Chapter 32

917 66 8
                                        

Happy reading!
.
.
.
.
.
.
.
.
***

Angin malam berhembus kencang membuat rambut Mastani berterbangan, penampilannya sangat jauh dari kata baik

Tubuh penuh darah dan luka namun matanya terlihat dingin dan penuh amarah serta demam

Mastani berjalan tanpa berbalik ke belakang meski Duryudana dan para Pandawa memanggilnya dan mengejarnya

Gadis cantik itu menghentikan langkahnya membuat Duryudana dan para Pandawa pun juga ikut menghentikan langkah

"Mastani, aku mohon kembalilah, jangan tinggalkan aku.."Duryudana bahkan sampai berlutut

"Mastani..kami tau kami telah berbuat salah tapi tolong jangan tinggalkan kami, kami akan bertanggung jawab atas semuanya"Arjuna dan yang lainnya pun ikut berlutut

Sorot mata Mastani semakin tajam, rahangnya mengeraskan
"Bertanggung jawab? Saat aku di sidang apa yang kalian lakukan untuk ku?"

"Mastani kami-"

Mastani mengangkat tangannya menyuruh berhenti berbicara
"Dengarlah..aku telah mengingat kalian dalam setiap kedipan mataku"Mastani memegang lehernya
"Mulai hari ini dan selanjutnya Hastinapura akan hidup dalam kehancuran dan kegelapan sesungguhnya, aku bersumpah akan menjadikan seluruh wilayah Hastinapura menjadi lautan darah dan akan ku jadikan tempat pemandian ku"bersamaan dengan itu kilat pun menyala-nyala di atas mereka

Dengan demikian Mastani pun berjalan meninggalkan Hastinapura, meninggalkan Duryudana dan para Pandawa yang berlutut

"MASTANI!"

"TIDAK!"

Mereka mencoba untuk mengejar Mastani namun di halangi oleh api yang besar, serta angin yang begitu kencang

***

Di tengah gelapnya malam, berjalanlah seorang wanita yang bersimbah darah serta luka-luka Di tubuhnya

Matanya memerah namun tatapannya kosong tetapi langkahnya tetap membawanya pada gelapnya hutan

Mastani berjalan seakan tak pernah berhenti, ia hanya mengikuti kemana langkah kaki membawanya

Entah ini di hutan mana, tetapi Mastani kini sudah berdiri di sebuah tebing tinggi yang di bawahnya terdapat lembah yang begitu dalam

Angin berhembus kencang membuat rambut Mastani berterbangan, wajahnya kini terlihat jelas meski di tutupi oleh darah

Penampilannya begitu berantakan tetapi kecantikannya masih terlihat, jika ada orang yang melihatnya mungkin mereka akan berkata ia adalah hantu yang cantik

Tatapan dingin dan penuh dendam itu menelisik lembah di depannya, Mastani memutuskan untuk turun ke dalam lembah itu

Menuruni lembah yang curam membuat Mastani harus ekstra hati-hati apalagi dirinya sedang dalam keadaan terluka.

Setelah menghabiskan waktu sekitar beberapa jam Mastani pun sampai di dasar lembah tersebut, ia menatap ke arah langit ternyata sang Surya sudah menampakkan dirinya

Darah telah mengering di tubuh Mastani, membuat warna kulitnya tertutupi dan di hiasi oleh luka

Di sela-sela perjalanannya, terdengar suara dari balik semak-semak di depannya, Mastani pun semakin waspada

Bunyinya semakin besar, membuat Mastani segera meremat tangannya

Dan terdengarlah geraman singa yang begitu besar, saking besarnya Mastani sampai terdorong beberapa langkah

Singa itu berdiri di depan Mastani dan menatapnya dengan tatapan lapar, sepertinya aroma darah yang ada di tubuh Mastani memancing hewan itu datang

Mastani menatap tajam ke arah singa itu, saat ini Mastani tidak memiliki senjata apapun, yang bisa ia andalkan adalah kaki dan tangannya serat otak untuk berpikir bagaimana untuk keluar dari situasi ini

Mastani Venenum World[END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang