Chanyeol berjalan tertatih, susah payah Zico memapahnya ketika turun dari mobil, padahal cuaca dingin tetapi Zico malah berkeringat karena harus memapah Chanyeol yang tubuhnya jauh lebih tinggi dan lebih besar daripada dirinya
“bisa cepat sedikit?!” omel Chanyeol pada Zico yang mendengus kasar.
“kau pikir aku tidak berat membantumu?”
Chanyeol terkekeh pelan, “maafkan aku… dan terima kasih atas segalanya yang telah kau lakukan untukku selama ini”
Zico menelan ludah susah payah, “tak perlu meminta maaf. Kau begini juga karena aku. Seharusnya aku menceritakannya saat kita bertemu waktu itu. Tapi, kau amnesia dan ayahmu tidak mengizinkanku untuk berhubungan lagi denganmu”
Mereka sampai di ambang pintu, pukul 3 pagi mereka tiba di rumah kecil di pedesaan pesisir pantai. Chanyeol melangkahkan kakinya masuk.
“dia pasti sedang tidur. Kau tidur di kamar tamu saja, disini hanya ada 3 kamar. Rumahnya kecil” jelas Zico, seraya hendak memapah Chanyeol menuju kamar tamu.
Chanyeol mendengus pelan, “kau tidak tahu betapa aku merindukan Jennie? Biarkan aku berada disisinya sampai pagi”
“ini sudah pagi! Kau akan mengejutkannya”
“tidak akan! Minggir, aku bisa sendiri” Zico tak dapat berbuat apa-apa, selain keras kepala Chanyeol juga cerewet kalau urusannya soal wanita.
Chanyeol memapah tubuhnya lewat dinding sebab lutut dan kedua kakinya masih belum bisa digerakkan dengan sempurna, pria itu menguatkan dirinya dan membuka pintu kamar dimana Jennie dan Junior berada. Chanyeol sudah membaca seluruh buku catatan Jennie dan tak bisa berhenti mengagumi wanita itu, meski tak satupun nama Chanyeol tercatat disana mungkin karena keadaan Jennie yang berusaha untuk melupakan Chanyeol.
Jennie terlelap diatas futon, kasur lantai tebal yang tersambung dengan penghangat. Sementara bayi mungilnya berada di tempat tidur bayi yang disimpan berdampingan dengan Jennie. Chanyeol menutup mulutnya agar tak bersuara, bayi laki-laki yang tampan memiliki rambut tebal lurus berwarna agak kecoklatan dan kulit halus dengan pipi tembam yang sehat, tubuh bayi itu panjang dan jemari mungilnya lentik berwarna kemerahan.
“sayangku…” bisik Chanyeol lembut disertai bulir airmata berjatuhan. Bayinya sedikit bergerak dalam tidurnya, Chanyeol menepuk lembut dan mengusap kedua kaki bayinya yang terbalut piama rajut yang tebal.
Chanyeol kemudian beralih pada Jennie yang tertidur lelap, sepasang mata kucingnya yang terpejam dibingkai dengan bulu mata lentik yang halus. Pipi Jennie tampak begitu kurus dan ada beberapa lebam diwajahnya.
Chanyeol Mengusap pipinya dan mengusap bibir pucat Jennie dengan jemarinya, pria itu membaringkan tubuh jangkungnya berhadapan dengan Jennie, posisi tubuhnya menyamping dengan kedua kaki ditekuk, ia berada diatas lantai tanpa alas apapun.
Chanyeol merasakan jantungnya berdegup kencang, ia begitu lega, damai dan bahagia tak terhingga saat orang yang paling dicintainya baik-baik saja.
“maafkan aku… Jennie…” Chanyeol menggapai pipi Jennie perlahan, mengusapnya dengan ibu jari begitu pelan. Jennie yang mungkin kelelahan setelah mengurus bayi mereka seharian tidak terganggu sama sekali dengan sentuhan kecil itu.
.
.
.
“NAKANO!!!” Jennie berteriak histeris saat ia terbangun pagi itu, Chanyeol yang tak tidur dan hanya memandangi Jennie pun gelagapan ketika melihat Jennie berteriak teriak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Third
RomansaYou are the best part but at the wrongest time. Perfection beyond imperfection.
