[16]

637 83 4
                                        

Cahaya matahari pagi menyelinap masuk lewat jendela kecil kamar Lily, menyinari kamar dengan suasana hangat yang menenagkan. Lily sudah terbangun lebih dulu. Gadis itu berbaring menyamping dengan tangan kiri menyanggah kepalanya, rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya, yang langsung berhadapan dengan wajah tenang Delynn yang masih tertidur pulas. Sudut bibir Lily terangkat, membentuk senyum kecil yang tulus, gadis itu tak bisa menahan tangan untuk tidak membelai rambut Delynn, sebelum akhirnya mengelus pipinya. "Kamu penuh kejutan, Delynn." gumamnya pelan.

Delynn mengerutkan alisnya sedikit, mungkin karena sentuhan lembut di pipinya, lalu perlahan mengerjapkan mata. Pandangannya masih buram, tapi begitu matanya benar-benar terbuka, hal pertama yang ia lihat adalah wajah Lily yang begitu dekat, dengan senyum hangat dan mata berbinar.

"Morning," bisik Lily, masih membelai pelan ujung rambut Delynn yang berantakan namun tetap terlihat manis.

Delynn terdiam beberapa detik, seperti tak yakin ini kenyataan. Tapi kemudian ia menghela napas pelan dan membalas dengan suara parau khas orang baru bangun, “Morning, sayang."

"De—Delynn! tiba tiba banget." wajah lily memerah.

Lily langsung menarik tangannya yang tadi membelai rambut Delynn, wajahnya memerah hingga ke telinga. Ia berusaha menutupi pipinya dengan selimut, tapi senyum polosnya tak bisa disembunyikan.

“Aduh… itu refleks, maaf,” ucap Delynn, sambil membalik tubuhnya menghadap langit-langit, mencoba menyembunyikan senyum geli-nya sendiri. Tapi dari cara bahunya bergetar ringan, jelas ia sedang menahan tawa.

Lily mendekatkan wajahnya, mengintip dari balik selimut. “Tapi... kamu barusan manggil aku apa?”

“Sayang,” jawab Delynn datar, masih menatap langit-langit kamar. “Kenapa? Nggak boleh?”

“Bukannya nggak boleh...” Lily menunduk, jari-jarinya memainkan ujung selimut. “Cuma... ya... tiba-tiba aja.”

“Aku bisa panggil kamu yang lain kalau kamu nggak suka,” Delynn menoleh perlahan, matanya menatap lurus ke mata Lily yang kini kembali terjebak dalam tatapan itu. “Mau aku ganti jadi... honey? sweetheart? beb?”

Lily langsung menutup wajahnya lagi. “Delynn! Aku belum siap denger yang itu-ituan pagi-pagi!”

Delynn tertawa pelan, suara tawanya renyah dan jarang terdengar seperti itu.

“Okay, noted. Kita mulai dari ‘sayang’ dulu aja, pelan-pelan.”

Lily menghela napas panjang, lalu ikut tertawa kecil. Ia pun berguling ke arah Delynn dan menarik selimut sampai menutupi mereka berdua. Mata mereka kini hanya dipisahkan beberapa jengkal. Dalam diam yang nyaman, mereka saling menatap tanpa kata. Dunia terasa pelan.

“Thanks ya...” bisik Lily akhirnya.

“Buat?”

“Semalam. Hari ini. Dan mungkin… beberapa hari ke depan.”

Delynn hanya menatapnya, lalu menyentuh ujung hidung Lily dengan telunjuknya.

“Anything for you.”

"Kalau gitu, kamu yang buat sarapan." pinta Lily manja, tanganya kembali membelai pipi Delynn penuh kasih.

"As your wish, tapi ada syaratnya."

"Apa syaratnya?"

"Cium"

"Delynn!"

---

Di ruang makan yang hangat dengan aroma roti panggang dan susu hangat, Lily duduk di meja dapur sambil mengenakan kaus kebesaran dan celana pendek. Rambutnya dikuncir seadanya, tapi senyum paginya membuatnya terlihat lebih bercahaya dari biasanya. Delynn sedang berdiri di dekat kompor, sibuk membalik telur dadar dengan ekspresi penuh konsentrasi.

Flashlight [Lilynn]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang