Setelah sampai di hotel Geraldo pun segera menuju kamar Gianna. Geraldo langsung membunyikan bel kamar Gianna, Di dalam kamar Gianna mendengar bunyi bel dan Ia berusaha untuk bangun sambil menahan rasa sakit, Ia berjalan tertatih sambil memegang perutnya yang sudah turun itu. Membutuhkan waktu cukup lama membuat Geraldo tak sabar, dan terus menerus membunyikan bel sambil sesekali memanggil Gianna. Gianna langsung membuka pintu, langsung terkulai lemas, untungnya Geraldo segera menangkapnya. Ia segera masuk mengendong Gianna, dan menidurkan di atas kasur.
Geraldo segera memakai sarung tangan, dan memegang perut Gianna untuk mengecek kondisi sang bayi, lalu membuka celana dalam istrinya dan memasukan jarinya untuk mengecek pembukaan. 7 jari berhasil dimasukkannya. Gianna meringis perih. Pembukaan 7, benar saja dugaan geraldo Gianna akan segera melahirkan dan tidak akan keburu jika dibawa pulang.
Kontraksi kuat kembali menghantam Gianna membuatnya ingin mengejan.
"aaaakhhhh nnggghhh." Gianna merasakan sang bayi semakin turun membelah panggulnya berusaha ingin keluar. Bagian area selatan tubuhnya terasa amat perih.
Geraldo mengambil pad, dan diletakannya di kasur. Lalu memindahkan Gianna ke atas pad. Geraldo menelpon resepsionis untuk meminta beberapa barang yang Ia butuhkan, sekaligus Ia menjelaskan keadaan istrinya termasuk menjelaskan dirinya adalah seorang dokter, sekaligus Ia meminta menyiapkan ambulance untuk bersiap di bawah.
Peralatan yang dibutuhkan Geraldo segera diantarkan oleh petugas hotel dan tak lama pembukaan lengkap, Gianna tak tahan untuk menahan kontraksi dan akhirnya Ia mengejan kuat.
"NNGGGHHH MMMMPPPHHH NNNGGHHH AAAKKHHH"
Kepala sang bayi hampir keluar, namun karena Ia berhenti mengejan kepala bayinya kembali masuk.
"Hufft huft huftt aakkhh perih bangeett."
" Ayook tarik nafas sayangg, sedikit lagi.. 1..2...3... PUSHH." Geraldo menyemangati Gianna
"Nngggghh ngggghhh nnggghhhh aakkhh"
Kepala sang bayi yang hampir keluar kembali masuk
"Ayo sayangg dikit lagii, tarik nafas panjangg.. 1.. 2.... 3..... pushhh."
"Nnnggghh mmmpphh ga biisaa kontraksinya hilangg," Gianna merasakan kontraksinya hilang, membuatnya tak ada dorongan untuk mengejan. Geraldo menunggu sampai Gianna merasakan kontraksi kembali.
2 jam berlalu, namun Gianna tak kunjung mendapatkan kontraksi.
"Sayang aku ga bawa suntikkan untuk induksi, bantu induksi alami ya."
Gianna hanya mengangguk pasrah. Geraldo langsung membuka bra Gianna, kemudian meremas kedua payudara Gianna untuk merangsang kontraksi pada rahimnya, kemudian dihisapnya kedua puting Gianna bergantian. Gianna sudah pasrah dengan apapun yang harus dilakukan. Meski saat ini dia sedang benci dengan suaminya, Ia tetap merasakan kenikmatan saat suaminya mengisap putingnya itu.
"oohh ahhhh." Gianna mendesah
Setelah cukup lama memijat dan menghisap kedua payudara sang istri, akhirnya kontraksi kuat kembali menyerang Gianna,
"aaaahh sssstt ssaaa kkiittt"
"NNGGGGGGHHHH NNGGGHHHHHHHH MMPPPPPHHH NNGGGG AAAKKKHHHHHHH." Ia mengejan kuat sementara Geraldo masih asik memainkan payudara Gianna.
"AAAAAAAKKKKHHHH NNNGGGHHHHH." Gianna berteriak dengan keras membuat Geraldo menghentikan aksinya. Ia melihat bayinya sudah hampir keluar. Ia segera bersiap untuk menangkap sang bayi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Born with Love, Just Me & You
Romansa⚠️Mature Content!! ⚠️Khusus untuk 21+ 🔞 ⚠️Mengandung adegan melahirkan, sex, vulgar. Bercerita tentang sepasang suami istri yang sudah 2 tahun menikah, Geraldo & Gianna dan belum dikarunia seorang anak. Geraldo adalah seorang dokter muda spesialis...
