Jangan lupa di baca
---Happy reading---
Anesha menghela napas. "Lalu, bagaimana dengan aku? Apa menurutmu aku akan bertahan di tempat ini?"
Louis tersenyum kecil, tapi ada kesedihan di matanya. "Kau punya cara bertahan yang unik. Tapi itu tidak cukup jika kau tidak tahu siapa musuhmu."
Anesha menatapnya tajam. "Musuhku? Kau tahu sesuatu, kan? Apa sebenarnya yang terjadi di sini?"
Louis tidak langsung menjawab. Ia meletakkan pedangnya dan menatap Anesha dengan serius. "Kau benar. Aku tahu lebih banyak daripada yang kubiarkan kau tahu. Tapi percayalah, tidak semuanya bisa kukatakan sekarang."
"Kenapa?" Anesha mendesak, merasa frustrasi. "Kalau kau tahu sesuatu, bukankah lebih baik aku tahu juga?"
Louis menggeleng pelan. "Ada hal-hal yang hanya bisa kau pahami jika kau mengalaminya sendiri. Dan aku tidak ingin merusak peluangmu untuk menemukan jawaban itu."
Anesha mendecak, merasa jawaban itu tidak memuaskan. "Kau selalu penuh teka-teki. Kadang aku merasa kau lebih seperti musuh daripada sekutu."
Louis tertawa kecil, tapi tawa itu terdengar pahit. "Mungkin karena aku memang bukan sekutu yang baik."
Malam itu berlalu dengan ketegangan yang menggantung di udara. Anesha merasa ada sesuatu yang besar yang disembunyikan Louis, tapi ia tidak tahu bagaimana cara mengungkapnya.
---
Keesokan paginya, rombongan mereka melanjutkan perjalanan menuju perbatasan utara. Semakin jauh mereka berjalan, semakin jelas bahwa situasi semakin berbahaya. Jejak pertempuran terlihat di sepanjang jalan—kereta yang terbakar, mayat yang sudah membusuk, dan bendera Akraval yang terkoyak.
"Ini lebih buruk dari yang kukira," gumam salah satu pengawal.
Anesha merasakan ketegangan meningkat di antara mereka. "Apakah ini benar-benar hanya tugas pengantaran pesan?" pikirnya.
Ketika mereka akhirnya mendekati Benteng Blackthorn, matahari hampir tenggelam. Benteng itu berdiri megah di puncak bukit, tapi suasananya suram. Para prajurit di gerbang tampak waspada, dengan senjata siap di tangan.
"Kami datang untuk mengantarkan pesan dari Raja Vandoria," kata salah satu pengawal kepada penjaga gerbang.
Penjaga itu mengangguk dan memberi isyarat agar mereka masuk. Namun, sebelum mereka sempat melangkah lebih jauh, suara keras bergema dari dalam benteng.
"Siapa yang berani mengganggu wilayahku tanpa izin?!"
Seorang pria tinggi dengan baju zirah hitam keluar dari dalam, matanya tajam seperti elang. Anesha langsung tahu bahwa ini pasti Komandan Altair.
"Komandan Altair," kata pengawal itu dengan hormat. "Kami membawa pesan penting dari Raja Vandoria."
Altair memandang mereka dengan curiga, lalu tatapannya beralih ke Anesha. "Dan siapa gadis ini? Apa dia bagian dari pesan itu?"
Anesha merasa darahnya mendidih, tapi sebelum ia sempat menjawab, Louis melangkah maju. "Dia utusan yang ditunjuk langsung oleh Raja. Jika kau ingin tahu lebih banyak, bacalah pesannya."
Altair mengangkat alis, lalu mengambil gulungan surat yang diberikan pengawal. Ia membukanya dan membaca dengan cermat. Wajahnya berubah serius saat ia selesai membaca.
"Ini bukan pesan biasa," katanya, suaranya rendah tapi penuh arti. "Kau tahu apa isi pesan ini, anak muda?"
Anesha menggeleng, tapi Louis tampak tidak terkejut. "Tentu saja tidak. Itu sebabnya kami membawanya langsung kepadamu."
Altair mendekat, menatap mereka dengan intens. "Pesan ini adalah deklarasi perang. Raja Vandoria memerintahkan kami untuk menyerang Akraval dalam waktu tiga hari."
Anesha merasa tubuhnya melemas. "Deklarasi perang? Tapi... kenapa aku yang harus mengantarkannya?"
Altair menatapnya tajam. "Karena kau adalah bagian dari permainan yang lebih besar. Dan sekarang, kau tidak punya pilihan selain terlibat."
Jangan lupa di vote ya temen temen
KAMU SEDANG MEMBACA
who is she??
Teen FictionSeorang anesha si gadis bar bar yang Bertransmigrasi ke tubuh wanita yang menurutnya adalah gembel . Ia Bertransmigrasi di zaman kuno " GA mungkin anj muka gua mirip gembel, Ini pasti lu lagi ngerjain guaa kan temmm " tuduh anesh kepada sistem Leb...
