19

27 2 0
                                        

“Pangeran Louis lebih memilih gadis asing itu…”

“Bagaimana nasib Lady Seraphina?”

“Tak ada ratu yang datang dari jalanan. Itu melanggar semua tradisi.”

Lady Seraphina duduk di kursi panjang rapat kerajaan. Gaun peraknya jatuh mulus ke lantai, rambut hitamnya tertata sempurna. Hanya jemari yang mengetuk meja—ritme kecil tanda badai sedang ia tahan.

Seorang bangsawan tua angkat bicara hati-hati.
“Yang Mulia, rakyat menunggu kepastian. Pangeran Louis harus segera bertunangan demi  kerajaan.

Seraphina menoleh, tersenyum tipis—senyum indah yang menyimpan racun.
“Tentu. Tapi kita juga harus memastikan ia memilih pasangan yang tepat.”
Nadanya lembut, tatapannya menusuk. Semua yang hadir paham: ini bukan sekadar urusan cinta… ini tentang kekuasaan.

---

Anesha duduk di tepi ranjang mewah, bantal sutra dan sprei emas terasa asing di kulitnya. Tubuhnya masih lemah, tapi matanya tetap tajam.
Louis duduk di kursi rendah, memegang tangannya.

“Lo sadar nggak,” Anesha memutar gelas teh, uapnya tipis mengalir, “sekarang semua orang liatin gue kayak gue maling calon ratu?”

“Biarkan saja. Mereka tidak tahu apa yang sudah kita lakukan bersama,” jawab Louis.

Anesha tertawa pelan, miris.
“Gue nggak kaget kalau tiba-tiba tidur, bangun-bangun udah ada undangan kawinan lo sama Seraphina di meja gue.”

“Itu tidak akan terjadi.”

“Ya… moga aja. Soalnya kalau beneran, pesta lo bakal gue ubah jadi arena debat.”

Louis tertawa kecil, tapi di matanya ada cemas yang tak bisa ia usir.

---

Malam itu, Anesha terbangun. Istana sunyi, tapi telinganya menangkap suara langkah—terlalu pelan untuk pengawal biasa.
Ia bangkit, sedikit pincang, membuka pintu. Lorong remang menyambutnya.

Di ujung sana… bayangan gaun perak berbelok cepat ke lorong rahasia.

“Seraphina?” gumamnya.

Anesha menahan napas. Gaun perak itu jelas milik Seraphina—kilau kainnya terlalu khas untuk disalahtebak.

Ia melangkah pelan, telapak kakinya nyaris tak bersuara di atas karpet tebal lorong istana. Setiap tikungan, setiap bayangan, terasa seperti jebakan.

Di ujung lorong, Seraphina berhenti di depan pintu besi kecil yang tersembunyi di balik panel kayu ukiran. Jemarinya yang ramping menyentuh ukiran itu, dan… klik. Pintu terbuka sedikit, cukup untuk mengintip ruangan gelap di dalamnya.

Anesha mendekat, cukup dekat untuk mendengar.

“Kita mulai besok,” suara Seraphina terdengar rendah, terukur. “Buat rakyat percaya… kalau Anesha bukan pahlawan, tapi ancaman.”

Ada bisikan lain dari seseorang di dalam ruangan, tapi Anesha tak bisa menangkapnya jelas.

Seraphina melanjutkan, nada suaranya lembut tapi menusuk, seperti sedang membacakan doa kematian,

“Kalau mereka membencinya, Louis akan melepaskannya… tanpa aku harus mengotori tangan.”

Anesha menggenggam erat gagang pintu yang dingin. Napasnya berat, bukan karena nyeri luka—tapi karena sadar ia baru menginjak medan perang baru. Perang yang tak ada pedang dan panah… tapi lebih mematikan.

Dan kali ini, musuhnya berdiri di balik pintu.

Anesha mendorong pintu itu pelan—cukup untuk membuat engselnya berderit.
Seraphina menoleh, alisnya terangkat tipis.

who is she??Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang