cahaya menimpa marmer lorong seperti bilah-bilah tipis. Anesha duduk di tepi ranjang, paket kain perban di pangkuan. Luka-lukanya belum pulih benar, tapi pikirannya bening—tajam seperti mata pisau yang baru diasah.
Louis berdiri di depan jendela, rahangnya mengeras. “Kalau gosip ini nggak berhenti, dewan bisa paksa aku bertunangan. Mereka pakai alasan stabilitas.”
Anesha mengikat perban di lengannya, menahan desis. “Stabilitas versi mereka artinya ‘semua diem dan tunduk’, padahal masalahnya nggak kelar. Oke, Lou. Kita jawab gosipnya tanpa main kotor.”
“Bagaimana?”
“Gue turun ke bawah. Ke halaman utama. Bukan rapat tertutup, bukan bisik-bisik. Publik. Biar semua orang lihat sendiri gue bukan dekorasi.”
Louis menoleh cepat. “Kau belum sepenuhnya sembuh.”
Anesha berdiri—sedikit goyah, tapi matanya menyala. “Gue juga nggak mati. Itu udah cukup.”
---
Halaman Utama Istana
Tangga batu menghadap ke lapangan latihan yang kini dipenuhi prajurit, pelayan, pandai besi, dan warga yang boleh masuk untuk menyampaikan syukur. Di atas panggung sederhana, kepala pengawal sedang memberi pengarahan ketika peluit panjang terdengar. Orang-orang menoleh.
Anesha menuruni tangga, tanpa gaun sutra, tanpa perhiasan. Hanya tunik sederhana, rompi kulit yang pudar, dan lengan berperban. Rambutnya diikat asal. Di sisi lain, Louis mengikuti—bukan sebagai pangeran yang memimpin, melainkan sebagai penopang yang siap menangkap kalau dia oleng.
Bisik-bisik menggulung.
“Dia datang…”
“Itu pahlawan atau dalang?”
“Katanya cuma numpang nama…”
Anesha menghentikan langkah di tengah lapangan. Ia menatap kerumunan, lalu mengangkat suaranya—jernih, datar, tanpa retorika manis.
“Ada yang bilang gue bukan pahlawan. Ada yang bilang gue cuma numpang nama. Fine. Kalau kalian mau lihat gue kerja, lihat hari ini.”
Ia menunjuk gudang medis—sebuah bangunan batu rendah di sisi lapangan. “Tiga hari lalu, serambi timur runtuh pas badai sihir terakhir. Masih banyak korban yang belum kebagian obat dan makanan. Gue minta orang-orang yang sanggup… bantu gue ngangkut persediaan sekarang. Yang nggak sanggup, nggak apa-apa. Tapi kalau besok mau gosip lagi, pastiin kalian lihat kerjaan gue hari ini.”
Hening sesaat. Lalu, dari barisan prajurit, seorang perempuan bertubuh kecil melangkah maju, melepas helm. “Saya, Nona.” Lalu dua orang pandai besi. Lalu lima pelayan muda. Seperti percikan api menjilat minyak, orang-orang mulai bergerak. Kepala pengawal memberi hormat singkat kepada Anesha, lalu membagi regu.
Louis mendekat, bibirnya melengkung. “Kamu mainnya terang-terangan.”
Anesha nyengir tipis. “Gue nggak jago bisik-bisik di balik tirai. Lagian, kalau mau nurunin gosip, kasih orang bahan omongan baru yang lebih keren.”
Mereka bergerak bersama. Tanpa banyak tempat, tanpa banyak panggung. Hanya dua rute: lapangan → gudang medis. Bolak-balik. Keringat menembus perban, tapi Anesha tidak menghitung.
Anak laki-laki pembawa air—mungkin sepuluh tahun—menoleh pada ibunya sambil berbisik, “Bu, pahlawannya beneran ngangkat karung.” Ibunya menepuk kepala si anak, matanya hangat. “Begitu cara orang hidup menutup mulut orang mati.”
Gosip, untuk pertama kalinya, kalah langkah.
---
Seraphina menyaksikan dari atas, secangkir teh mengepul di jemari. Penasihat bayangan berdiri setengah meter di belakangnya. “Rencana Anda—”
KAMU SEDANG MEMBACA
who is she??
Fiksi RemajaSeorang anesha si gadis bar bar yang Bertransmigrasi ke tubuh wanita yang menurutnya adalah gembel . Ia Bertransmigrasi di zaman kuno " GA mungkin anj muka gua mirip gembel, Ini pasti lu lagi ngerjain guaa kan temmm " tuduh anesh kepada sistem Leb...
