16
"Kau mungkin akan baik-baik saja, tapi coba kau pikirkan apa yang akan terjadi pada anakmu nanti. jika dia lahir dan dibesarkan, seumur hidup dia pasti akan dicap sebagai anak pembawa sial, anak dari seorang wanita yang merebut kebahagiaan wanita lain. Bahkan, seohyun adalah seorang selebriti yang memiliki banyak sekali penggemar"
"ditambah lagi, Ayah Park Chanyeol adalah seorang presiden. Isu yang akan kau publikasikan tentu saja sama sekali tidak akan berpengaruh, orang-orang pasti mengira kau hanyalah racun politik dari pihak lawan."
Jennie dihadapkan pada pilihan yang begitu berat, ia disuguhi selembar kertas perjanjian yang diminta untuk segera dicap. Jennie bisa saja segera membongkar semua aib Seohyun dan Jaejoong, tapi dia juga tak memiliki kekuatan untuk melawan seorang presiden. Jennie hendak meminta bantuan ayah sambungnya, tapi situasi saat ini sangat rumit, semuanya akan terkena dampak yang sama sekali tidak menguntungkan.
"aku tidak akan pernah meninggalkan Chanyeol. aku akan selalu bersamanya!"
seorang utusan yang dikirim langsung oleh presiden itu pun segera pamit tanpa memaksa Jennie lagi. Jennie merasa lega sebab orang-orang itu telah pergi, bahkan Jennie masih belum menerima kenyataan tentang kehamilannya dan kehadiran keluarga Chanyeol yang ternyata begitu kotor. Jennie pikir, hanya Seohyun-lah yang menjadi penghalang baginya dan Chanyeol, tapi ternyata semua ini seperti telah direncanakan. mungkin perpisahan Jennie dulu dengan Chanyeol adalah rencana terselubung. Entahlah, Jennie harus segera beristirahat, sebelum Chanyeol memergokinya, Jennie juga belum menceritakan keadaannya pada Chanyeol.
lima menit berlalu, pintu apartement Jennie kembali diketuk dan bel terdengar berbunyi. Jennie tersenyum kecil, wajahnya riang hendak menyambut kedatangan Chanyeol. Namun, senyum Jennie pudar saat kunci berhasil ia buka, ia baru menyadari bahwa Chanyeol tak mungkin mengetuk dan menekan bel. Terlambat, dua orang pria dengan wajah tertutup dan pakaian serba hitam langsung membekapnya, Jennie sempat berteriak dan meronta, namun tak berhasil karena ia hanyalah seorang wanita bertubuh mungil yang lemah, dan Jennie tak sadarkan diri setelah itu.
.
.
.
tangan kanan Chanyeol yang terluka dan mengalir darah segar darisana membuat semua orang di studio siaran langsung terkejut kala melihatnya. Chanyeol membuat siaran langsung kampanye ayahnya itu berantakan karena membuat kekacauan besar, 2 menit sebelum acara dimulai Chanyeol justru muncul dengan penampilan yang mengerikan dan bersimbah darah ditangan dan pakaiannya.
Chanyeol melarikan diri dari mobil, beberapa pengawal menghadang wartawan yang berusaha membuntuti kendaraan Chanyeol yang bergerak menuju apartement Jennie.
Chanyeol tiba di apartement itu dan dengan tergesa membuka pintu yang sudah ia ingat betul kode pengamanannya.
Saat pintu terbuka, Chanyeol melihat ruangan itu sudah sangat rapi dan semua perabotan sudah ditutup kain putih. Chanyeol tertegun dengan pandangan mata yang nanar mengarah ke segala penjuru ruangan. Tak ia temukan tanda-tanda kehidupan disana, jangankan sosok Jennie yang ia rindukan, jejaknya pun tak terlihat sama sekali.
"tuan...." pengacara pribadi Chanyeol muncul dengan napas tergesa-gesa, ia terlihat baru saja tiba setelah berlari untuk menghampiri Chanyeol.
"dimana Jennie?"
pengacara pribadi tersebut menggeleng pelan, Chanyeol mengepalkan tinjunya yang berdarah itu dengan penuh emosi.
"Ini semua pasti perbuatan ayah!"
"tidak, Tuan! bukan..."
Chanyeol menatap dengan garang maksud jawaban pengacaranya, "apa maksudmu? bukankah sudah sangat jelas?"
"Tuan harus melihat berita ini. dan semuanya"
pengacara menyodorkan ponsel pintar miliknya pada Chanyeol, dan Chanyeol menyaksikan berita terbaru yang diliput secara langsung itu. Didalam tayangan tersebut tampak perusahaan milik Ayah sambung Jennie digeledah dan kedua orangtua Jennie ditangkap polisi karena dugaan suap dan pencucian uang pada sejumlah selebriti, beberapa pejabat negara yang terlibat juga ada kaitannya dengan calon presiden pesaing ayah Chanyeol.
KAMU SEDANG MEMBACA
Third
RomansaYou are the best part but at the wrongest time. Perfection beyond imperfection.
