Waktu terus berjalan, hingga di ujung hari saat sang Surya mulai tenggelam. Warna jingga kemerahan menghiasi langit. Hari dan Doori hanya bisa melihat Kanglim yang berjalan menuju apartemennya dengan lesu. Astaga, dia benar-benar kacau. Begitu dia tiba di kamar apartemennya, Kanglim langsung masuk ke kamarnya setelah melepas sepatunya. Dia langsung tidur dikamar.
Surya pun padam dan kegelapan malam mulai datang. Kanglim akhirnya bangun, dia melihat sekeliling kamarnya yang berantakan dengan pakaian Leon yang berserakan. Saat dia melihat jam, dia hanya menghela nafas. Jam tujuh malam. Dia hanya tidur selama tiga jam. Didalam kesunyian malam yang ditelan kegelapan berhias cahaya bulan. Kanglim menyusuri tiap sudut kamarnya, memunguti pakaian Leon yang berserakan sekaligus membersihkan kamar apartemennya. Ditengah kegiatan itu, suara dering telepon menggema mengisi ruang tamu apartemennya yang sepi. Kanglim yang baru saja selesai membersihkan diri, berjalan dengan handuk yang tersampai di bahunya. Begitu dia mengangkatnya, suara lembut sang ibu terdengar dari sana. Yoojung dengan lembut meminta Kanglim untuk tinggal bersamanya selama beberapa waktu, tapi Kanglim menolaknya dengan halus. Setelah sedikit berdebat dengan Yoojung, akhirnya Yoojung lah yang mengalah.
TRAK...! TAK! TAK! TRAK...!
Sapuan lembut angin malam menyapanya ketika dia membuka pintu kaca balkon di kamarnya. Suara bambu-bambu yang bertubrukan. Kanglim menatap gantungan bambu di balkonnya dengan wajah lelah dan pandangan yang kosong. Surai hitamnya menari mengikuti irama dari angin yang datang padanya. Di bawah sang rembulan yang bersinar terang, manik hijau hutan itu tampak begitu gelap. Mata hijau yang menatap kosong pada langit itu beralih pada bagian bawah bumi yang telah banyak berubah.
Saat dirinya sedang memperhatikan kesunyian kota di malam itu, secara sadar, mata hijau itu terpaku pada satu sosok yang begitu familiar.
Dia telah lama merindukannya.
Langit kian menggelap. Leon menatap bulan sabit di ujung langit yang kian menyala.
"Mau sampai kapan kau berbaring di sana?" Suara berat seorang pria dewasa terdengar dari orang yang berdiri di sampingnya. Leon tidak menjawab pertanyaannya, dia hanya diam menatap langit.
"Kenapa kau malah ikut-ikutan?" Hyunwoo yang juga ada di sana menatap datar pria dewasa yang kini berbaring terlentang di samping Leon.
"Ada-ada saja manusia-manusia ini." Komentar seseorang yang tadinya memperhatikan tiga orang itu dari jauh. Kini ketiga orang beda usia itu berbaring terlentang menatap langit.
"Mau ikutan?"
"Ada-ada saja manusia satu ini." Komentar Hyunwoo begitu dia ikut terlentang bersama mereka.
"Random banget sumpah."
"Kaya sama siapa aja."
Selesai dengan acara terlentang nya, Leon berjalan pulang. Keriuhan kota mulai terasa, orang-orang berlalu lalang berjalan pulang menuju rumah setelah lelah bekerja seharian. Tapi ditengah semua hiruk pikuk itu, Leon berdiri termenung di depan zebra cross. Pikirannya tidak jauh dari sosok raven dengan mata hijau yang dia rindukan. Ada perasaan senang, namun juga sedih disaat yang bersamaan. Bahkan setelah dia memilikinya sekarang, dia masih terasa begitu jauh. Antara pikiran dan perasaan, keduanya berkecamuk mengalihkannya dari dunianya, membuatnya tidak fokus pada jalanan yang ramai oleh kendaraan. Beruntung baginya, seseorang menariknya keluar dari lamunan yang bisa saja membuatnya pindah alam.
"Astaga! Apa kamu baik-baik saja nak?" Seorang pria yang sudah cukup berumur keluar dari dalam truk putih yang barusan nyaris menabrak Leon.
"Saya baik-baik saja. Maaf karena saya sedang melamun tadi." Ucap Leon meminta maaf padanya.
"Ah, kamu membuatku jantungan saja, syukurnya pria itu menariknya tepat waktu, jika tidak... Lain kali hati-hati, ya. Kamu mungkin beruntung kali ini tapi bisa saja di lain waktu tidak ada keberuntungan yang sama seperti saat ini. Tetaplah berhati-hati ya nak." Setelahnya pria itu kembali ke dalam mobil dan pergi dari sana.
