Sorry ya jarang up cerita, soalnya lagi sibuk belakang ini.
Sebelum lanjut alangkah baiknya beri vote untuk chapter ini ya
Hehehe
😁
••§••
Di bawah sinar bulan yang sejuk dan suasana yang sunyi tenang cowok terlihat sedang duduk di meja belajarnya, mengerjakan beberapa tugas sekolah yang menumpuk karena dirinya sendiri yang dikasih tugas tapi tak langsung dikerjakan, diantara kalian pasti ada yang sama kayak dia kan? Jujur...
jendela terbuka lebar mempersilahkan angin sejuk masuk mengabsen isi kamar. Dia tak bisa fokus di pikirannya dipenuhi dengan nama Janu perasaannya mulai tidak enak "tadi Nunu kenapa buru buru, ya?" Tanyanya pada dirinya sendiri.
Matanya kini tertuju pada buku diary berwarna kuning milik Janu tergeletak di lantai sampai tempat tidur. Buku itu dihias dengan beberapa stiker lucu dan manis tak kalah dengan pemiliknya, terdapat tulisan kisah dan harapan ku disana.
Alden sedikit membungkukkan badannya mengambil buku itu. "Nunu bahkan gak bawa barang barangnya pulang"
Kalau boleh jujur, Alden sangat ingin membuka dan membaca diary saat itu juga. Tapi disisi lain Alden juga ingin menjaga privasi Janu.
Ia menghembuskan nafasnya kasar, dia memasukkan buku diary itu ke dalam tas sekolah Janu. "besok gue anterin tasnya Nunu ah," celetuknya. "kira kira Nunu lagi ngapain ya?" Alden memandangi jutaan bintang di langit malam.
Sekilas, kejadian membara malam itu melintas cepat dipikirannya, Alden tak kuasa menahan seringainya, "Nunu manis banget di waktu tertentu"
••§••
Malam semakin larut, hawa dingin menusuk permukaan kulit, remaja berkulit putih berjalan pelan menuju rumah, raut wajahnya datar, matanya juga sembab akibat terlalu kelelahan, tubuhnya membungkuk, tak sanggup menanggung beban hidup yang ditanggungnya sendirian.
Tok!... Tok!... Tok!...
Wajahnya tertunduk begitu pintu terbuka, diambang pintu Adi berdiri tegak sembari menyilangkan tangan di dada. Kedua matanya naik turun liat anaknya yang tampak kacau balau didepannya, "gimana ... !!?"
"Maaf pak, Janu belum dapet kerjaan" lirihnya pelan. Ia menutup kedua matanya yang mulai memanas.
Adi memutar bola matanya malas, lelah berdebat ia memutuskan untuk kembali masuk kedalam. Namun, saat ingin menutup lagi pintu itu, ada kata yang buat hati kecil dan dinginnya terusik.
"Pak, Janu boleh istirahat di Rumah gak? ... Janu, capek"
Tak merespon ucapan anaknya, ia memilih masuk membiarkan pintu yang masih terbuka, menandakan Janu boleh istirahat dirumah lagi. Janu yakin, dibalik sifat Adi pasti ada sisi lain dirinya yang begitu baik.
••§••
Dimeja belajarnya tampak Janu sedang melamun sambil menahan kepala di telapak tangan, sedangkan tangan kirinya memegang pensil yang terus bergerak kesana kemarin tanpa tau ingin menggambar apa di permukaan sketchbook.
Begitu tersadar dari lamunan, pensil juga ikut berhenti, garis demi garis itu ia perhatikan dengan teliti, bagi orang lain tampak seperti coretan abstrak biasa, tapi bagi cowok itu, coretan asalnya menghasilkan sketsa suatu tempat yang begitu menarik perhatiannya. Imajinasinya semakin liar, ia bisa melihat keseluruhan coretan merupakan suatu tempat yang indah. "Adek pasti suka."
Ia menggeledah meja belajar kayu mencari sesuatu, namun ada hal janggal disana. Lirikan matanya menangkap sebuah amplop berwarna putih terhimpit buku tua di ujung meja.
Janu memiringkan kepala, kedua alisnya mengerut bingung. Perlahan ia menarik amplop itu dan membukanya, ternyata berisi uang ratusan ribu dengan nominal yang sangat besar. Jantung yang berdebar lebih cepat dari biasanya, amplop siapa itu?
Janu membolak balikan amplop berharap ada nama si pengirim, tapi nihil, bahkan sekedar tanda tangan pun tak ada.
Namun, dibalik pembuka amplop terdapat tulisan yang buru-buru ditulisi dengan pulpen biru. Kata itu berbunyi.
"Gunakan uang ini sebaik mungkin"
Setiap kata ia resapi, tapi semakin dibaca ulang semakin dia tak percaya, tulisan itu sangat dikenalnya, "serius bapak ngasih gue uang segini banyak?" Setau Janu, Adi itu orang yang kasar dan egois, sulit baginya percaya kalau itu dari ayahnya sendiri.
Janu membekap amplop itu, wajah yang tadi tampak lelah kini kembali segar lagi, ' apa ini pertanda dari Tuhan? Apa bapak bisa berubah? '
Perlahan ia langsung menyimpan amplop tadi kedalam laci, seolah barang itu rapuh, hilang bila tak dijaga dengan baik. Senyum tipis tergambar di wajah, sangat jarang seharian sakitnya itu tak kambuh. Janu cuma ingin sakitnya itu tak akan pernah datang lagi.
Beberapa sticky note kuning terpakai, berisi kata-kata penyemangat juga tujuan yang ingin dia lakukan. Sembari mengulum senyum, tangannya bergerak menempel semuanya pada dinding di depan agar bisa selalu dibaca begitu ia ingin duduk. ' semoga adek gue suka '
Tbc.
Thanks yang udah baca ceritanya sampai habis, tunggu chapter selanjutnya ya.
Jangan lupa vote😊😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Wings of dreams
JugendliteraturJanu Pradipta, seorang remaja laki-laki yang hidupnya sih ribet, tapi asal masih bisa ngelawak bareng sahabat sahabatnya, ya ... It's oke, hidupnya tetap jalan. Tapi akhir-akhir ini dia mulai ngerasa aneh, kayak ... Kenapa jantungnya berisik begitu...
