Bukan "Awal" yang dimaksud

156 9 3
                                        

Hari ini Kang Lim terlihat sangat bahagia. Lihat saja senyuman lebar yang terus ia tunjukkan sejak pagi. Belum juga luntur hingga saat ini.

"Well, dia... Jadi lebih baik? Kurasa..." Ji Hoon berkata dengan ragu, melihat Kang Lim yang masih tampak bahagia di depan mereka.

"Itu bagus." Paling tidak, semuanya baik-baik saja sekarang.

"Jadi, Leon... Mau cerita soal apa yang sebenarnya terjadi?" Si pemilik nama yang sebelumnya sedang asik makan menoleh. Setelah membersihkan mulutnya yang belepotan Leon mulai bicara.

"Tidak ada yang spesial sih. Lagi pula aku masih berada dalam Aegis." Jelas leon pada mereka.

"Jadi selama ini kamu pergi karena misi dari Aegis?" Tanya Hari yang dijawab anggukan oleh Leon.

"Kayanya kamu butuh cuti." Saran Gaeun.

"Kenapa?"

"Pake nanya." Jawab ji Hoon atas ketidakpekaan mereka.

"Sebentar lagi kelulusan dan sekarang sudah hampir lima bulan. Perutmu mulai membesar Leon dan itu rentan. Belum lagi para makhluk, itu beresiko." Jelas Kang Lim yang hanya dibalas "oh" paham.

"Eh, bentar... Ini seriusan udah hampir lima bulan? Perasaan kemarin baru ketahuan tiga minggu deh." Dengan wajah bingung Hari berusaha untuk mengingat semua kejadian yang terjadi disekitarnya.

"Lebih tepatnya 16 minggu." Tambah Kang Lim yang seketika membuat otak lemot Hari blank.

"Kenapa sih ibu hamil tuh pakai waktu minggu kadang hari malah." Teriak Hari dengan frustasi karena dia kesulitan mencerna matematika sederhana itu.



Pada akhirnya Leon menuruti saran Gaeun dan mengambil cuti. Permintaan itu disetujui dengan mudah oleh ketua Aegis, mengingat kerja keras Leon pada misi-misi terakhirnya. Tanpa perlu khawatir soal Aegis, Leon dapat belajar dengan tenang dan fokus sepenuhnya pada ujian kelulusan dan semua berjalan begitu sempurna saat Leon menduduki peringkat pertama dengan nilai ujian yang sangat bagus di susul oleh Kang Lim pada posisi kedua dan Gaeun yang ketiga.

"Kang Lim, aku mau ikut ..." Siang hari yang cerah di musim gugur, pasusu baru jadi itu sedang bersantai di ruang tamu. Setelah masa-masa sulit, kedua kini tampak makin mesra dengan Leon yang makin manja. Lihat saja bagaimana Leon berbaring di sofa dengan paha Kang Lim sebagai bantalnya dan Kang Lim sendiri mengusap surai pirang cerahnya dengan lembut sambil sesekali melirik secarik kertas di tangannya. Kertas persetujuan penerimaan beasiswa universitas, sesuatu yang Kang Lim sangka akan langsung ditanda tangani oleh Leon.

"Boleh ya?" Leon kembali bersuara, meminta persetujuan Kang Lim untuk ikut program beasiswa itu. Kang Lim sebenarnya sudah dapat surat yang sama, namun dia menolaknya. Kandungan Leon yang sudah cukup tua butuh banyak persiapan. Tentunya dengan biaya yang banyak juga, jadinya dia akan fokus untuk langsung bekerja.

"Kalau kamu kuat aku gak apa-apa. Tapi jangan maksain, kuliah setelah lahiran juga gak apa-apa, aku usahain ada kalau kamunya benar-benar mau." Jelasnya dengan lembut.

"Iya sih, nanti juga aku susah jalan kalau sudah 7 bulanan."



Memasuki usia 7 bulan, Kang Lim membawa Leon ke daerah pegunungan. Maklum, gimana kata tetangga ngeliat cowok hamil :)

"Hah!" Seruan nafas yang kelelahan terdengar dengan jelas. Ditengah dinginnya udara musim gugur, Hari, Doori, Gaeun dan Sara duduk beristirahat disebuah pondok ditengah pegunungan.

"KeNaPAh... HarUs... NanjAK SiH...?" Hyun Woo berkomentar ditengah-tengah nafasnya. Dia Doori dan Hari sangat kelelahan hingga tepar di pondok itu. Bayangin aja kamu lagi puasa dan disuruh lari-larian dibawah matahari yang panas. Kurang lebih, mereka se-engap itu.

