Chapter 36

861 65 2
                                        

Happy reading!
.
.
.
.
.
.
.
.
***

-Indraprasta-

Tempat yang awalnya terkutuk, kini berubah menjadi sebuah kerajaan megah yang di pimpin oleh para Pandawa dan itu semua berkat Ratunya, yaitu Drupadi

Dia dengan segala kebaikan hatinya mampu membuat Dewa pun menghilangkan kutukan yang ada di tanah itu

Semenjak saat itu, entah kenapa para Pandawa mulai berbalik ke arahnya, tentu saja itu membuat Drupadi senang, ia akhirnya mendapatkan suaminya

Dan daripada itu, kabar bahagia bahwa Drupadi sedang hamil pun membuat semuanya semakin penuh sukacita

Drupadi menatap bunga-bunga lewat jendela kamarnya, bunga-bunga itu terasa sangat segar

Ada banyak macam bunga yang di tanam, termasuk juga bunga lavender, bunga kesukaan Mastani.. sahabatnya

Dari jendela Drupadi pun memetik satu bunga lavender, aromanya pun menguar di hidung Drupadi

Drupadi menatap bunga itu dengan seksama, bunga ini mengingatkan nya pada Mastani
"Dimanakah dirimu Mastani.. apakah kau baik-baik saja di sana?.. lihatlah aku sekarang sedang mengandung keponakanmu.."

Dengan tangan yang di baluti oleh hena Drupadi membelai bunga itu
"Bunga ini sangat cantik, sama sepertimu.. Mastani, aku berharap kau dalam keadaan yang baik-baik saja.."

"Aku tidak pernah membencimu, tidak..aku tidak bisa membencimu.. meskipun aku tau bahwa dalam hati suami-suami ku masih ada dirimu, tapi entah kenapa aku tidak bisa membencimu.."

"Panchali.."di tengah-tengah lamunannya sebuah suara memanggil Drupadi

Drupadi pun berbalik ke arah sumber suara dan terlihatlah Bima yang berdiri dengan gagahnya
"Ada apa tuanku?"

"Apa yang kau lakukan di sana? Kau harus banyak beristirahat.. bagaimana kalau kau kelelahan?"ujar Bima dengan khawatir membuat Drupadi tersenyum
"Aku tidak akan pernah lelah untuk semua ini tuanku"

"Tetap saja aku khawatir.."

"Baiklah tuanku..aku akan beristirahat agar mengurangi kekhawatiran mu"

Bima pun tersenyum ia kemudian membawa Drupadi untuk duduk di kasurnya
"Istirahatlah Panchali..aku akan menjaga mu disini.."lalu mata Bima tidak sengaja melihat bunga lavender yang di pegang oleh Drupadi

"Lavender?"

"Ya tuanku, aku mengingat sahabatku.."melihat ekspresi wajah Drupadi yang sedikit murung, Bima pun lantas berkata
"Aku yakin dia akan baik-baik saja.."

"Tapi bagaimana dengan sumpahnya itu?"

"Kau tidak perlu memikirkan itu..fokuslah pada kesehatanmu"ujar Bima dan kemudian mengambil bunga itu dari tangan Drupadi

Ia membaringkan tubuh Drupadi dan menjaga Drupadi sampai ia terlelap dan setelah itu Bima pun keluar

Dia berdiri di balkon lorong istana, Bima membuka tangannya melihat bunga lavender yang ada di tangannya

Harum semerbak bunga Lavender memenuhi indra penciuman Bima
"Mastani..aku merindukanmu, merindukan masakanmu..kau lihat aku sudah melakukan apa yang kau perintahkan padaku, aku menjaga Panchali dengan baik.. tetapi tetap saja aku tidak bisa menipu hatiku.. nyatanya hati dan pikiran ku masih tertuju padamu"

Bima bahkan masih mengingat dengan jelas raut wajah Mastani ketika ia sedang bingung mendengar percakapan diantara para Pandawa

Bima bahkan masih mengingat dengan jelas raut wajah Mastani ketika ia sedang bingung mendengar percakapan diantara para Pandawa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Aku mencintaimu.. kemarin, hari ini..esok, selamanya"

***

"Ayah! Aku mau makan ladoo.."

"Iya ayah tau, tapi kau harus berjanji bahwa kau tidak akan memukul anak laki-laki lagi?"

"Ayah, mereka yang menganggu ku tentu saja aku harus memberi mereka pelajaran.."

