16

33 3 0
                                        

Lanjut















---Happy reading---








Hutan Ilusi Terlarang mulai berubah. Akar-akar pohon menjalar ke mana-mana, menggeliat seperti ular hidup, menciptakan pagar alami yang mengurung Louis dan Anesha dalam lingkaran raksasa. Udara berubah menjadi lebih tebal dan lembap, seakan kabut sendiri memiliki nyawa.

Sosok wanita penjaga hutan berdiri di tengah mereka—tingginya hampir tiga meter, dan matanya tidak berkedip. Suaranya terdengar seperti angin yang berdesis dari balik pohon mati.

  “Banyak yang telah datang untuk mencuri cahaya… tapi semua jatuh. Apakah kalian berbeda?”

Louis mengangkat pedangnya yang bergetar oleh sisa energi sebelumnya. “Kami tidak datang untuk mencuri. Kami datang untuk menyelamatkan.”

  “Kata-kata tidak cukup.”

Penjaga Hutan mengangkat tangannya, dan seluruh hutan menggeliat. Dari tanah, muncul makhluk-makhluk bayangan berbentuk setengah manusia, setengah tumbuhan. Mata mereka menyala hijau, dan tangan mereka berupa cabang berduri.

Anesha mencabut pedangnya. “Gue gak peduli lo pohon hidup atau hantu daun, gue udah capek! MAJU SINI!”

Pertarungan pun pecah.

Anesha berlari ke arah salah satu makhluk akar, menghindari cakar durinya dan memutar cepat ke belakang, menebasnya dengan gemilang. Cairan hijau gelap memuncrat, dan makhluk itu jatuh, tubuhnya membusuk seketika. Louis menebas dua makhluk sekaligus dengan sapuan lebar, lalu menggunakan energi terakhirnya untuk mengaktifkan Perisai Cahaya, menahan rentetan duri yang ditembakkan dari balik semak.

Namun, Penjaga Hutan tidak tinggal diam.

Dengan gerakan tangan yang pelan, akar-akar tebal menyambar Anesha dari belakang dan menghempaskannya ke batang pohon. “ARGH!!” teriaknya, darah keluar dari mulutnya.

“ANESHA!” Louis mencoba menyerang penjaga itu, tapi dijegal oleh salah satu makhluk pohon dan jatuh tersungkur.

Penjaga Hutan berjalan pelan ke arah Anesha, tangannya berubah menjadi semacam cambuk akar tajam. Ia mengangkatnya tinggi, siap menghabisi Anesha.

Tapi… medali perak di leher Anesha kembali bersinar.

Kali ini, lebih terang. Dan bukan hanya bersinar—ia berdenyut, seperti jantung. Cahaya itu menyebar ke seluruh tubuh Anesha, mengangkat tubuhnya perlahan dari tanah. Matanya terbuka, namun kini bercahaya biru keperakan.

Suara muncul dari dalam dirinya. Bukan suaranya sendiri.

  “Pewaris Cahaya… bangkitlah…”

Dalam sekejap, pedang Anesha berubah. Bilahnya memanjang dan dilapisi cahaya kristal. Ujungnya membentuk seperti daun tajam, dan aura yang memancar darinya membuat makhluk-makhluk pohon mundur.

Anesha berdiri dengan mantap. “Gue udah cukup main-main. Sekarang, giliranku.”

Dengan sekali ayunan, ia menebas semua akar yang menghalangi jalan. Cambuk Penjaga Hutan menyambar, tapi Anesha menebasnya di udara, dan melompat tinggi, mendarat tepat di depan sang penjaga.

  “Aku tidak akan tunduk pada bayangan!” teriak Anesha, dan ia menusukkan pedangnya tepat ke dada penjaga.

Penjaga Hutan menjerit. Tubuhnya retak-retak seperti kaca. Cahaya dari dalam dirinya bocor, dan dalam raungan terakhir, ia berkata:

“Kalian… mungkin… yang ditunggu…”

Tubuhnya meledak menjadi ratusan daun bercahaya yang beterbangan perlahan, seperti salju.

who is she??Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang