[15]

774 98 22
                                        

Awan malam menggantung rendah di luar jendela, menyisakan cahaya bulan yang menempel di kaca. Di dalam kamar yang hangat, aroma sabun dan uap masih terasa di udara, sisa dari momen intim yang baru saja mereka bagi di kamar mandi.

Lily dan Delynn duduk bersebelahan di tepi tempat tidur, tubuh mereka dililit handuk putih yang lembut, hangat menempel di kulit. Rambut mereka, masih setengah basah, meneteskan air kecil-kecil ke bahu dan lantai kayu yang sedikit berderit.

Pipi keduanya merona merah, bukan hanya karena uap panas, tapi juga karena perasaan yang berputar di dada—campuran malu, gugup, dan sesuatu yang lebih dalam, yang tak bisa mereka ucapkan.

Hening menyelimuti ruangan, hanya suara napas pelan dan detik jam dinding yang berdetak lembut. Lily menunduk, jari-jarinya memainkan ujung handuk, seolah mencari keberanian untuk bicara. Akhirnya, ia menghela napas, suaranya kecil namun penuh tekad. “Aku... mau ambil baju tidur buat kita.”

Ia bangkit dari tempat tidur, kakinya baru saja menyentuh lantai saat tangan Delynn, dengan gerakan cepat namun lembut, menahan pergelangan tangannya.

Lily membeku, jantungnya berdegup kencang. Dengan tarikan pelan, Delynn membuat Lily kehilangan keseimbangan.

Dalam sekejap, Lily jatuh terduduk di pangkuan Delynn, punggungnya menempel erat pada dada Delynn yang hangat. Nafas Lily tersengal, wajahnya semakin merona saat tangan Delynn masih memegang pergelangannya, lembut namun teguh, seolah tak ingin melepaskan.

“Delynn...” Lily berbisik, suaranya nyaris hilang, tak berani menoleh. Ia bisa merasakan napas Delynn di belakang telinganya, hangat dan pelan, membuat bulu kuduknya meremang.

Delynn tak menjawab segera. Tangannya yang lain merayap pelan, menyentuh pinggang Lily melalui handuk, gerakannya penuh hati-hati, seolah takut memecahkan sesuatu yang rapuh.

“Jangan pergi dulu,” bisik Delynn akhirnya, suaranya rendah, penuh perasaan yang tak bisa ia sembunyikan lagi. “Sebentar aja... di sini, sama aku.”

Hening kembali hadir, tapi kali ini penuh makna. Di bawah cahaya redup lampu kamar, kedua gadis itu terdiam dalam pelukan yang tak terucap, membiarkan detak jantung mereka berbicara lebih lantang dari kata-kata.

"Okey...sebentar aja ya? Nanti kita masuk angin."

Delynn tersenyum kecil, bibirnya nyaris menyentuh pundak Lily.

“Sebentar aja…” ulangnya pelan, seolah sedang menyimpan waktu di antara sela-sela napas mereka.

Ia menyandarkan dagunya di bahu Lily, menikmati hangatnya kehadiran gadis itu di pelukannya, seakan dunia di luar kamar telah berhenti berputar.

Lily tak menolak. Ia justru mengendurkan bahunya, bersandar lebih erat, membiarkan jantungnya berdetak selaras dengan detak di dada Delynn.

Tangannya, yang semula kaku, kini bergerak pelan, menyentuh lengan Delynn yang melingkari pinggangnya—sentuhan kecil yang menyampaikan rasa percaya, rasa nyaman… dan sesuatu yang belum berani ia beri nama.

Suara hujan tipis mulai terdengar dari luar jendela, seperti irama pengantar untuk keheningan yang mengikat mereka. Aroma hujan dan uap sabun bercampur, menciptakan kesan damai yang lembut dan personal.

Beberapa menit berlalu begitu saja, tanpa kata. Hanya napas. Hanya hangat.

Lily memiringkan wajahnya sedikit, ingin mengatakan sesuatu, namun ragu. Matanya menangkap pantulan cahaya bulan di lantai kayu yang mulai mengering, dan senyumnya muncul perlahan. “Delynn… kalau aku nginep di rumahmu besok, boleh?”

Delynn menoleh sedikit, dagunya masih di bahu Lily. “Kenapa?”

“Aku… cuma nggak pengin sendiri. Tapi juga nggak tahu harus gimana ngomongnya.” Lily terkikik kecil, gugup. “Tapi kalau kamu risih, aku—”

Flashlight [Lilynn]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang