[13]

726 105 16
                                        

Begitu mereka tiba di depan kelas, suara riuh murid-murid yang baru kembali dari istirahat mulai terdengar. Tapi bagi Lily, dunia terasa lebih sunyi dari biasanya. Semua yang ia rasakan hanyalah degup jantungnya yang belum juga tenang dan kehangatan samar dari tangan Delynn yang sempat memegang rambutnya tadi.

Delynn membuka pintu kelas lebih dulu, lalu menoleh dan memberi isyarat pada Lily untuk masuk. Gadis itu menurut, tapi sebelum benar-benar masuk, ia menoleh sebentar ke arah Delynn.

"Del..." panggilnya lirih.

"Hmm?" Delynn mengangkat alis, masih berdiri di depan pintu sambil menahan daun pintu agar tak menutup sendiri.

"Thanks ya… udah nangkep aku tadi."

Delynn menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil—senyum yang langka, hanya muncul di saat-saat tertentu, dan bagi Lily, senyum itu seperti bunga pertama yang mekar setelah musim dingin yang panjang.

"Sama-sama. Aku nggak akan biarin kamu jatuh, ly."

Ucapan itu sederhana, tapi Lily tahu, Delynn tidak hanya bicara soal rak buku atau lantai perpustakaan.

Delynn tak akan membiarkannya jatuh… dalam arti apa pun.

Lily tersenyum pelan, lalu masuk ke kelas dengan hati yang terasa hangat. Sementara Delynn tetap berdiri beberapa detik lebih lama di ambang pintu, menatap punggung gadis itu sebelum akhirnya ikut masuk—duduk di bangkunya, seperti biasa.

Tapi keduanya tahu, meski hari ini tampak seperti hari biasa, ada sesuatu yang berubah.

Ada rasa yang perlahan tumbuh.

---

Pelajaran kembali dimulai. Suara Miss Gracia mengisi ruangan, menjelaskan materi matematika lanjutan yang cukup rumit. Namun perhatian Delynn sedikit teralihkan. Pandangannya sesekali melirik ke arah Lily yang duduk di sebelahnya, memperhatikan cara gadis itu mencatat—dengan tulisan kecil rapi, sesekali menggigit ujung pulpen, dan kadang mengerutkan dahi saat tak paham.

Delynn mengalihkan pandang saat Lily hampir menangkap tatapannya. Tapi gadis itu tersenyum—senyum manis yang membuat dada Delynn berdebar tak karuan. Ia berdehem pelan dan kembali fokus ke buku, mencoba membaca ulang soal yang baru saja dijelaskan, meski otaknya rasanya lebih sibuk mencerna perasaannya sendiri daripada angka dan rumus.

Tak lama kemudian, selembar kertas kecil mendarat di pinggir meja Delynn. Ia melirik. Itu dari Lily.

"Del... kamu bisa nomor 3 ini nggak? Boleh minta contekannya dikit?"

Delynn tersenyum kecil, lalu menuliskan jawabannya dengan jelas, tapi sebelum mengembalikannya, ia menambahkan satu baris catatan kecil di bawah:

"Aku bantu kamu terus, asal kamu jangan jatuh lagi—dalam arti apa pun."

Ia lipat kertasnya kembali dan mendorongnya ke arah Lily. Gadis itu membacanya perlahan, lalu menatap Delynn dengan pipi yang bersemu merah. Delynn pura-pura tidak sadar, tapi diam-diam ia ikut tersenyum.

Mereka tak bicara sepatah kata pun setelahnya, namun ruang di antara mereka terasa lebih hangat, lebih dekat. Tak ada yang perlu dijelaskan lebih jauh. Mungkin, di antara rumus dan angka yang rumit, hati mereka justru menemukan jawaban paling sederhana:
rasa yang tumbuh pelan, tapi pasti.

---

Senja mulai merayap di balik jendela bus sekolah yang bergoyang pelan mengikuti jalanan kota. Cahaya jingga keemasan memantul di kaca, menari-nari di wajah Delynn yang tengah bersandar diam. Matanya menatap ke luar, namun pikirannya tertuju pada seseorang di sebelahnya—Lily.

Flashlight [Lilynn]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang