Part 12

10.2K 429 7
                                        

Yok vote sebelum baca.

==========================================

BAGIAN

DUA BELAS (12)

==========================================

"Mamaaa ...,"

"Apa, Sayang?" Acintya pun menanggapi cepat panggilan sang buah hati, dengan tangan masih mengaduk-aduk nasi goreng.

"Mau angun Papa. Oleh Mama?"

Artinya, Mau bangun Papa, Boleh Mama?

Dalam hitungan detik, ia sudah memahami apa yang disampaikan oleh putranya.

"Nggak boleh, Sayang." Acintya tentu tak akan mengizinkan keinginan Arjuv.

"Kasih Papa bobok dulu, ya."

"Kalau Papa dibangunin, nanti Papa bisa kurang istirahatnya. Mengerti, Arjuv?"

Walau sang buah hati menampakkan raut cemberut, batita itu tetap mengangguk.

Artinya, akan dituruti ucapannya.

Arjuv adalah anak yang baik. Tidak akan membantah jika sudah diberi tahu.

Acintya kagum akan sifat buah hatinya. Ia tak salah menggunakan pola didik sejak usia dini, hingga Arjuv tumbuh baik.

"Nah, Mama punya omelet. Siapa mau?"

"Ajuvvv!"

Sang buah hati berseru kencang sembari mengangkat tangan, untuk merespons apa yang dirinya baru saja tawarkan.

"Oyet, Mama, oyet."

Artinya : omelet, Mama, omelet.

"Ajuv, mau oyet, Mama!"

Sang putra semakin bersemangat dengan suara yang tambah riuh. Dan tak lupa juga jagoan kecilnya tersenyum dengan manis.

"Iya, Sayang. Arjuv dapat omelet."

"Horeeee!"

Arjuv bersorak bergembira.

Tentu, melihat tingkah manis dari putranya yang paling tampan, siapa tak akan jadi gemas? Acintya merasakannya tiap hari.

Bahkan, sejak Arjuv Aswamatta Dyatmika lahir ke dunia, ia sudah begitu bahagia.

Dulunya, saat awal tahu mengandung, ada timbul semacam kecemasan dan kekesalan karena sangat belum siap untuk hamil.

Apalagi saat itu mantan suaminya tiada.

Jelas akan sulit memiliki anak, tanpa ada pendamping yang resmi. Mengingat pula status dirinya dengan mendiang Neswara Dyatmika sudah bercerai, waktu itu.

Namun, keputusan untuk mempertahankan kehamilan sudah sangat tepat baginya. Ia sama sekali tak menyesal melahirkan sang buah hati dan menjadi seorang ibu.

"Selamat pagi."

"Papaaa!"

Nusra Dyatmika datang ke meja makan.

Tentunya akan disambut gembira putranya yang memang sangat suka dekat dengan sang ayah, di setiap kesempatan.

Termasuk juga ketika sarapan.

"Pagi, Mama Arjuv."

Acintya cukup kaget mendapati sosok pria berstatus suaminya itu menyapa mesra. Ia lebih terkejut lagi karena Nusra Dyatmika merangkul posesif dan mengecup dahinya.

Membuat dirinya mematung.

"Pagi, Mama Arjuv."

Nusra Dyatmika ingin mendengar balasan darinya sampai menyapa lagi?

"Pagi, Mas," balasnya kemudian.

"Saya ambil cuti tiga hari."

"Mas sakit?" tanya Acintya seraya cepat membalikkan badan menghadap ke sang suami. Lalu, memerisa kening pria itu.

Suhunya normal, tidak panas.

"Saya tidak sakit, Acintya."

"Saya mengambil cuti karena saya mau mengajak kamu dan Dev liburan."

"Liburan, Mas? Ke mana?"

"Bali." Nusra menjawab mantap.

"Kita akan berangkat nanti siang. Tiket pesawat sudah saya pesan untuk kita."

Acintya yang diam dan memandang dalam pancaran mata bertanya-tanya, membuat dirinya harus menjelaskan lebih rinci.

"Kita belum pernah bulan madu sejak kita menikah. Mungkin ini saatnya, Acintya."

===========

Komen yok komen.

Peran Ayah PenggantiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang