Hehe sorry baru updatee haha
---Happy reading---
" permainan pala bapak kau sial "Saking geramnya anesha tidak peduli dengan umpatannya
Altair tertegun sejenak mendengar impatient Anesha. Para prajurit di sekitarnya saling melirik, mencoba menahan tawa yang hampir pecah. Bahkan Louis, yang biasanya tenang, terlihat berusaha keras menahan senyum.
"Permainan?" lanjut Anesha, matanya menyala penuh emosi. "Aku di sini, melewati medan perang, hampir mati lebih dari sekali, hanya untuk menemukan diriku jadi bidak dalam skema besar kalian? Kalau kalian mau perang, kenapa tidak kalian sendiri yang maju?!"
Altair menyipitkan matanya, wajahnya berubah tegang. "Berhati-hatilah dengan kata-katamu, gadis muda. Kau tidak tahu siapa yang sedang kau hadapi."
Anesha tidak mundur sedikit pun. "Dan kau juga tidak tahu siapa yang sedang kau hadapi. Jangan kira aku akan diam saja diperlakukan seperti ini."
Louis akhirnya melangkah maju, meletakkan tangan di bahu Anesha. "Cukup, Anesha," katanya pelan, tapi tegas. "Ini bukan tempat untuk meluapkan emosi."
Anesha mendengus, tapi akhirnya mundur selangkah. Altair memandang Louis dengan tatapan penuh arti. "Kau tahu dia ini terlalu berani untuk kebaikannya sendiri, kan?"
Louis mengangkat bahu, ekspresinya netral. "Keberanian adalah kualitas yang langka, Komandan. Mungkin kau seharusnya menghargainya."
Altair menghela napas panjang, lalu melambaikan tangannya. "Baiklah. Aku akan membahas ini dengan dewan perang. Kalian akan diinapkan di sini sementara waktu. Tapi ingat, aku tidak akan mentoleransi pemberontakan atau masalah apa pun dari kalian."
Anesha menatapnya tajam, tapi kali ini ia memilih diam. Saat mereka dibawa ke ruang tamu yang disediakan, Louis menoleh padanya. "Kau harus lebih berhati-hati, Anesha. Altair bukan orang yang mudah didekati."
"Dia juga bukan orang yang mudah kusukai," balas Anesha dingin.
Louis hanya tersenyum kecil. "Itu jelas."
Pagi itu, udara di Benteng Blackthorn terasa dingin dan penuh ketegangan. Anesha berdiri di balkon kecil yang menghadap ke arah perbatasan, matanya menatap kosong ke kejauhan. Hembusan angin membawa bau tanah basah dan asap, mengingatkannya pada semua kehancuran yang telah ia saksikan di sepanjang perjalanan.
Louis mendekatinya, membawa dua cangkir teh panas. "Kau belum tidur," katanya, menyerahkan salah satu cangkir padanya.
"Apa gunanya tidur kalau mimpi buruk tetap menghantuiku?" balas Anesha, mengambil cangkir itu tanpa menoleh.
Louis menghela napas, lalu bersandar di pagar balkon. "Aku tahu ini berat. Tapi kau harus menjaga kekuatanmu. Perjalanan kita belum selesai."
Anesha meminum teh itu perlahan, mencoba menenangkan pikirannya. "Kau tahu, aku selalu berpikir aku hanya gadis biasa. Hidupku sederhana, sampai surat itu datang dan mengubah segalanya. Sekarang, aku bahkan tidak tahu siapa aku sebenarnya."
Louis menatapnya, ekspresinya melembut. "Kau lebih dari yang kau kira, Anesha. Kau hanya belum melihatnya."
Sebelum Anesha sempat menjawab, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar. Salah satu pengawal muncul di pintu balkon, wajahnya penuh kecemasan. "Komandan Altair memanggil kalian ke aula utama. Ada perkembangan baru."
Louis mengangguk, lalu menoleh ke Anesha. "Kita harus pergi."
Mereka berjalan cepat menuju aula utama, di mana Altair sudah menunggu bersama beberapa perwira tinggi. Di tengah ruangan, sebuah peta besar terbentang di atas meja, penuh dengan tanda-tanda pergerakan pasukan.
"Situasinya memburuk," kata Altair tanpa basa-basi. "Pasukan Akraval telah menyeberangi perbatasan selatan. Mereka menyerang desa-desa di sekitar Sungai Meridion."
"Perbatasan selatan?" Anesha mengerutkan kening. "Bukankah itu jauh dari sini? Kenapa mereka menyerang ke arah itu?"
Altair menunjuk ke peta. "Karena itu adalah jalur pasokan utama kita. Jika mereka berhasil memotongnya, kita akan kehabisan makanan dan persenjataan dalam waktu singkat."
Louis mengangguk pelan, ekspresinya serius. "Apa rencanamu, Komandan?"
Altair menatap mereka satu per satu sebelum berbicara. "Aku akan mengirim pasukan untuk mempertahankan Sungai Meridion. Tapi itu berarti kita akan kekurangan orang di sini. Dan jika Akraval menyerang langsung ke Benteng Blackthorn, kita akan kewalahan."
Anesha merasa dadanya sesak. "Jadi, apa yang bisa kami lakukan?"
Altair menatapnya tajam. "Kau akan pergi ke perbatasan timur. Ada seseorang di sana—seorang informan yang bisa memberi kita informasi tentang strategi Akraval. Tapi perjalanan itu berbahaya, dan aku tidak bisa menjamin keselamatanmu."
Anesha terdiam, merasakan beban tanggung jawab yang semakin berat. Tapi sebelum ia sempat menjawab, Louis berbicara. "Aku akan pergi bersamanya."
Altair mengangguk. "Bagus. Kalian berdua akan berangkat sebelum matahari terbenam. Waktu adalah hal yang paling berharga sekarang."
Anesha menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Ia tahu ia tidak punya pilihan lain. Perang ini telah menariknya ke dalam pusarannya, dan ia harus bertahan—apapun yang terjadi.
CLINK
" TUGAS KEDUA MENCARI PERMATA SAKTI YANG ADA DI GUNUNG ARKANIS "
NOTE = JIKA TIDAK MENDAPATKAN PERMATA SAKTI ITU AKAN MENDAPATKAN HUKUMAN MATI
HADIAH = MENDAPATKAN 5.000 POIN DAN KEKUATAN TELEPORT
Anesha menatap layar sistem yang tiba-tiba muncul di depannya, huruf-huruf bercahaya itu seperti menertawakan keputusasaannya. Ia mendengus keras, merasa amarahnya kembali membara.
“Tugas kedua mencari permata sakti yang ada di Gunung Arkanis.” Ia membaca ulang kalimat itu dengan nada sarkastik. “Oh, tentu saja, kenapa tidak sekalian saja suruh aku melawan naga?”
Louis, yang berdiri di dekatnya, mencoba menahan senyum. “Kau tahu, mengeluh tidak akan membuat tugas ini hilang.”
Anesha menatapnya tajam. “Aku tahu itu. Tapi serius, Louis, siapa yang membuat sistem ini? Hukuman mati kalau gagal? Apa mereka pikir aku ini semacam pahlawan super?”
Louis mengangkat bahu. “Setidaknya hadiahnya menarik. 5.000 poin dan kekuatan teleport. Itu bisa sangat berguna.”
“Hadiah?!” Anesha mendengus lagi. “Apa gunanya hadiah kalau aku mati di tengah jalan?”
Louis menepuk bahunya dengan ringan. “Kau tidak akan mati. Kita akan menyelesaikan ini bersama-sama.”
Anesha mendesah panjang, merasa sedikit lega meskipun tetap kesal. “Baiklah, jadi apa rencananya? Aku yakin Gunung Arkanis bukan tempat yang ramah untuk piknik.”
Louis melirik peta di meja. “Gunung Arkanis adalah salah satu tempat paling berbahaya di wilayah ini. Dikatakan penuh dengan jebakan alami, makhluk aneh, dan—”
“Dan tentu saja,” sela Anesha, “sebuah permata sakti yang harus aku ambil atau aku mati.”
Louis tertawa kecil. “Kau mulai mengerti sistemnya.”
Anesha memutar matanya, tapi akhirnya ia mendekati peta itu. “Kalau begitu, mari kita buat rencana. Aku tidak ingin mati hanya karena aku terlalu ceroboh.”
Louis mengangguk. “Itu semangat yang kubutuhkan darimu.”
Dengan berat hati, Anesha mulai mempersiapkan diri untuk tugas berikutnya, sementara pikirannya dipenuhi berbagai skenario buruk. Tapi satu hal yang pasti—ia tidak akan menyerah tanpa perlawanan.
Kasian banget anesha 😭😭😭😭 miris kali bahh
KAMU SEDANG MEMBACA
who is she??
Teen FictionSeorang anesha si gadis bar bar yang Bertransmigrasi ke tubuh wanita yang menurutnya adalah gembel . Ia Bertransmigrasi di zaman kuno " GA mungkin anj muka gua mirip gembel, Ini pasti lu lagi ngerjain guaa kan temmm " tuduh anesh kepada sistem Leb...
