2 minggu kemudian....
Daniel belum juga berhasil ditemukan. Polisi sudah menelusuri area jurang dan tidak menemukan tanda-tanda keberadaannya. Maka, pihak polisi telah memutuskan untuk tidak melanjutkan pencarian dan menganggap bahwa Daniel telah meninggal.
Berita itu pun membuat kedua orang tua Daniel merasa hancur. Mereka tak menyangka bahwa anaknya harus mengalami hal setragis ini.
Saat ini anak-anak Magic 5 tengah duduk di tangga yang berada di luar sekolah. Mereka pun sedang membicarakan tentang hilangnya Daniel dan juga keputusan pihak kepolisian.
"Gua masih gak nyangka loh kalo nasib Daniel bakalan kayak gini" celetuk Irsyad.
"Sama gua juga" sambung Gibran.
Mereka semua terdiam sesaat. Kemudian saling pandang satu sama lain. Situasi pun menjadi hening, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Beberapa saat kemudian, keheningan itu hilang saat salah satu ponsel mereka berbunyi.
Ya, ponsel itu milik Adara. Ia pun langsung mengambil ponselnya dan melihat nama yang tertera di layar.
"Papa telpon..." kemudian menerima panggilan telpon itu. Mereka semua memandang Adara dengan lekat. Mencoba untuk memikirkan apa yang tengah ia bicarakan dengan Fathir ayah angkat mereka.
"Oh iya pa, waalaikum salam" panggilan berakhir. Adara terdiam sesaat kemudian menatap ke arah saudara-saudaranya dan berkata "Papa bilang dia bakalan lama di sana" ucapnya sedikit menunduk.
"Rumah bakalan sepi, karena gak ada papa sama eyang" ujar Gibran.
"Papa ada ngomong apa lagi selain itu?" tanya Rahsya.
"Gak ada, papa cuma bilang itu aja ke gua?!"
Beberapa saat kemudian, bel masuk pun berbunyi. Mereka memutuskan untuk masuk ke kelas mereka masing-masing dan kembali membahas soal ini di jam istirahat ke dua nanti.
****
Waktu terus berganti, dan sekarang bel jam istirahat ke-2 pun berbunyi. Begitu bel berbunyi, semua guru mengakhiri pembelajaran. Untuk kemudian pergi meninggalkan ruang kelas.
"Yaudah yuk, kita temui mereka?!" ujar Irsyad.
Adara mengangguk. Mereka berdua pun melangkah meninggalkan ruang kelas menuju ke arah kantin untuk menemui ketiga saudaranya.
Saat mereka berdua sampai, kebetulan sekali makanan yang di pesan oleh ketiga saudaranya sudah datang. Sehingga mereka berdua tak perlu repot-repot untuk memesan makanan lagi.
"Jadi gimana....?" ujar Naura membuka pembicaraan.
"Apanya?" tanya Adara dengan raut wajah tak paham.
"Tadi mbak Siti sama mas Tejo telpon gua. Mereka bilang kalo mereka harus pulang kampung. Kata mbak Siti saudaranya di kampung lagi sakit, terus kalo mas Tejo katanya ada reuni keluarga, yang dimana seluruh anggota keluarga diwajibkan buat ikut" tutur Rahsya.
"Dan kemungkinan mereka bakalan lama di sana. Jadi kita harus mandiri di rumah?!" timpal Gibran.
Mereka semua mengangguk. Dan segera menghabiskan makanan mereka untuk kemudian pergi dari kantin menuju ke taman samping sekolah.
Belum juga sempat makanan mereka habis. Mereka mendengar suara keributan, yang berasal dari lapangan. Kemudian secara bersamaan mengalihkan pandangan ke arah lapangan yang terlihat ramai dengan segerombolan siswa.
"Apaan tuh rame-rame?" tanya Adara.
"Gua juga gak tau?!" balas Irsyad.
"Ada orang bagi-bagi makanan gratis mungkin" tebak Gibran.
"Kalo iya, gua juga mau" celetuk Irsyad.
"Dari pada lo berdua asal nebak aja, mending sekarang kita lihat" usul Naura.
"Gua setuju apa kata Naura. Dari pada lo berdua asal nebak yang hasilnya gk jelas. Mending langsung kelapangan" timpal Rahsya.
Mereka pun pergi bersama ke arah lapangan. Begitu mereka sampai, mereka harus di buat terkejut oleh apa yang berada di depan mereka sekarang.
"Lo...?!" ujar mereka serempak dengan raut wajah menunjukkan keterkejutan.
Bersambung.....
Kira-kira siapa ya dia?Ada yang bisa tebak??
KAMU SEDANG MEMBACA
MAGIC 5
Teen FictionMenceritakan tentang lima orang anak yang memiliki kekuatan berbeda-beda dan di temukan di tempat dan waktu yang berbeda
