18

30 3 0
                                        

Up upp author update lagii











---Happy reading---

Hari-hari berlalu.

Anesha hanya duduk menatap jendela. Tubuhnya masih terlalu lemah untuk bergerak banyak, dan pikirannya... lebih lelah lagi.
Setiap hari matahari terbit dan tenggelam, tapi hatinya seperti diam di satu titik: detik saat ia meledakkan permata itu. Detik saat ia kehilangan sebagian jiwanya untuk menyelamatkan dunia.

Namun pagi itu berbeda.

Dari balik dinding Istana yang megah, suara-suara mulai terdengar.
Suara bisik-bisik. Suara yang tidak biasa.
Suara yang membawa nama asing... tapi terasa sangat akrab di ujung kesadarannya.

" Apakah aku boleh menjenguknya, Louis? "

Langkah kaki terdengar mendekat—berat, penuh beban. Suara Louis menyusul, dingin dan terukur.

" Kenapa kau harus melakukan itu? "

Sesaat hening. Lalu, sebuah suara lain muncul. Dalam, tenang, namun penuh tekanan.

" Karena kau tak tahu siapa dia, Pangeran. Dan kau juga tahu... aku tidak suka dibantah."

Louis mendesis pelan, seperti menahan badai dalam dadanya.

" Kau tidak seharusnya berada di sini, Dave!" bentaknya, tajam dan penuh kemarahan. "

Lalu, suara itu—Dave—menjawab, kali ini dengan senyum samar yang terdengar meski tak terlihat.

" Kenapa? Kau tidak lupa kan... janji itu, Louis? "

Hening panjang, lalu...

"Dia milikku."

Kata-kata itu bergema seperti sihir kuno yang seharusnya terkubur bersama waktu.

Di balik pintu, Anesha menegang.
Miliknya? pikirnya heran.
Dia bahkan tak yakin mengenali suara itu. Tapi entah kenapa, jantungnya berdetak lebih cepat.
Kenapa dia mengatakan aku miliknya? Kenal aja nggak. Apa-apaan, tiba-tiba klaim orang?

Di luar, Louis melangkah maju. Suaranya berubah dingin, seperti kabut musim dingin yang menyelimuti malam.

"Kau bicara seolah-olah dia milikmu. Padahal kau pergi. Kau hilang ketika dia butuhmu. Ketika dunia hampir runtuh, kau tak ada."

Dave tak gentar. Senyumnya tetap tenang, bahkan lebih menusuk dari sebelumnya.

"Justru karena itulah aku di sini sekarang. Karena aku akan menjaganya sepenuhnya. Bahkan jika ia kabur dariku, aku tak segan akan mengurungnya... hanya untukku."

"Kau tidak tahu apa yang dia alami!" balas Louis. Suaranya mulai retak, menggambarkan betapa dalamnya luka yang ia lihat di diri Anesha. "Dia hampir mati. Dia kehilangan jiwanya. Dan kau pikir bisa datang dan... menuntut?!"

Dave menatap Louis dalam-dalam.

"Bukan menuntut. Mengingatkan. Tapi dia adalah milikku sepenuhnya, Louis."

BRAK.

Pintu kamar terbuka.

Anesha berdiri di ambang. Pucat, rapuh, tapi dengan tatapan yang tajam dan tegas. Suara mereka sudah cukup membangunkan badai dalam dirinya.

"Oke," katanya lemah tapi mantap. "Kalian berdua, cukup."

Keduanya menoleh. Louis segera melangkah cepat, tapi Anesha mengangkat tangan, menghentikannya.

"Berisik, anjir. Gue lagi capek, lu bisa nger—"

Kalimatnya menggantung saat matanya menatap satu wajah.

Dave.
Pangeran Dave.
Yang dulu pernah dia tipu—dengan alibi nyari kucing, demi lolos dari pertanyaan bahwa dia sebenarnya menguping di salah satu pasar gelap tempat pelelangan barang.
Dia pikir, setelah semua itu, tak akan bertemu lagi. Tapi sekarang...
Sial. Sial sekali hidupku.

Matanya menatap Dave lurus-lurus.

"Menungguku, Anesha..." ucap Dave lembut.

"Aku tahu aku tampan," tambahnya, dengan seringai menyebalkan.

Anesha memutar bola mata, lelah.

"Terlalu percaya diri kau, Pangeran."

Sial. Sial sekali. Sudah perang, hampir mati, sekarang harus ketemu makhluk paling menyebalkan sealam semesta.

Dave melangkah mendekat perlahan. Jarak mereka hanya sehelaan napas.
Wajahnya tetap tenang, tapi sorot matanya menyala—ada sesuatu yang belum terucap selama bertahun-tahun.

Anesha hendak berkata lagi, tapi ia tak sempat.

"Milikku," bisik Dave pelan… lalu mengecup pipi Anesha.

Anesha terdiam. Dunia seakan membeku sejenak. Pipinya panas bukan karena demam. Lebih ke… rasa tidak terima.

"APA MAKSUDMU?! Kau... jangan kurang ajar ya, Pangeran!!"

Dave hanya menyeringai, berbalik, dan berjalan pergi seolah tidak melakukan apa-apa.

Anesha mematung. Louis menahan napas.

"Kenapa dia bisa ada di sini?" tanya Anesha pelan, wajahnya masih pucat tapi mulai menunjukkan kecemasan yang lain—lebih personal.

Louis menatapnya, bingung dan kesal. "Aku tak tahu, Anesha. Dia datang secara misterius. Aku... aku tak menyangka dia akan muncul dan langsung mengeklaimmu seperti itu. Bahkan dia—dia mengenalmu."

Anesha menunduk, menahan napas. "Itu... itu nggak penting sekarang."

Ia lalu mengangkat wajah, terlihat lebih panik.
"Yang penting adalah... mau ditaruh di mana muka ku kalau sampai dia ingat bahwa aku pernah menipunya?"

Louis menyipitkan mata. "...Menipunya?"

Anesha menyeringai canggung, mengangkat dua jari seperti anak sekolah yang ketahuan nyontek.
"Iya... aku pernah... sedikit... ya cuma dikit kok... menipunya, Louis. Hehe."

"Astaga, Anesha." Louis memejamkan mata, nyaris frustrasi. "Kau tak seharusnya bertemu dengannya. Tidak sekarang. Tidak dengan kondisi seperti ini."

Anesha mendengus, lalu jatuh duduk di tepi ranjang. "Terlambat, Louis. Sudah telanjur. Dan dia—"

"Dia sangat berbahaya," potong Louis, kali ini lebih serius. "Aku tidak tahu bagaimana dia mengenalmu. Tapi Dave bukan orang sembarangan. Dia bukan hanya pangeran dari kerajaan kabut utara... dia punya darah kutukan dalam dirinya."

Anesha langsung menoleh. "Kutukan?"

Louis mengangguk pelan. "Itulah kenapa ia disembunyikan dari dunia selama bertahun-tahun. Tidak ada yang benar-benar tahu seberapa kuat—atau seberapa rusaknya dia."

Anesha terdiam. Tapi dalam hatinya, badai kecil mulai berputar.

"Kalau dia begitu berbahaya..."
"...kenapa detak jantungku malah lebih cepat saat dia bilang aku miliknya?"


Wah apakah ini gelombang cinta atau apaa yaa ??
Btw sistemnya kok ngga muncul muncul sihh🙆‍♀️🙆‍♀️🙆‍♀️




who is she??Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang