5

164 10 0
                                        




---Happy reading---




" bjir serius dikit lu " selidik anesha

Louis mengganggukkan kepala tanda perkataan anesha benar

" lu ribet banget sih ngapain kabur dari rumah segala " kesal anesha

" apa urusannya dengan mu " jawab Louis

" Ribet lah anjay , lu kira prajurit ngga nyari lu apa " ujar anesha

Louis mendesah berat, matanya beralih dari Anesha ke langit malam yang mulai gelap. "Kau tidak akan mengerti, Anesha. Hidup di istana itu... penuh tekanan. Semua yang kulakukan selalu diatur. Aku hanya ingin merasa bebas, meski hanya sebentar."

Anesha mendecakkan lidah, menatap Louis dengan kesal. "Bebas? Serius, Louis? Kalau lu mau bebas, ya bilang baik-baik, bukan malah bikin heboh satu kerajaan. Lu tau ngga berapa banyak orang yang kena dampak gara-gara lu kabur?"

Louis terdiam, rahangnya mengencang. "Aku tidak bermaksud membuat masalah sebesar ini. Aku hanya... aku hanya ingin tahu seperti apa rasanya menjadi orang biasa. Hidup tanpa titel, tanpa kewajiban, tanpa... tanpa beban."

"Dan gimana, puas?" sindir Anesha, menyilangkan tangan di dada.

Louis tersenyum tipis, sedikit getir. "Tidak sepenuhnya. Dunia ini ternyata jauh lebih rumit dari yang kupikirkan. Tapi aku belajar banyak... termasuk bertemu denganmu."

Anesha mendengus, meskipun pipinya sedikit memerah. "Jangan bawa-bawa gue. Gue cuma kebetulan nyasar di pencarian lu yang absurd ini."

Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara derap kaki kuda. Anesha langsung menegang. "Eh, jangan bilang itu..."

Louis melirik ke arah suara itu, wajahnya kembali serius. "Prajurit istana," gumamnya.

"Ya ampun, ini semua gara-gara lu!" Anesha langsung menarik tangan Louis, mengajaknya berlari ke arah semak-semak.

"Kenapa kita harus sembunyi?" tanya Louis bingung, tapi tetap mengikuti.

"Lu kan yang nggak mau ketahuan! Ayo buruan sebelum mereka sampai sini!" ujar Anesha, setengah mendesis.

Keduanya bersembunyi di balik semak, menahan napas saat suara kuda semakin dekat. Anesha memelototi Louis yang tampak terlalu santai.

"Lu ngerti nggak sih kalau mereka nemuin kita, tamat sudah semua petualangan lu?" bisik Anesha tajam.

"Tamat? Mungkin itu lebih baik," balas Louis pelan, meskipun ada kilatan kesedihan di matanya.

Anesha memutar mata. "Serius, drama lu tuh nggak abis-abis ya. Udah diem aja, biar gue mikir gimana cara keluar dari sini."

Anesha dan Louis memperhatikan dengan saksama dari balik semak-semak. Dari celah-celah dedaunan, mereka melihat para prajurit istana mengenakan baju zirah yang berkilauan di bawah cahaya obor. Suara derap kaki kuda dan lantang perintah pemimpin prajurit semakin mendekat.

"Periksa setiap sudut! Pangeran harus ditemukan malam ini juga!" suara pemimpin prajurit menggema, membuat Anesha meringis.

"Hebat, Louis. Lu bikin satu pasukan kerja lembur cuma buat nyariin lu," gumam Anesha lirih.

Louis hanya menunduk, wajahnya suram. "Aku tidak menyuruh mereka," bisiknya, nyaris tak terdengar.

Anesha melirik tajam, lalu kembali fokus ke celah semak-semak. Salah satu prajurit turun dari kuda, mulai berjalan ke arah mereka.

"Eh, eh, dia ke sini!" bisik Anesha panik, matanya melebar.

Louis juga menyadarinya. Dengan sigap, dia meraih tangan Anesha. "Kita harus pergi. Sekarang."

who is she??Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang