Dari Awal

88 5 0
                                        

Saat Leon hendak pergi, langkahnya tertahan kala ia melihat seseorang yang berlari ke arahnya.

"Kang Lim...?" Gumam Leon saat sosok itu semakin dekat, Leon pun segera berlari menghampiri Kang Lim.

"Kang Lim apa yang kau lakukan?!" Pertanyaan Leon bak angin lalu yang tak didengar oleh Kang Lim. Sebaliknya, dia justru mencengkram lengan atas Leon dengan kuat.

"Siapa laki-laki tadi? Apa kau sudah selesai dengan kau? Apa kau sudah bosan? Apa kau akan meninggalkan ku? Tolong jangan tinggalkan aku!" Dengan suara yang terdengar sangat parau, Kang Lim memohon pada Leon yang kebingungan dengan kondisinya.

"Tunggu! Apa maksudmu Kang Lim?"

" Akut tidak keberatan jika kau memilih untuk bersamanya, tapi tolong jangan tinggalkan aku! Aku mohon! Jangan... Hah... Ha.. Jangan pergi!!" Nafasnya kian menipis, tubuhnya gemetaran dengan pancaran mata yang ketakutan. Leon menyadari perubahan kondisi yang signifikan.

“Dia kena serangan panik!” Leon berusaha untuk menenangkan Kang Lim yang semakin kesulitan untuk bernafas.

"Kang Lim tolong tenangkan dirimu dulu!!" Kehilangan ide, Leon hanya bisa memberikan Kang Lim kata-kata penenang sembari berharap dia akan segera tenang. Tapi kenyataan berkata lain, kondisinya kian memburuk Kang Lim yang terlanjur panik tidak mendengarkannya sama sekali. Hingga akhirnya Leon memutuskan untuk membungkamnya dengan sebuah ciuman. Nyatanya tindakan Leon berhasil membuat Kang Lim diam.

(Tidak untuk ditiru didunia nyata!!!!)

"Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu? Perasaan ini terlalu kuat untuk aku tolak." Ucap Leon padanya begitu dia melepaskan ciumannya. Setelah menghapus airmata pada pipi Kang Lim, Leon mengecup pelan kedua pipinya.

"Ayo kita bicara lagi didalam." Ajak Leon yang langsung dituruti oleh Kang Lim. Tepat setelah Kang Lim mengunci pintu apartemennya, dia langsung memeluk Leon yang baru saja melepas sepatunya.

"Kang Lim... Aku tidak punya hubungan yang spesial dengannya, kami berdua hanya sebatas rekan kerja." Jelas Leon padanya.

Air matanya kembali mengalir, namun Kang Lim suara sedikitpun. Dia hanya diam dan menurut dengan patuh saat Leon membawanya ke sofa dan saling berpelukan disana.

"Kau masih marah, Kang Lim?" Tanya Leon padanya memecah keheningan, yang Kang Lim jawab dengan gelengan.

"Aku tidak marah. Sama sekali tidak." Tambahnya.

"Baiklah... Apa kamu sudah baikan?" Kali ini Leon mengganti pertanyaannya.

"Ya, lebih baik."

"Tunggulah, aku akan segera kembali." Kata Leon mengecup kening Kang Lim lalu pergi ke kamar mandi. Tak butuh waktu lama dia kembali dengan sebaskom air dan sebuah handuk.

"Aku minta maaf karena sudah membuatmu khawatir."

"Tidak masalah." Balas Kang Lim dengan tenang sembari memperhatikan Leon yang sedang membersihkan kakinya.

"Kamu membuat aku kaget tau. Berlari tanpa alas kaki sambil menangis. Jika tadi jalanan ramai maka kamu akan langsung menjadi pusat perhatian."

"Maaf, aku panik dan berlari secara spontan."

"Tidak apa-apa. Aku sudah melihatnya." Obrolan yang tenang itu berlanjut hingga Leon selesai membersihkan kaki Kang Lim, sekaligus mengobati bagian-bagian telapak nya yang mengalami lecet.

"Kamu sudah makan?" Tanpa melihat Kang Lim yang masih duduk di sofa, Leon bertanya sambil membereskan kota p3k.

"Belum."

"Kalau begitu biar aku yang masak."

"Tidak perlu biar aku saja."

Perdebatan kecil mulai terjadi kala Leon dan Kang Lim bersikeras untuk memasak. Keduanya terus berdebat hingga akhirnya lelah sendiri.

"Aduh... Aduh... Lama gak ketemu bukannya sayang sayangan malah debat." Suara seseorang mengalihkan keduanya dari perdebatan yang sedang terjadi.

Leon dan Kang Lim baru saja menyadari










Pernikahan Dini Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang