari masalah kecil. Karena itu, segera tuntaskan masalah—sekecil apa pun itu." Lintang terenyak. Papi juga pernah berpesan demikian.

Tapi, apa masalah yang awalnya kecil ini bisa dituntaskan dengan segera?

"Kamu tahu ..." Senyum tipis tersungging apik di bibir Fajar, "saya seneng liat kamu cemburu kayak gini. Itu artinya kamu nggak mau kehilangan saya."

Lintang mendengkus, kepalanya menggeleng cepat—menyanggah. "Nggak!"

"Iya," decak Fajar, menowel pucuk hidung Lintang.

Yang ditowel hidungnya tampak memutar bola mata. "Apa sih!"

Fajar mencuri kecupan sekilas di bibir Lintang, lantas ia tegakkan tubuh, dan mengusap gemas puncak kepala Lintang. "Lagian, Maura itu sudah berkeluarga." Lintang berjengit kaget. "Tapi biar kamu lega, besok kita ketemu Maura, okay?"

Slow Burn [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang