Bahkan di negara yang begitu kecil inipun, Chanyeol tak dapat menemukan Jennie. Setiap sudut kota ia telusuri dengan perlahan dan hati-hati. Sampai tak ada yang terlewat sama sekali. Chanyeol kembali ke hotel setelah lesu, wajahnya kuyu dan tirus. Ia kehilangan banyak berat badan selama setahun terakhir berkat pencariannya yang tanpa hasil.
Pria itu merebahkan tubuhnya diatas sofa, pelayan memasuki ruangan untuk memberikan sesuatu.
"Tuan..."
"ya?" Jawab Chanyeol dengan mata setengah terpejam.
"manager hotel ingin bertemu dengan anda"
Chanyeol pun bangkit dengan wajah kusut, ia mengernyitkan dahinya. "manager hotel?"
"iya, dia baru Kembali dari Paris dan sangat ingin bertemu dengan anda"
"baiklah"
Chanyeol sedikit terheran-heran, mengapa seorang manager hotel ingin menemuinya sesaat setelah Kembali dari Eropa. Apa karena Chanyeol seorang Putera presiden? Ah, mungkin begitu.
"Such an honor to get you here, Sir Park.."
Chanyeol tersenyum tipis, "ya, thanks for the services and facilities. Its great"
"ah, Im happy to hear that.."
"by the way, I have something to hand to you"
"about, 5 years ago.. you have been our special guest here too... and, at that time you might have some kind of trouble. That, you attempt suicide in my hotel.."
Chanyeol membulatkan kedua matanya, "me? Suicide attempt?"
"ya, but Im so glad that you're doing fine now.."
"since you are the Son's of south korea Minister. I couldn't tell the case to the public. So, it's not suicide attempt. It was murdered attempt, Mr. Park"
"here is the police investigate and forensics report about that case. Once again, Im so glad that you are save"
Chanyeol membawa berkas yang diberikan oleh manager hotel padanya, bahkan rekaman cctv yang tersimpan dalam diska lepas. Pria itu tertegun, seseorang mendorong tubuhnya dari balkon.
"kim.. Jaejoong?"
.
.
.
Jennie mengasuh puteranya dengan sangat berhati-hati, Wanita itu tampak cerah dengan aura keibuannya yang begitu kuat. Jennie tak pernah memalingkan perhatiannya kemanapun selain pada puteranya. Puteranya yang bahkan belum memiliki nama.
"hei..."
Sapa seorang pria berambut pirang, pada Jennie yang Tengah duduk di taman beserta mainan-mainan kecil puteranya.
"oppa..."
Pria yang disapa oppa itupun tersenyum kecil, dan duduk disamping Jennie yang langsung menyambutnya. Bayi kecil Jennie masih belum bisa berjalan, dia baru bisa duduk dan menggapai-gapai sesuatu dengan kedua tangannya yang mungil. Bayi kecil itupun dibawa kedalam pangkuan pria yang tampak begitu akrab dengan Jennie.
"apakah oppa akan menginap malam ini?"
"ah sepertinya tidak bisa. Apa kau ingin sesuatu? Aku sudah membelikan sedikit camilan untukmu, jika kurang aku bisa membawa lebih banyak"
Jennie menggeleng pelan, "tak perlu... oh iya, belakangan ini sepertinya obat dari dokter tidak begitu berefek. Aku masih sering lupa untuk mematikan kompor dan lupa waktu saat sendirian"
KAMU SEDANG MEMBACA
Third
RomantiekYou are the best part but at the wrongest time. Perfection beyond imperfection.
