[14] soft version

49 7 0
                                        

Napas Delynn tercekat pelan saat melihat siluet Lily di balik tirai kamar mandi yang buram. Cahaya lampu kuning lembut bercampur uap air, membentuk bayangan lembut yang seolah menari pelan. Lily berdiri di bawah pancuran, rambut panjangnya basah menempel di punggung, gerakannya lambat dan rileks-seperti sedang menikmati momen sendirian.

Delynn diam-diam melepaskan seragam sekolahnya satu per satu, kain-kain itu jatuh tanpa suara ke lantai ubin yang dingin. Ia melangkah masuk pelan, uap hangat langsung menyambut kulitnya, membawa aroma sabun vanila dan sampo lily yang manis.

Lily masih belum sadar. Air mengalir lembut di tubuhnya, menelusuri lekuk bahu, pinggang ramping, hingga pinggul yang lembut. Delynn mendekat tanpa suara, lalu dengan hati-hati melingkarkan kedua lengannya dari belakang-memeluk pinggang Lily erat tapi lembut, dagunya bersandar di bahu gadis itu.

Lily tersentak kecil, tubuhnya menegang sesaat. "De... Delynn?" suaranya terdengar terkejut, tapi ada nada manja yang tak bisa disembunyikan.

"Hai," bisik Delynn di dekat telinga Lily, suaranya rendah dan hangat, nyaris tenggelam dalam gemericik air.
"Boleh ikut mandi bareng nggak?"

Lily diam sejenak, napasnya terasa lebih cepat. Ia tidak menolak, hanya mengangguk pelan-gerakan kecil yang membuat Delynn tersenyum tipis.

Delynn membalikkan tubuh Lily perlahan hingga mereka berhadapan. Air membasahi wajah keduanya, membuat bulu mata Lily tampak lebih panjang dan mata cokelatnya berkilau. Delynn mengangkat tangan, menyentuh pipi Lily dengan lembut, ibu jarinya mengusap air yang menetes di sana.

"Kamu cantik banget pas lagi kayak gini," ucap Delynn pelan, tatapannya tulus.

Lily menunduk sebentar, pipinya memerah meski uap menutupinya.
"Kamu... tiba-tiba aja masuk," protesnya lirih, tapi bibirnya tersenyum kecil.

"Maaf," Delynn tertawa pelan. "Tapi aku nggak tahan cuma lihat dari luar."

Mereka saling menatap dalam diam beberapa detik, hanya suara air dan napas yang terdengar. Lalu, dengan gerakan perlahan, Delynn mendekatkan wajahnya. Bibir mereka bertemu-pertama ringan, seperti mencoba-coba, lalu semakin dalam tapi tetap penuh kelembutan.

Lily membalas dengan ragu-ragu dulu, tangannya naik menyentuh lengan Delynn, lalu merayap ke leher-seolah mencari pegangan. Ciuman itu terasa hangat, basah karena air, dan penuh rasa ingin tahu yang manis.

Delynn menarik Lily lebih dekat hingga dada mereka menempel, kulit bertemu kulit dalam pelukan yang licin dan hangat. Tangannya mengelus punggung Lily pelan, menelusuri garis tulang belakang dengan jemari yang lembut-bukan menuntut, hanya menikmati keberadaan satu sama lain.

Lily mengeluh kecil di antara ciuman, suaranya lembut dan hampir tak terdengar. Ia memiringkan kepala, memberi ruang saat bibir Delynn berpindah ke lehernya-hanya kecupan ringan, hangat, yang membuat bulu kuduknya merinding.

"Delynn..." panggil Lily pelan, suaranya bergetar antara malu dan senang.

"Aku di sini," balas Delynn sambil tersenyum di kulit leher Lily. "Kita nggak buru-buru, ya?"

Lily mengangguk kecil, lalu memeluk Delynn lebih erat-seolah menyerahkan diri pada momen itu. Mereka tetap berdiri di bawah pancuran, saling berpelukan, saling menyentuh dengan lembut-tangan menelusuri bahu, pinggang, punggung-seperti sedang belajar bahasa baru yang hanya mereka pahami.

Air terus mengalir, membawa serta rasa gugup yang perlahan mencair menjadi kehangatan. Tidak ada kata-kata besar, hanya sentuhan halus, tawa kecil yang terselip di antara desahan pelan, dan perasaan bahwa malam ini, batas di antara mereka menjadi sedikit lebih tipis-tapi tetap penuh kelembutan dan saling menghargai.

---

Mohon maaf ya, guys. Chapter ini aku perlembut dan sensor, karena setelah ku baca ulang, narasinya terlalu brutal untuk anak SMA, jadi kita modifikasi. Yang udah baca pasti tau sih gimana brutalnya Delynn.

Flashlight [Lilynn]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang