Maaf ya tadi alurnya salah.
Nih udah revisi.
Makasih buat yang tadi ngingetin.
==========================================
BAGIAN
TUJUH BELAS (17)
==========================================
Nusra memerhatikan saksama, sosok kecil Arjuv yang tengah mengunyah sesuap nasi goreng buatannya. Ia ingin tahu tanggapan sang buah hati akan masakannya.
Sudah beberapa bulan belakangan, dirinya tak pernah menciptakan makanan dengan racikan tangannya sendiri.
Baru pagi ini, bisa membuat nasi goreng kembali, setelah sekian lamanya absen.
"Nak, Papa."
Artinya, enak Papa.
Pujian tulus dari sang buah hati yang juga disertai acungan jempol, tampak manis.
Nusra cukup senang karena sukses dalam memasak menu sarapan disukai putranya.
Sesuai akan cita rasa digemari oleh Arjuv. Walau, takarannya tak semua sesuai resep.
"Nak, Papa. Nakkk!"
Nusra jelas tertawa menyaksikan tingkah lucu jagoan kecilnya perlihatkan lagi.
"Enak, Nak? Arjuv suka nasi gorengnya?"
Sang putra pun mengangguk-angguk.
"Habiskan semua, ya, Sayang. Arjuv akan tambah pintar kalau semuanya habis."
Sang buah masih menggerakkan kepala ke atas dan bawah, tanda bahwa memahami apa yang disampaikan oleh ayahnya.
Dan ketika netra cokelat polos batita itu dapat menangkap sosok sang ibu yang baru keluar dari kamar, nasi goreng tengah dikunyah pun segera ditelannya.
Tentu, agar bisa berseru memanggil ibu kesayangannya untuk segera datang.
"Mamaaa!"
Arjuv juga melambai-lambaikan tangan, dengan senyum mengembang lebar.
"Sinih, Mamaaa! Siniii!"
Saat sang buah hati begitu senang karena akan sarapan bersama sang ibu, Acintya justru tegang akan menghadapi Nusra.
Percintaan mereka semalam, tentu menjadi faktor utamanya. Ia merasa belum cukup siap lebih dekat dengan pria itu.
Bersikap acuh tak acuh akan dipilih.
"Pagi, Mamaaa."
"Selamat pagi, Arjuv Ganteng."
"Lagi makan apa, Sayang?"
"Aci oyeng, Mamaaaa."
"Selamat pagi, Sayang."
Ketegangan Acintya bertambah kuat dan membuat tubuhnya kaku seketika, karena pelukan didapatkan dari Nusra Dyatmika.
Pria itu berdiri persis di belakangnya.
Tentu dibatalkan balasan untuk sang putra.
"Bagaimana tidur kamu? Nyenyak?"
Kedua tangan kokoh sang suami melilit erat di tubuhnya, sehingga mustahil bisa melepaskan diri begitu saja. Walau ingin.
"Mau makan nasi goreng sekarang?"
Nusra Dyatmika mengajukan pertanyaan lagi. Dibisikkan tepat di telinga kirinya.
Pria itu menyandarkan kepala di bahunya.
"Kamu cantik, Sayang."
Acintya merinding kembali mendengarkan pujian lembut dari sang suami untuknya.
Ada apa dengan Nusra Dyatmika? Pria itu berubah drastis menjadi sosok yang kian hangat dan cenderung mesra padanya.
"Saya ingin sarapan ber-"
"Maaf, Mas. Aku mau potong buah. Bisa tolong lepaskan pelukan Mas?" Acintya pun bicara dengan nada yang dingin.
Dan permintaannya segera dilakukan oleh Nusra Dyatmika tanpa bertanya apa-apa.
Dirinya pun segera bergerak ke kontener dapur untuk melakukan apa dikatakan tadi.
"Enak nasi goreng buatan Papa, Nak?"
"Nak, Papa. Nakkk."
"Coba suap Papa satu sendok, Nak."
"Yaaaa, Papaaa."
"Wah benaran enak nasi gorengnya."
"Nak, Papa, Nak."
Tawa sang buah hati keluar kencang, dan tentu saja bisa didengar oleh Acintya.
Pujian Nusra Dyatmika tentu dapat juga tertangkap oleh kedua telinganya.
Namun, ia memilih fokus tetap memotong buah, tak ikut dalam percakapan ringan di antara putranya dan Nusra Dyatmika.
Dirinya terlalu tegang menghadapi sang suami, walau sebatas saling bersitatap.
Percintaan semalam dengan pria itu, masih selalu membebaninya. Rasa bersalah pada Mahira senantiasa menghantui hatinya.
Setelah dipikir-pikir dengan akal sehatnya yang normal, amat kurang ajarlah tingkah dilakukan sejauh ini. Ia telah berkhianat.
Pada Mahira, ia menjanjikan perceraian dengan sang suami secepatnya. Namun, apa yang telah dilakukan bersama pria itu, malahan tak menunjukkan sebaliknya.
Benar-benar bersikap munafik.
"Papa, ana dek cewek?"
"Adik cewek yang Arjuv minta?" Nusra pun cepat menanggapi pertanyaan polos diajukan oleh sang buah hati.
"Coba tanya Mama, kapan mau kasih adik cewek untuk Arjuv." Nusra bergurau.
Tentu putra kecilnya mengangguk-angguk, dan pasti akan melakukannya apa yang ia baru saja minta. Arjuv begitu pandai.
"Mamaaa!"
Nusra masih memusatkan atensi ke sosok sang istri, sehingga bisa disaksikan ketika Acintya menolehkan kepala ke arah Arjuv.
"Ana dek cewek Ajuv, Mamaa?"
"Arjuv mau adik cewek katanya, Sayang." Nusra pun menimpali ucapan putranya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Peran Ayah Pengganti
Romansa[Follow dulu untuk bisa membaca part dewasa 21++] Nusra Dyatmika (36th) tak berencana mengikat diri dalam sebuah pernikahan. Namun, pada akhirnya ia harus meminang Acintya Maharasti (28th), mantan istri mendiang adik laki-lakinya. Nusra harus menjad...