"Dia benar Leon."
"Di lain waktu, kau mungkin akan benar-benar menemui kematian." Leon menatap pria tinggi disamping nya dengan perasaan yang terasa hampa. Senyuman kosong dia tampilkan.
"Waktu seperti itu pasti akan tiba Do Hyun. Pasti. Tapi tidak dalam waktu dekat ini." Jawabnya dengan yakin. Pria itu tetap diam ditempat nya saat mulai melanjutkan jalannya. Mata gelap violet itu tak lepas dari sosok pirang yang berada beberapa langkah didepan nya.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri." Ucap Leon tanpa melihat pria tinggi di sampingnya.
"Jangan bercanda. Kau kira aku bodoh? Barusan saja kau melamun dan nyaris tertabrak mobil." Omel Do Hyun padanya. Hingga di persimpangan jalan, Leon meraih pergelangan tangan Do Hyun karena kedua telapak tangannya dia masukkan ke dalam saku.
"Hm? Sedang apa?" Tanya Do Hyun, heran dengan tindakan Leon.
"Kenapa? Aku hanya ingin menyeberang sambil memegang tanganmu." Jawab Leon dengan senyuman lebar.
"Jika memang tidak mau ya, tidak apa-apa." Lanjut Leon kemudian hendak melepaskan pegangannya. Tepat sebelum tangannya ditarik, Do Hyun mengambilnya lagi membuat Leon tertawa kecil. Kini dengan senyuman lebar yang menghiasi wajah cerita itu, Leon dan Do Hyun berdiri berdampingan menunggu lampu merah.
CYUUT....
Senyuman itu hilang saat tangan kasar milik Do Hyun mencubit pipinya.
"Kau makan apa sampai se-gempal ini?"
"Aku tidak gempal! Lagian, aku juga jarang makan akhir-akhir ini." Balas Leon tidak terima.
"Ye, padahal tadi nambah tiga piring kare."
"Bukan nambah ye, tapi di jejelin!"
"Iya deh..." Do Hyun dengan acuh menarik Leon yang tangannya masih ia genggam, menemaninya menyebrang jalan. Jalanan malam itu terlihat cukup sepi dengan beberapa kendaraan yang lewat di jalan, beberapa orang yang berada di jalan hanyalah orang-orang dewasa yang lelah bekerja. Beberapa acuh pada mereka, ada yang memperhatikan dengan gemas dan lainnya.
Leon hanya diam, dia dengan anteng mengikuti Do Hyun yang mengantarnya pulang menuju rumah Shinbi. Hingga tepat satu blok dari rumah Shinbi, Do Hyun berhenti.
"Aku hanya mengantarmu pulang sampai sini saja."
"Ganteng doang gak sampe rumah. Apa-apaan." Ejek Leon.
"Shht... Banyak mulut tetangga." Kata Do Hyun sambil menaruh jari telunjuk di depan bibirnya, lalu mengedipkan sebelah matanya sebelum kemudian pergi meninggalkan Leon.
"Dasar. Ah, namanya juga manusia. Tiada hari tanpa gibah, tapi ya sudah. Jadi orang ganteng itu kadang capek." Ungkap Leon pada dirinya sendiri.
Saat Leon hendak pergi, langkahnya tertahan kala ia melihat seseorang yang berlari ke arahnya.
"Kang Lim...?" Gumam Leon saat sosok itu semakin dekat, Leon pun segera berlari menghampiri Kang Lim.
"Kang Lim apa yang kau lakukan?!" Pertanyaan Leon bak angin lalu yang tak didengar oleh Kang Lim. Sebaliknya, dia justru mencengkram lengan atas Leon dengan kuat.
"Siapa laki-laki tadi? Apa kau sudah selesai dengan kau? Apa kau sudah bosan? Apa kau akan meninggalkan ku? Tolong jangan tinggalkan aku!" Dengan suara yang terdengar sangat parau, Kang Lim memohon pada Leon yang kebingungan dengan kondisinya.
Note:
Setelah lama hiatus, lalu infoin comeback cuma buat hiatus lagi. Aku sungguh sangat jahat ya? Untuk seluruh reader yang masih setia dengan cerita ini, aku sungguh minta maaf untuk semua omdo yang ku beri. Tapi aku akan terus berusaha untuk menjadi lebih baik dan lebih rajin. Terima kasih.
11001 word.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pernikahan Dini
Fanfictioncerita gaje yang author dapet dari gambar yang membagongkan