"Dengar anak manis...kau" dan seterusnya

Kini Mastani sedang duduk di tangga bersama Chandramukhi menatap percakapan seorang ayah dan putrinya

"Perempuan tanpa laki-laki tetaplah seorang ratu, tapi perempuan tanpa ayah bagai cahaya yang hilang menjadi gelap"

Perkataan Chandramukhi membuat Mastani seketika mengingat Bisma, ayahnya

Lamunannya membawa Mastani pada kenangan masa lampau, dimana Bisma selalu memprioritaskan dirinya

Senyum miris pun terukir di wajah Mastani yang juga mengingat ketika ayahnya tidak membela dan menatapnya saat ia di hina oleh raja

Jika itu orang lain mungkin Mastani tidak akan sakit hati seperti ini, Mastani kadang berpikir apakah semua ini mimpi?

Semua yang mendukungnya tiba-tiba berbalik meninggalkannya, jika ingin lebih teliti maka kalian akan tau betapa rapuhnya Mastani, kekuatan yang ia punya sekarang hanyalah rasa dendam dan amarah

'Katamu kau akan selalu ada di sisiku, tapi nyatanya tidak'batin Mastani

"Apa yang kalian berdua lakukan di sini?"suara Ram terdengar dari belakang mereka

Chandramukhi dan Mastani segera bangun dan memberikan salam pada Ram
"Tidak tuan..Nona berkata bahwa ia ingin menghirup udara segar jadi aku membawanya kesini"

"Hm..Leela, kemarilah"Mastani lantas maju kedepan Ram
"Ayo kembali ke kamar, sebentar lagi sudah malam..kau menginap saja disini.."

Lalu Ram membawa Mastani pergi dari tempat itu, sementara Chandramukhi hanya menatap punggung mereka berdua

-Kini di kamar-

"Leela, ini susu untukmu dan bayimu"Ram menyerahkan segelas susu hangat

"Terimakasih Ram"Mastani pun menerima susu itu dan meminumnya sampai habis
"Kau begitu baik padaku.. apakah ada hal yang dapat ku lakukan agar membalas budi kepada mu?"

Ram pun menerima gelas kosong itu dan menyimpannya di atas meja
"Untuk saat ini tidak ada yang perlu lakukan.."

"Kau ingin membuat ku terus berhutang budi padamu?"tebak Mastani

Ram tersenyum lucu saat mendengar perkataan Mastani
"Tentu saja Leela..kau menebaknya dengan sangat tepat."

"Alasannya?"

"Untuk sekarang biarlah hanya aku dan Dewa yang mengetahui ini.."

Mastani berdecak sebal
"Kalau begitu pergilah, aku ingin tidur.."

"Kau mengusirku?"

"Kenapa? Kau ingin memarahi ku?"Ram pun menggelengkan kepalanya

"Selamat tidur"setelah itu Ram keluar dan menutup pintu kamar Mastani

Sementara Mastani ia masih menatap langit malam dari jendela, itu sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil

Setidaknya rencana Mastani sudah berjalan sedikit demi sedikit, setelah beberapa bulan mencari tau tentang desa itu akhirnya Mastani bisa bertemu langsung dengan pemimpinnya

Berdasarkan hal yang di lihat Mastani dapat menyimpulkan bahwa Ram adalah pria yang memiliki banyak wanita, dilihat dari isi rumahnya saja orang juga bisa tau

Ada banyak kamar di sini, dan rata-rata berisi para perempuan malam
'mungkin untuk di sewakan?'batin Mastani sambil mengangkat kedua bahunya tidak peduli, ia hanya peduli dengan kuasa Ram

Sementara itu Ram yang berada di ruang kerjanya sedang duduk dan menatap langit malam hal yang sama di lakukan oleh Mastani

"Tuan, anda tidak tidur di kamar anda?"tanya salah satu tangan kanan Ram

Sambil menghisap cerutu nya Ram menjawab
"Kamarku sedang di tempati oleh keindahan yang tiada tara di dunia ini, tidak mungkin diriku ada disana...kau tau betapa kotornya diriku"

"Apakah Tuan jatuh cinta pada Nona Leela?"

Ram terdiam dan menatap langit malam tanpa berkedip

Melihat tuannya yang terdiam membuat Saliman, tangan kanan Ram juga tidak bertanya lagi

***

Jangan lupa mampir di tik tok author
mastani5736

Cerita ini di buat iseng-iseng aja, tidak sepenuhnya mengikuti alur Mahabharata, akan ada banyak hal yang di ubah terutama tentang peperangan Bharatayuddha

TBC

***

Mastani Venenum World[END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang