14

49 4 0
                                        

---Happy reading---

Udara di sekitar mereka terasa semakin berat, dan gemuruh yang terdengar dari kejauhan semakin keras. Anesha dan Louis saling pandang, keduanya tahu bahwa ancaman sudah dekat.

"Semakin lama kita berdiam di sini, semakin berbahaya," kata Louis, matanya waspada.

Anesha mengangguk, memegang erat medali perak yang baru saja diterimanya. "Gerbang pertama ada di kaki Gunung Arkanis. Tapi aku merasa, ini bukan hanya soal melewati gerbang itu. Ada sesuatu yang lebih besar menunggu kita di sana."

Louis melangkah maju, memandang ke luar kuil yang kini tampak sunyi. "Apapun itu, kita harus siap. Mari kita ambil medali ini dan berangkat."

Mereka berdua meninggalkan kuil kuno, dan melangkah menuju kaki Gunung Arkanis, tempat di mana mereka percaya Gerbang Pertama berada. Setiap langkah mereka terasa lebih berat, seperti ada mata yang mengawasi mereka dari kejauhan.

Setelah beberapa jam perjalanan, mereka akhirnya tiba di kaki gunung. Di sana, sebuah gerbang besar berbentuk bulat berdiri megah, terbuat dari batu hitam yang dipenuhi simbol-simbol kuno yang berkilau samar dalam cahaya matahari yang terbenam. Di atasnya, ada sebuah cekungan berbentuk lingkaran, seolah menunggu sesuatu.

"Ini pasti gerbang yang dimaksud penjaga kuil," kata Anesha, matanya mengamati struktur batu dengan cermat.

Louis mengeluarkan medali perak dari kantongnya dan menunjukkannya pada cekungan itu. "Coba letakkan medali ini di sini. Penjaga kuil bilang ini adalah Kunci Cahaya."

Anesha mengangkat alis, merasa sedikit ragu, tetapi mengikuti petunjuk Louis. Perlahan, ia meletakkan medali di cekungan batu itu.

Tiba-tiba, gerbang itu bergetar. Batu-batu besar bergerak dengan sendirinya, membuka perlahan, dan memunculkan sebuah lorong gelap yang tak terlihat ujungnya.

"Seperti yang kuduga," bisik Anesha, "tidak akan semudah itu."

Namun, sebelum mereka melangkah lebih jauh, sebuah suara keras menggelegar dari belakang mereka.

"Siapa yang berani membuka gerbang ini?!"

Mereka berdua berbalik, hanya untuk melihat sekelompok prajurit bersenjata muncul dari kegelapan. Mereka mengenakan baju zirah hitam, dengan lambang yang tidak dikenal oleh Anesha dan Louis. Namun, dari sikap mereka yang penuh ancaman, jelas bahwa mereka bukan teman.

"Pergi!" teriak salah satu prajurit dengan suara kasar. "Gerbang ini bukan untuk orang seperti kalian!"

Louis melangkah maju, tubuhnya tegap. "Kami mencari Permata Sakti. Tidak ada yang bisa menghalangi kami."

Prajurit yang berbicara tadi tertawa dingin. "Kalian benar-benar percaya kalian bisa mendapatkan Permata Sakti? Kalian bukan satu-satunya yang tertarik. Kami sudah menunggu di sini cukup lama, dan kalian tidak akan keluar hidup-hidup."

Anesha merasakan ketegangan dalam udara. Ia tahu bahwa situasi ini akan berubah menjadi pertempuran. Tanpa kata-kata lebih lanjut, salah satu prajurit menyerang mereka, pedangnya berkilau di bawah cahaya bulan.

Louis bergerak cepat, memblokir serangan dengan pedangnya, sementara Anesha menarik pedang dari pinggangnya. Mereka berdua bersiap untuk pertempuran.

Pertempuran pun pecah.

Anesha bergerak gesit, menghindari serangan prajurit yang lebih besar darinya. Dengan satu gerakan cepat, ia menebas pedangnya ke arah prajurit yang mencoba menyerangnya, memaksa lawannya mundur. Sementara itu, Louis bertarung dengan penuh kehati-hatian, menggunakan keahliannya dalam bertarung jarak dekat untuk melumpuhkan prajurit satu per satu.

who is she??Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang