Hari itu, Rifqi sedang kesulitan mencari bahan tugas sejarah yang harus dikumpulkan minggu depan. Dia terpaksa ke perpustakaan, tempat yang jarang sekali dia datangi. Di sana, dia tidak sengaja bertemu Gracie yang sedang asyik membaca buku.
Rifqi (berdiri di samping meja, mencoba terlihat santai):
“Eh, lo ngapain di sini? Nggak nyangka ada idol yang rajin ke perpustakaan.”
Gracie (mengangkat kepala dan tersenyum):
“Yaelah, idol juga tetap murid biasa, kali. Gue di sini nyari referensi buat tugas sejarah.”
Rifqi (mengeluh):
“Sama! Tapi gue bingung banget, nggak ngerti apa yang harus gue cari.”
Gracie (tertawa kecil, lalu menepuk kursi kosong di sebelahnya):
“Sini, duduk. Gue bantuin. Kebetulan gue udah nemu beberapa buku yang mungkin bisa bantu lo.”
Rifqi duduk di samping Gracie dan memperhatikan saat dia mulai menjelaskan beberapa poin penting dari buku yang sudah dibacanya. Gracie tampak serius menjelaskan, dan Rifqi merasa senang melihat sisi cerdas dari Gracie.
Rifqi (bercanda):
“Hebat, lo ternyata pinter juga, ya. Gue kira lo cuma jago dance.”
Gracie (tersenyum, sedikit tersipu):
“Jangan salah, dong. Kalau nggak rajin, gue bisa kena tegur manajer nanti. Salah satu aturan di JKT itu tetap fokus sama pendidikan.”
Rifqi:
“Seriusan? Sampai segitunya? Lo jadi nggak bisa seenaknya, ya?”
Gracie:
“Iya, semua harus diatur. Kadang gue pengen bebas juga sih, tapi ya namanya juga kontrak. Gue yang milih jalan ini, jadi gue harus tanggung jawab.”
Rifqi mulai paham bahwa kehidupan Gracie sebagai idol tidak seindah yang dibayangkan orang-orang. Ada banyak aturan dan batasan yang harus ia ikuti. Seketika, Rifqi merasa simpati dan kagum.
Rifqi (berusaha menenangkan):
“Tapi gue salut sama lo, Cie. Lo berani ngejar impian lo meskipun harus banyak berkorban. Gue yakin banyak yang nggak tahu sisi lo yang ini.”
Gracie (tersenyum kecil):
“Makasih, Rifqi. Gue nggak butuh orang lain buat ngerti, cukup lo aja yang tau. Gue seneng ada temen kayak lo.”
Suasana berubah jadi lebih tenang. Keduanya saling menatap sebentar, lalu Gracie kembali melihat bukunya, sedikit tersipu. Di sisi lain, Rifqi mulai menyadari perasaannya tumbuh lebih dari sekadar teman.
Gracie (menggoda, mencoba mencairkan suasana):
“Awas lo, ya! Kalau tugasnya nggak beres setelah gue bantuin, gue bakal marah.”
Rifqi (tertawa):
“Tenang aja, sensei! Gue bakal belajar yang bener. Demi lo.”
Gracie tersenyum, dan pertemuan di perpustakaan hari itu meninggalkan kesan mendalam bagi keduanya. Semakin hari, mereka merasa semakin dekat. Namun, baik Gracie maupun Rifqi tahu bahwa kedekatan ini harus dijaga secara diam-diam.
To be continued...
KAMU SEDANG MEMBACA
Temen Gue Member JKT48
Romance[WARNING: karakter Rifqi disini sekehendak kalian, disini ga menjerumus ke orang tertentu] Gracie, member JKT48 yang pindah ke SMA Tunas Harapan, nggak terlalu diperhatikan Rifqi yang lebih suka main game. Namun, kedekatan mereka membuat Rifqi jatuh...
