Saat ini kediaman Hao dipenuhi orang-orang yang amat dirinya kenal. Tak hanya ada kedua Orang tuanya Papa Siwon dan Mama Yoona, saudaranya Taerae dan suaminya Junhyeon ataupun keluarga Jiwoong dan Matthew.
Tetapi dihadapannya kini juga ada Hanbin dan Maminya Tiffany. Hao sedang memproses kejadian yang tengah tiba-tiba dirinya hadapi ini.
Hao memilih diam tidak berucap saat Papa Siwon dan Mama Yoona tengah berbicara bersama Hanbin dan Mami Tiffany.
"Kenapa lu Hao tegang amat". Bisik Taerae yang membuat Hao ingin sekali memukulnya.
"Diem ya lu". Dengan mata tajam menatap Taerae dihadapannya.
Taerae terkikih kecil kala melihat Hao dengan wajah tegang menimang apa yang terjadi saat ini.
"Baik semuanya, kita mulai aja ya acara hari ini". Papa Siwon mengawali acara dadakan bagi Hao ini untuk dimulai.
Hao dengan wajah bingung hanya menegok ke arah kanan dan kiri. Apa yang dirinya lewatkan, kenapa dirinya tidak mengetahui apa-apa.
"Langsung aja ya nak Hanbin silahkan menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan nak Hanbin bersama sang Ibu ke kediaman Hao hari ini".
Papa Siwon menyilahkan Hanbin untuk berbicara dengan menyuruhkan berdiri dihadapan yang lainnya.
Hanbin menatap semua orang yang berada disana satu persatu. Kini matanya tertuju kepada kedua orang tua Hao.
"Sebelumnya, Selamat sore semuanya. Terimakasih untuk Tuhan karena berkat dan kasihnya kita dapat berkumpul di tempat ini. Terimakasih untuk Papa Siwon dan juga Mama Yoona yang sudah mau menerima saya dan Mami untuk datang ke tempat ini".
Hanbin mengalihkan tatapannya kearah Taerae, Junhyeon, Jiwoong dan juga Matthew.
"Terimakasih untuk Taerae dan Junhyeon, serta Kak Jiwoong dan Matthew karena sudah membantu saya dalam menyiapkan segala sesuatunya".
Hanbin beralih menatap seorang yang melahirkannya, Mami Tiffany yang memberikan senyum tulus disana.
"Terimakasih juga untuk Mami saya yang selalu menjadi penyemangat saya".
Sekarang Hanbin menatap Ibu dan Anak dihadapannya yang akan menjadi masa depannya kelak.
"Dan tidak lupa saya juga Berterimakasih kepada Hao yang memperbolehkan saya untuk masuk kedalam kehidupannya dan juga Yujin".
Hanbin menampilkan senyumannya kearah Hao yang dibalas senyuman manis oleh Hao.
"Maksud kedatangan saya dan Mami saya ke hadapan Papa dan Mama serta saudara yang lainnya adalah untuk melaksanakan niat baik yang sudah lama saya dan Mami saya diskusikan".
"Layaknya semua orang yang menginginkan untuk memiliki hubungan yang saling mengikat dalam ikatan yang lebih serius dan ikatan yang sakral dihadapan Tuhan".
"Saya disini menginginkan untuk mengikat Hao seorang yang masuk dalam hidup saya, membuat saya merasakan apa itu sebuah kasih sayang dan cinta selain keluarga".
"Saya tahu jika saya masih memiliki banyak kekurangan yang ada pada diri saya, dan saya ingin melengkapo kekurangan saya dengan Hao".
"Saya ingin disetiap hari saya, saya dapat melihat Hao dihadapan saya dan menatap Hao dengan penuh cinta".
"Tak lupa juga saya ingin menjadi sosok Ayah yang dapat melengkapi Yujin dalam hari-hari jagoan kecil saya".
"Diluar dari tanggungjawab dari segala kejadian di hari lampau. Saya dengan yakin memilih Hao menjadi pendamping saya".
"Saya ingin mengikat Hao dengan segala hati saya dan segala hidup saya. Dengan ini saya ingin menanyakan dengan pasti kepada Hao".
Hanbin menatap hangat Hao dihadapannya, dengan yakin dirinya ingin mengikat Hao untuk bersama dirinya untuk selamanya.
"Hao". Panggil lembut Hanbin.
"Disini aku mau yakinin kamu bahwa aku mau kamu ada dihari-hariku. Aku mau mengikat kamu dengan pasti dan bukan main-main".
"Hao, maukah kamu jadi istriku?".
Hao yang mendengar rentetan kalimat yang diberikan Hanbin sedikit terkejut dan juga terharu dengan Hanbin. Mata Hao menjadi sembab tiba-tiba dan membuat Yujin disebelahnya memeluk kecil Bundanya.
Yujin memicingkan mata tajam ke arah sang Ayah. Dirinya bingung dengan perkataan panjang Ayahnya. Tapi yang dia ketahui Bundanya menangis akibat perkataan Ayahnya.
"Buna kenapa menangis?".
Yujin mengalihkan pandangannya ke arah Hanbin yang terkekeh. "Ayah jahat, Buna nangis gara-gara Ayah".
Teriakan kecil Yujin membuat orang dewasa yang berkumpul ikut terkekeh bersama. Yujin menatap bingung semua orang.
"Kenapa semuanya ketawain Ujin sih". Yujin memoutkan bibirnya sebal dengan orang-orang yang malah menertawakannya.
Hao mengelus kecil Yujin. "Yujin sayang, Bunda menangis karena bahagia. Jadi tidak apa ya sayang, Bunda baik-baik saja".
Yujin melunak, menatap lembut Bundanya. "Buna jangan sedih, ada Ujin disini bersama Buna".
Hao mencubit gemas anaknya sebelum beralih beranjak dari duduknya dan menatap lembut Hanbin.
"Sebelumnya terimakasih untuk niat baik Hanbin dan Mami yang datang kesini. Hao sayang berterimakasih juga karena dengan adanya Hanbin dalam hidup Hao, Hao merasa lebih utuh dalam segala hal".
"Secata tidak langsung, Hanbin mengisi kekosongn yang ada didalam kehidupan Hao dan juga Yujin. Hao sangat berterimakasih sekali".
"Hao juga tidak ingin egois dengan mengabaikan perasaan Hao dari Hanbin. Hao menyadari bahwa tanpa Hanbin, Hao merasa kurang".
"Setiap harinya Hao juga ingin Hanbin selalu ada dihari-hari Hao dan Yujin".
"Satu harapan dari Hao, Hao harap Hanbin menyayangi Yujin dengan tulus. Meskipun selama ini Hanbin juga sudah menunjukkan kasih sayangnya terhadap Yujin".
"Hao sangat bersyukur menemukan Hanbin dalam hidup Hao".
"Dan dengan yakin Hao menerima dan menyetujuin untuk menjadi istri Hanbin".
Semua orang yang berada disana tersenyum bahagia, akhirnya kedua insan manusia memilih untuk hidup bersama dalam ikatan yang baik.
Hanbin menyematkan cincin yang indah ke jari manis Hao yang menjadikan pertanda ikatan mereka menjadi satu. Dan sebaliknya Hao juga menyematkan cincin ke jari manis Hanbin.
Semua orang bahagia dan bersuka cita untuk hubungan baik Hao dan juga Hanbin. Semoga kedepannya hubungan baik ini selalu di berkati oleh Tuhan.
Helloowwww semua
Hehe kaget ga???
Maafin aku ya gak pernah up
Dan maaf kalau cerita ini kurang dari ekspetasi kalian
Enjoyyyy
See u di eps berikutnya entah kapan hehe
Bubayyyyy
KAMU SEDANG MEMBACA
Truth (BinHao x Yujin)
FanfictionYujin seorang anak kecil yang menginjak umur 5 tahun, yang menginginkan kasih sayang seorang Ayah. Dirinya iri melihat teman-temannya memiliki orang tua yang lengkap, dirinya juga menginginkan keluarga lengkapnya.
