Langit sore memerah lembut, menyapa ufuk dengan hangat. Angin berbisik pelan, membawa aroma bunga dari taman depan rumah Lily. Suara jangkrik mulai muncul, menyambut malam yang datang perlahan.
Delynn duduk di ruang tamu; sofa empuk memeluk tubuhnya dengan nyaman. Sebuah buku terbuka di pangkuannya, sementara aroma teh hangat menguar dari cangkir di meja kayu.
“Delynn…”
Suara itu terdengar lembut—seperti helaian sutra yang menari di udara.
“Hm?” Delynn menutup bukunya, lalu menoleh. Tatapan tajamnya bertemu dengan mata bulat Lily yang tampak ragu.
“Kamu mau makan apa malam ini?” tanya Lily pelan, kepalanya sedikit menunduk.
“Apa aja,” jawab Delynn ringan. Tapi senyum kecil muncul di bibirnya—gemas melihat bagaimana Lily tiba-tiba jadi malu.
“Aku pengen masakin kamu sesuatu,” lanjut Lily, suaranya lirih. “Tapi bahan di dapur udah habis. Kayaknya Mama belum sempat belanja.”
Delynn mengangguk. Ia tahu keluarga Lily sibuk—terutama ayahnya yang sering bolak-balik Indonesia-Amerika untuk urusan kerja.
“Jadi…” Lily menautkan jari-jari tangannya, pipinya memerah. “Kamu mau temenin aku ke supermarket?”
Tawa kecil lolos dari bibir Delynn. “Mau,” jawabnya singkat tapi hangat.
“Beneran?”
“Iya.”
Delynn berdiri, menunduk sedikit untuk merapikan poni Lily yang berantakan. “Tapi kenapa kamu harus malu ngomongnya?”
Wajah Lily makin merah. “Aku takut ngerepotin kamu.”
“Kamu nggak pernah ngerepotin aku, Lily.”
Delynn menggenggam tangannya sebentar, genggaman yang terasa hangat dan menenangkan. “Kamu siap-siap, ya. Aku ambil mobil dulu.”
Lily mengangguk cepat, senyumnya merekah sebelum ia berlari kecil ke kamar. Delynn menatap punggung itu sebentar, lalu melangkah pulang ke rumahnya.
---
Kamar Delynn sunyi. Ia berganti pakaian dengan track top abu dan jogger senada, sepatu New Balance terpasang rapi di kaki. Setelah menyemprot parfum ke lehernya, ia menuruni tangga menuju garasi.
Mazda CX-5 miliknya terparkir di bawah lampu neon, cat merahnya berkilau. Mesin menderu halus saat dinyalakan. Gerbang otomatis terbuka, dan mobil itu meluncur keluar.
Tak sampai semenit, ia sudah berhenti di depan rumah Lily.
Lily keluar dari pagar, menguncinya, lalu melangkah ke arah mobil. Blus biru langit dan rok putih selutut membuatnya tampak seperti musim semi yang berjalan. Rambutnya tergerai, sedikit bergoyang diterpa angin.
Delynn menurunkan kaca jendela, senyum tipis menghiasi wajahnya.
“Dengan Ibu Lilyana Abigail?” tanyanya pura-pura formal, seperti sopir taksi online.
“Ihh, Delynn…” Lily menunduk, pipinya bersemu.
Delynn hampir tertawa. Cantik banget, batinnya. “Ayo masuk,” katanya sambil menekan tombol kunci pintu.
Begitu Lily duduk di kursi penumpang, Delynn mencondongkan tubuh, menarik sabuk pengaman dan menyilangkan ke dada Lily. Jarak mereka terlalu dekat; aroma vanila yang manis menyapa hidungnya.
“Seatbelt,” ucap Delynn datar, tapi jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
“Oh—makasih,” Lily tertunduk malu, suara kecilnya nyaris tenggelam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Flashlight [Lilynn]
Teen FictionDelynn, seorang gadis SMA yang dikenal dengan sikapnya yang dingin, menemukan dunianya perlahan berubah ketika Lily, seorang gadis yang ceria dan baik hati, menjadi tetangga dan teman sekelasnya. Meskipun awalnya Delynn menolak, kehangatan dan kebai...
![Flashlight [Lilynn]](https://img.wattpad.com/cover/367460975-64-k812575.jpg)