"Sekian pertemuan hari ini. Untuk tugas yang saya berikan silahkan dikumpulkan sesuai jadwal yang ditetapkan. Selamat sore." Ucap Tama menutup kelas magister sore itu.
"Kana, setelah ini ikut saya ke ruang dosen." Kata Tama sebelum meninggalkan ruang kelas saat ia melihat Kana hendak beranjak dari kursinya. Kana yang mendengar itu mengangguk.
Ruang dosen
"Mama mau kita fitting baju hari ini."
"Bapak nyuruh saya ke ruangan cuman mau bilang ini?"
"Siapa yang bilang saya nyuruh kamu ikut ke ruangan saya cuman karena ini? Saya mau kita pulang bareng makanya saya mau nyuruh kamu nunggu disini dulu."
Setelah menyelesaikan kalimatnya Tama tampak meninggalkan ruangannya. Sekitar setengah jam kemudian ia kembali. Dan setelahnya ia dan Kana meninggalkan ruangan itu.
***
"Lo masih ngapain sih dek?" Tanya Joni sedikit berteriak. Mungkin ini sudah menit ke-lima belas dia seperti itu.
"Bentar..." Balas Kana tak kalah berteriak. Joni yang mendengar itu menghela nafasnya.
"Belum kelar juga bang?"
"Belum Ren." Reno hanya memasang wajah datar mendengar jawaban Joni. Tak lama kemudian ia ikut bersuara.
"Bang Tama sama keluarga yang lain udah pada nungguin Na." Kata Reno dengan nada datar andalannya.
Cklek
Tak diduga, seperkian detik kemudian, Kana membuka pintu kamarnya.
"Iya iya. Abang lo juga sih Ren. Masih aja ngasih tugas ke gue buat dikumpulin hari ini." Jawab Kana sedikit sewot sambil membenarkan kebaya yang dipakainya.
5 menit kemudian
Semua mata orang yang sedang berada di ballroom itu tampak tertuju ke arah Kana yang baru saja mendudukan dirinya. Kana yang melihat itu agak merasa risih. Maklum dia anak introvert meskipun banyak orang salah mengira ia ekstrovert profesional.
"Kenapa mereka pada ngelihatin gue gitu sih?" Monolog Kana yang masih terdengar oleh telinga Joni.
"Lo juga sih lama bener. Tugas kan bisa dikelarin nanti. Toh Tama juga yang ngasih tugasnya." Cibir Joni sedikit menggerutu.
"Ya temen lo juga sih bang. Gue udah minta kelonggaran tapi dianya nggak mau." Balas Kana tak mau disalahkan.
Di tengah perdebatan adik kakak itu, Bagas menginstrupsi. "Udah-udah. Acaranya udah dimulai." Mendengar itu, Kana dan Joni langsung mengakhiri perdebatan mereka.
30 menit kemudian
"Kamu tadi kok lama sekali?" Kata Tama yang dihadiahi tatapan tajam oleh Kana.
"Salah bapak juga nyuruh saya nyelesaiin tugas tepat waktu." Kata Kana seraya menyematkan cincin ke jari manis Tama.
"Tenaga kamu gede juga ternyata." Timpal Tama saat Kana menyematkan cincin itu kasar. Kana yang mendengar itu tak memberi balasan apa-apa.
"Jangan ngambek. Nanti cantiknya hilang." Lanjut Tama setelah menyematkan cincin bertahtakan berlian itu ke jari manis Kana.
"Bodoamat." Balas Kana ketus. Tama yang mendengar itu hanya tersenyum.
Setelah acara tukar cincin, kini kedua belah pihak keluarga tengah membahas tanggal baik untuk Tama dan Kana.
"Bener kan kata gue?" Cerocos Bagas tiba-tiba sambil menyenggol lengan Kana.
"Bener apanya?" Balas Kana tak paham maksud Bagas.
"Yaelah si anoa pikun bener." Bukannya menjawab pertanyaan Kana, Bagas malah meledek sahabatnya itu.
"Siapa juga yang pikun kampret?!" Balas Kana agak berteriak.
"Nggak ribut nggak hidup." Ucap Reno mendengar perdebatan unfaedah kedua sahabat itu.
"Dia juga sih Ren." Rengek Kana membuat Reno menggelengkan kepalanya.
"Bener gimana maksud lo Gas?" Kata Reno yang entah mengapa jadi ikut penasaran dengan perkataan Bagas tadi.
"Ya bener kata gue. Si anoa bakal nikah sama Pak Tama." Balas Bagas dengan ekspresi menyebalkan. Kana yang mendengar itu terkejut sedangkan Reno mendecih. "Gue kira apaan."
"Udah inget?" Tanya Bagas pada Kana.
"Udah. Lo juga sih doanya gitu. Dikabulin kan?" Balas Kana sewot. Bagas yang mendengar itu tertawa.
"Kok lo bilangnya gitu sih Na? Gue aduin Bang Tama tau rasa lo." Kata Reno dengan wajah serius. Kana yang melihat itu langsung memohon pada Reno untuk tak mengadukannya ke Tama. Bagas yang melihat dua sahabatnya itu mulai ribut mencoba memperburuk keadaan dengan ikut-ikutan menggoda Kana.
Perdebatan ketiganya pun terus berlanjut hingga Joni sampai turun tangan. Memang ada-ada saja kelakuan mereka.
***
Epilog kali ini cukup pendek karena aku pingin temen-temen bayanin sendiri gimana kelanjutan kisah Tama dan Kana ini.
Terimakasih buat temen-temen yang sudah baca cerita ini sampai akhir. Sampai ketemu di ceritaku yang lain.
Love, Meska
KAMU SEDANG MEMBACA
Dospem | Kim Doyoung
Fanfic"Kamu tuh ya, kalo saya kasih tahu pasti ngejawab. Sampai heran saya." -Tama "Sebenarnya saya nggak ada niat pak buat ngejawab perkataan bapak, sumpah. Saya cuma mau membela diri." -Kana __________________________________________________ Desclaimer...