"Kuat-kuatin aja. Masih jauh jalannya." Kata Gaeun sambil memberi air pada mereka.

"Kalau jalannya aja sejauh ini, begimana Leon nanjaknya coba?"



"Aku ada naga." Dengan senyum watados, Leon menunjuk seekor makhluk mitologi eropa yang bersinar terang itu, seekor naga berjenis Drake. Sebetulnya secara fisik dia lebih mirip rubah atau kucing. Makhluk berkaki empat yang terbuat dari api, dengan ekor besar yang mengembang berselimut kobaran api, dia duduk manis di samping Leon dengan lima mata merah menyala yang menatap wajah wajah baru yang menurutnya asing. Sesekali dia mengusap kepalanya, menggerakkan tentakel di kedua sisi kepalanya yang berfungsi sebagai penangkap suara.

"Kau naik turun gunung dengan dia?" Tanya Hyun Woo tidak percaya, tapi Leon menjawabnya dengan anggukan senang.

"Astaga naga..."

"Aku tidak pernah tau kalau Kang Lim punya makhluk seperti dia." Ucap Gaeun kagum dengan makhluk dihadapannya.

"Ya, dia bukan milik Kang Lim. Seorang teman memberinya padaku, dia juga berperan sebagai penjaga."

"Keren!!"

Malam itu, kelimanya memutuskan untuk menginap untuk menemani Leon yang ditinggal oleh Kang Lim. Sejujurnya Kang Lim sendiri pun tidak mau pergi, tapi dia jelas tidak punya pilihan. Ini adalah urusan yang sangat penting.

"Aku tidak percaya dia benar-benar meninggalkanmu sendirian! Benar-benar menjengkelkan!" Keluh Sara tidak terima.

"Sudah lah Sara. Lagi pula aku sendiri yang membujuknya untuk pergi." Kata Leon menangkan Sara.

"Hey, hey, ayo kita bermain saja." Usul Hyun Woo pada mereka.

"Kita bermain 2 lie and 1 truth. Kita ucapkan dua kebohongan dan satu kebenaran. Seperti namanya." Lanjut Hyun Woo menjelaskan aturannya.

"Oh! Aku mau coba duluan!" Kata Hari mengangkat tangan dengan semangat.

"Hmm... Aku sangat kurus, mataku berwarna hijau, dan aku pernah bertemu dengan alien."

"Usaha yang bagus Hari, tapi alien itu tidak ada." Ucap Hyun Woo.

"Emh.. Hyun Woo, matanya berwarna coklat." Kata Gaeun menyelanya.

"Dimana kau bertemu alien nya?!" Kali ini Hyun Woo bertanya dengan penuh semangat.

"Oke waktu habis! Giliranku!"

"Tidak boleh begitu Leon! Aku mau juga mau ketemu alien!"

"Tapi nanti bakal lama bahasnya!"

Dan yah... Leon dan Hyun Woo secara tidak sengaja malah bertengkar.




DRUGK...

Jauh di kegelapan malam, seseorang tampak sedang mengawasi rumah kecil tempat Leon berada. Dengan santai dia berjalan mendekat mengabaikan tubuh Drake yang mulai menyusut bersamaan dengan padamnya api ditubuhnya.

"Jadi, penyerangan itu memang hanya pengalihan rupanya." Suara seseorang bergema dihutan rindang yang gelap itu.

"Siapa disana?!" Dia mulai meningkatkan kewaspadaan nya. Menyadari bahwa orang ini sudah ada tanpa dia sadari.

"Ku kira kau memang kuat. Ternyata hanya seorang amatiran." Suara itu kembali terdengar dan dari kegelapan kilauan besi zirah yang diterangi cahaya rembulan kini terlihat dimatanya.

FWOOSHH...

Cahaya jingga kemerahan muncul dari belakangnya. Bersamaan dengan dia yang mulai menunjukkan keberadaannya, Drake itu kembali bangkit. Kini dengan ukuran yang dua kali lipat dari sebelumnya dan dengan api yang kian berkobar. Tapi diantara pemandangan yang menyeramkan itu, matanya juga menangkap satu hal indah yang seharusnya tak ada disana.

Sebuah hiasan rambut berbentuk bunga mawar. Bunga mawar berwarna biru yang sangat cerah dan bersinar dengan terang. Dengan kuat mengikat rambut panjang Sang Night Sky Holder.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 10, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Pernikahan Dini Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang