Go home dan bimbang

28 1 0
                                        

Rifqi Pulang ke Rumah

Bandara
Rifqi berjalan keluar dari terminal kedatangan dengan ransel besar di pundaknya. Meski lelah setelah perjalanan panjang, senyumnya tetap merekah. Di luar, Pratama dan Refianto sudah menunggu dengan wajah penuh semangat.

Pratama:
"Woi, anak bule balik kampung juga akhirnya!"

Refianto:
"Bro, gimana? Bawa koper penuh dolar, nggak?"

Rifqi (tertawa sambil memeluk mereka):
"Ah, kangen banget sama kalian. Koper kosong, isinya cuma vote buat Gracie di Sousenkyou."

Pratama (menggoda):
"Liat tuh, si fanboy sejati! Baru turun pesawat, udah nyebut-nyebut Gracie lagi!"

Mereka tertawa sambil berjalan menuju mobil, meskipun di dalam hati, Rifqi sedang memikirkan sesuatu yang berat.

Kamar Rifqi
Setelah mandi dan sedikit istirahat, Rifqi duduk di tempat tidurnya dengan laptop di pangkuan. Ia membuka file spreadsheet berisi tabungan magangnya. Totalnya muncul di layar: Rp1.100.000.000.

Rifqi (dalam hati):
"1,1 miliar. Kalau satu suara Rp12.000, berarti aku bisa beli... sekitar 91.666 suara. Tapi ini cukup nggak, ya, buat bikin Gracie jadi nomor 1?"

Dia termenung. Sousenkyou bukanlah kompetisi biasa. Peringkat 1 selalu mendapat ratusan ribu suara dari fans yang luar biasa totalitas.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Video call dari Gracie.

Gracie:
"Sayang! Kamu udah di rumah? Gimana perjalanan pulangnya?"

Rifqi (tersenyum):
"Udah kok, baru aja selesai mandi. Kamu sendiri gimana? Latihan hari ini oke?"

Gracie (tersenyum kecil):
"Oke sih, tapi aku tetap deg-degan soal Sousenkyou. Aku tahu fans pasti berusaha keras, tapi aku takut mereka kecewa."

Rifqi (dengan suara menenangkan):
"Kamu nggak usah mikir begitu. Aku janji, aku bakal dukung kamu habis-habisan. Kamu harus percaya sama aku."

Gracie:
"Aku percaya, kok. Tapi jangan terlalu memaksakan diri, ya."

Rifqi hanya tersenyum. Dia tahu Gracie khawatir, tapi ini adalah momen di mana dia ingin menunjukkan betapa pentingnya Gracie baginya.

---

Sekolah
Keesokan harinya, Rifqi kembali ke sekolah. Di kantin, dia duduk bersama Pratama dan Refianto, yang langsung menyambutnya dengan canda.

Refianto:
"Jadi, bro, duit lu udah nganggur buat voting, nih?"

Rifqi:
"Ya... begitulah. Tapi aku masih ragu. Meski tabungan magangku banyak, peringkat 1 itu berat banget. Fans member lain pasti nggak kalah gilanya."

Pratama (berpikir):
"Sebenernya, lu bisa kok bikin strategi. Duit lu bisa jadi awal, tapi harus ada dukungan fans lain juga. Nggak mungkin lu sendiri yang nanggung semuanya."

Rifqi:
"Iya sih. Tapi aku harus cari cara biar fans makin termotivasi buat voting. Kalau mereka lihat aku totalitas, mungkin mereka juga bakal ikutan."

Refianto (tertawa kecil):
"Motivasi? Hmm, bikin giveaway aja! Misalnya, yang nyumbang suara terbanyak dapet hadiah spesial dari Gracie!"

Rifqi (menggeleng sambil tertawa):
"Nggak bisa lah. Itu kayak eksploitasi Gracie, tau! Aku nggak mau ngerusak nama dia."

Mereka bertiga tertawa. Meski suasana ringan, Rifqi tahu bahwa waktu terus berjalan. Sousenkyou semakin dekat, dan ia harus segera mengambil langkah.

---

Malam Hari – Kamar Rifqi
Rifqi menatap layar laptopnya lagi. Tabungannya cukup besar, tapi ia tahu itu belum tentu cukup untuk membawa Gracie ke puncak.

Rifqi (dalam hati):
"Ini semua demi Gracie. Aku harus coba. Kalau nggak sekarang, kapan lagi?"

Dia mengecek kalender. Bulan depan, voting akan dimulai, dan ia harus memanfaatkan setiap hari libur untuk mempersiapkan segalanya.

Tiba-tiba, pesan masuk di ponselnya dari Gracie.

Gracie:
"Sayang, aku cuma mau bilang makasih buat semua yang kamu lakuin buat aku. Aku tahu ini nggak mudah, tapi jika aku ga top 1 juga gapapa, mungkin emang bukan rezeki ku."

Rifqi tersenyum kecil, lalu membalas pesan itu.

Rifqi:
"Kamu nggak perlu makasih, sayang. Aku lakuin ini karena aku percaya kamu layak jadi nomor 1,hushh jangan ngomong gitu doakan saja yaa nanti."

To be continued...

Temen Gue Member JKT48Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang