[11]

516 73 3
                                        

Pagi itu mendung, dan langit tampak kelabu, dengan matahari bersembunyi di balik awan tebal. Lily berdiri di depan pintu, menyimpul tali sepatunya dengan cermat. Setelah menyandang tasnya di bahu dan mengambil payung dari balik pintu, ia berpamitan dengan ibunya, lalu keluar rumah dengan senyum manis yang selalu menghiasi wajahnya. Langkahnya membawa Lily menuju jalan utama, tempat di mana Delynn sudah menunggu.

Dari seberang jalan, Delynn tampak tenang. Beberapa helai rambutnya terbang tertiup angin, semi menutupi wajah netralnya. Lily menarik napas dalam-dalam, membulatkan niat sebelum menyebrangi jalan untuk bertemu Delynn.

Saat Lily semakin mendekat, mata Delynn menangkap kehadirannya dan dia memberikan senyuman kecil. "Pagi," sapanya dengan ramah.

"Pagi juga, Delynn," jawab Lily, senyumnya kembali terlihat. Akan tetapi, setelah itu tak ada kata yang terucap. Keheningan singkat menggantung di antara mereka.

Merasa harus memecah kebisuan, Lily memberanikan diri meraih tangan kanan Delynn. Gadis itu menatapnya dengan pandangan penuh tanya, seraya Lily berkata, "Delynn, aku minta maaf."

"Minta maaf? Buat apa?" Delynn menjawab dengan alis terangkat.

"Soal kemarin...aku buat kamu nggak nyaman dengan pertanyaan yang seharusnya tidak perlu aku tanyakan," ujar Lily dengan nada tulus.

Delynn terdiam sejenak, menatap tangan Lily yang masih menggenggam tangannya dengan lembut. Angin pagi yang sejuk menyapu wajah mereka, menciptakan keheningan yang terasa berat namun juga menenangkan.

"Enggak, kamu enggak perlu minta maaf," kata Delynn akhirnya, suaranya pelan namun jelas. "Kamu cuma penasaran, itu wajar. Aku yang mungkin belum siap untuk cerita."

Lily menatap Delynn, matanya dipenuhi rasa peduli. "Tapi aku enggak mau membuat kamu merasa terbebani, Del. Aku cuma ingin lebih mengenalmu, tapi kalau itu bikin kamu enggak nyaman, aku janji enggak akan nanya lagi sampai kamu siap."

Mendengar itu, senyum kecil terbit di wajah Delynn. "Kamu tahu, Lily? Kamu selalu tahu cara bikin aku merasa lebih baik. Terima kasih udah ngerti."

Lily tersenyum lembut, perasaannya sedikit lega. "Aku cuma mau kamu tahu, apapun yang terjadi, aku di sini buat kamu."

"Dan aku juga di sini buat kamu, Lily," jawab Delynn, nada suaranya tulus. "Selalu."

Mereka melanjutkan perjalanan bersama, menunggu bus sekolah di bawah langit mendung. Sesekali, Lily melirik Delynn yang tampak lebih tenang, dan itu membuat hatinya hangat. Meskipun masih ada banyak yang Delynn sembunyikan, Lily yakin bahwa, dengan waktu, Delynn akan membuka dirinya sepenuhnya.

***

Suasana di kelas sangat kondusif, penuh dengan konsentrasi. Miss Gracia berdiri di depan papan tulis, menjelaskan materi dan rumus matematika dengan semangat. Sesekali, ia memberikan kesempatan pada murid-murid yang kurang memahami materi untuk bertanya.

Delynn mendengarkan penjelasan Miss Gracia dengan seksama, meski sesekali matanya melirik ke samping. Lily, dengan wajahnya yang lucu, tampak kebingungan, dan pemandangan itu membuat Delynn tersenyum samar-samar. Sesuatu tentang Lily selalu bisa membuat sudut bibir Delynn terangkat, meski hanya sedikit. saat Lily menyadari tatapan Delynn dan membalasnya, wajah Delynn kembali netral, seolah-olah tidak ada yang terjadi.

Lily tersenyum dan berbisik pelan, suaranya hampir tidak terdengar. "Delynn..."

"Iya?" jawab Delynn, sedikit menoleh.

"Kamu paham nggak?" tanya Lily, penuh harapan.

"Sikit," jawab Delynn dengan jujur.

"Aku nggak paham sama sekali," bisik Lily sambil tertawa kecil. "Mungkin aku memang nggak jago di matematika."

Delynn tersenyum, kali ini lebih nyata. "Tapi kamu pasti jago di mata pelajaran lain," balasnya, mencoba menyemangati Lily.

Lily tertawa kecil mendengar jawaban Delynn. "Hmm... mungkin. Tapi tetap aja matematika itu susah banget buat aku." Ia menghela napas sambil melirik catatannya yang penuh coretan.

Delynn menahan senyumnya, lalu mendekatkan sedikit kursinya ke arah Lily. "Mau aku jelasin lagi, pelan-pelan?"

Lily mengangguk dengan antusias. "Mau banget! Kamu kan pintar, Del."

Delynn mengangkat alis sedikit. "Pintar? Kamu terlalu baik, Lily. Tapi aku coba bantu, ya."

Dengan suara pelan agar tidak mengganggu kelas, Delynn mulai menjelaskan langkah-langkah dari rumus yang baru saja diterangkan oleh Miss Gracia. Ia menunjuk bagian-bagian penting di catatan Lily sambil memberikan contoh sederhana. Lily menyimak dengan seksama, tapi sesekali ia malah terpaku pada suara lembut Delynn yang menjelaskan.

"Jadi gitu caranya," kata Delynn sambil menatap Lily, memastikan ia paham.

"Ohh, aku ngerti sekarang!" sahut Lily, senyumnya melebar. "Kamu keren banget, Del. Kenapa enggak jadi guru aja?"

Delynn hanya terkekeh kecil. "Aku enggak sabar kalau jadi guru. Tapi kalau buat kamu, aku bisa sabar."

Lily sedikit tertegun mendengar itu, lalu tersenyum malu-malu. "Makasih ya, Delynn. Kamu baik banget."

"Udah, fokus lagi. Nanti Miss Gracia lihat kita malah ngobrol terus," balas Delynn sambil kembali menatap papan tulis. Meski begitu, ada senyum tipis yang terus menghiasi wajahnya selama sisa pelajaran. "Lucu"

***

Flashlight [Lilynn]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang