Chapter 33

956 85 10
                                        

Happy reading!
.
.
.
.
.
.
.
.
***

BRAKKKKKKK

Duryudana menendang guci antik yang ada di dalam kamarnya sehingga jatuh dan pecah

Dia menjatuhkan seluruh barang-barangnya dan bahkan melempar serta membantingnya

Saking emosinya tangannya yang telah terluka pun tidak di rasakan oleh-nya

"MASTANI!"teriak Duryudana penuh frustasi, ia jatuh berlutut di depan lukisan milik Mastani

Perasaan amarah, sedih dan kecewa bercampur aduk di dalam hati dan pikirannya

Marah karena ia tidak mampu membela Mastani, sedih karena ia kehilangan cintanya dan kecewa karena ayahnya begitu tega terhadap Mastani

Duryudana, putra tertua dari Raja Drestarasta dan Ratu Gandari yang terkenal angkuh dan sombong, kini sedang menangis di hadapan lukisan pujaan hatinya

"Kenapa semuanya menjadi seperti ini, KENAPA!"

"Mastani..aku salah, aku lemah, aku tidak mampu untuk melindungi mu,aku..aku.."

Duryudana tak sanggup melanjutkan kata-katanya, ia hanya mampu menangis dan menangis

"Harusnya aku melindungi mu.."lirih Duryudana di tengah-tengah tangisannya

"Maafkan aku.. maafkan aku.."

"Sayang maafkan aku.."Duryudana mengatupkan kedua tangannya di depan lukisan Mastani yang sedang tersenyum manis

Matanya memerah, wajahnya yang tampan kini berubah menjadi menyedihkan
"Maaf... maafkan aku Mastani.."
Duryudana terus menggumamkan kata maaf dari mulutnya

Sementara itu di gerbang istana, Dursasana dan para Kurawa yang lainnya, mereka baru saja tiba dari negeri seberang

"Kakak, kenapa istana begitu gelap?"tanya Durdarsa

Dursasana pun hanya diam, para penjaga pun mengkatup mulut mereka

Lalu mata Dursasana melihat ke arah tanah, ia menggunakan obor untuk menerangi tanah dan ia mendapati ada darah yang berceceran

"Durdarsa, pegang obor ini"ujar Dursasana sebelum ia masuk ke dalam istana

Dursasana pun berlari dengan kencang ke dalam istana, ia langsung menuju kamar Mastani dan tidak mendapati apapun

Lalu teringatlah ia pada Duryudana, Dursasana kembali berlari ke kamar Duryudana

Betapa terkejutnya Dursasana saat sampai di kamar Duryudana, berantakan dan banyak beling serta ada bercak darah

"Kakak, apa yang terjadi?"Dursasana melihat Duryudana yang berlutut menghadap lukisan Mastani

"Ini semua salah Pandawa"lirih Duryudana

"Ada apa kak!? Apa yang terjadi?"

"Dursasana adikku, Mastani telah meninggalkan kita"bisik Duryudana lemah

"Apa!?"

"Dia pergi..dia meninggalkan kita.. meninggalkan Hastinapura dan itu semua karena Pandawa!"

"Kakak, jelaskan padaku apa yang terjadi, apa yang mereka lakukan pada Mastani?"sentak Dursasana

Duryudana pun bangun dan berjalan ke arah Dursasana, kemudian ia memegang kedua bahu Dursasana
"Para Pandawa telah melecehkan Mastani..ayah mengira Mastani yang telah menggoda mereka dan menghukumnya, tapi ternyata Mastani di jebak, dan pastinya oleh para Pandawa, mereka ingin mengikatnya.."

Mata Dursasana membelak, nafasnya memburu, amarah mulai menguasai akalnya
"Aku akan membunuh mereka"Dursasana ingin pergi pada Pandawa namun Duryudana menahannya

Mastani Venenum World[END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang