13

45 5 2
                                        

Yu huuu author updatee lagii hehe maaf yach author ini sibuk melulu bjirr

















---Happy reading---



Sore itu, ketika matahari mulai condong ke barat, Anesha dan Louis sudah bersiap untuk perjalanan mereka ke Gunung Arkanis. Perbekalan telah dikemas, senjata diasah, dan hati mereka—meskipun masih diliputi ketidakpastian—telah dipersiapkan untuk menghadapi bahaya yang menanti.

Altair berdiri di gerbang benteng, menatap mereka dengan ekspresi serius. "Gunung Arkanis bukan tempat yang bisa dianggap enteng. Hanya sedikit orang yang pernah kembali dari sana dengan selamat."

"Terima kasih atas motivasi mautnya," gumam Anesha sambil menyelipkan belati di ikat pinggangnya.

Altair tidak menanggapi. Ia menyerahkan sebuah gulungan kecil kepada Louis. "Peta ini akan membantu kalian. Ada jalur tersembunyi yang bisa kalian lalui agar tidak langsung bertemu dengan makhluk penjaga gunung itu."

Anesha mengangkat alis. "Makhluk penjaga? Tentu saja ada. Karena perjalanan ini tidak cukup menegangkan tanpa monster."

Louis menyimpan peta itu dengan tenang. "Kami akan berhati-hati."

"Dan satu lagi," lanjut Altair. "Jika kalian tidak kembali dalam waktu tiga hari, aku akan menganggap kalian gagal... atau mati."

Anesha menyilangkan tangan. "Wow, kepercayaan diri yang luar biasa."

Altair hanya menatapnya tajam. "Jangan buat aku menyesal membiarkan kalian pergi."

Tanpa membuang waktu lagi, mereka berdua meninggalkan Benteng Blackthorn, melangkah menuju jalur berbatu yang mengarah ke Gunung Arkanis.

---

Mereka berjalan selama berjam-jam, melewati lembah berkabut dan sungai kecil yang mengalir tenang. Namun, begitu malam turun, mereka tiba di tepi Hutan Hitam—hutan yang konon dihuni oleh makhluk-makhluk yang tidak seharusnya ada di dunia ini.

Anesha menelan ludah saat melihat pohon-pohon raksasa yang menjulang tinggi dengan dahan-dahan melengkung seperti tangan yang siap mencengkeram. "Oke, sejujurnya aku lebih suka bertarung di medan perang daripada masuk ke sini."

Louis mengeluarkan obor dari tasnya dan menyalakannya. "Hutan ini mungkin berbahaya, tapi kita tidak punya pilihan lain. Gunung Arkanis ada di seberangnya."

Mereka melangkah masuk ke dalam kegelapan. Daun-daun kering berdesir di bawah kaki mereka, dan suara-suara samar bergema dari kejauhan. Ada sesuatu di dalam hutan ini—mengintai, menunggu.

Saat mereka berjalan lebih dalam, kabut mulai menebal. Suasana menjadi semakin aneh, seakan-akan hutan ini memiliki nyawa sendiri.

"Louis," bisik Anesha, suaranya hampir tidak terdengar. "Aku merasa kita sedang diawasi."

"Aku juga."

Tiba-tiba, semak-semak di depan mereka bergerak liar. Anesha segera mencabut belatinya, sementara Louis mengangkat obor lebih tinggi.

Dari bayangan gelap, sepasang mata merah menyala muncul. Lalu satu lagi. Dan satu lagi.

Makhluk-makhluk itu merayap keluar dari kegelapan—tubuh mereka kurus, berkulit kelabu, dengan tangan panjang dan cakar tajam.

Anesha menarik napas dalam-dalam. "Louis... bilang padaku bahwa ini hanyalah ilusi."

"Tidak, ini nyata." Louis menghunus pedangnya. "Dan mereka tidak terlihat ramah."

Makhluk-makhluk itu mengeluarkan suara mengerikan—seperti gemuruh rendah bercampur bisikan.

Kemudian, mereka menyerang.

who is she??Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang